Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2013

Yang Cantik Dari Indah (Sambungan)


Bagaimanapun, keputusan telah diambil dengan segala risikonya. Dan kedua orangtua Wiwid ternyata mendukung keputusan itu. Dengan sisa tabungan selama ia bekerja di pasar swalayan dan keuntungan yang disisihkan untuk modal mengembangan bisnis produk kemasan di Kebumen, ia terpaksa pulang-pergi Kebumen-Purwokerto dengan kereta api atau bis jarak pendek. Restu dan keterlibatan sang bunda dalam memproduksi kotak-kotak kemasan yang ia tekuni mulai mendapatkan pasar di tanah kelahiran. 

Keuletan dirinya melobi pemilik Jadi Baru Swalayan yang baru dua tahun beroperasi di Kebumen akhirnya membuahkan hasil. Ia mendapat sepetak ruang di lantai atas yang kemudian bertambah seiring dengan volume penjualan produk-produknya. Menurut penuturan Wiwid yang dikuatkan sang bunda, toko swalayan ini menerapkan sistem bagi hasil yang saling menguntungkan. Meski belum semua barang yang dititipkan laku terjual, pihak manajemen toko membayar penuh secara periodik. Kemudahan inilah yang medorong Wiwid berani mengutarakan niatnya untuk segera berumah tangga dan ikut suami hidup di Kota Kembang, Bandung.

Sepeninggal Wiwid, usahanya diteruskan sang bunda bersama suami dan adiknya yang masih siswa kelas 1 SMP. Bu Sapto mengambil alih semua, dari membeli bahan, produksi sampai pemasarannya. Ketika saya tahu hasil produksi mereka unik dan berkualitas, tanpa ragu ikut mendorong Indah untuk mengaplikasikan pelajar matematika yang didapat di  sekolah. Tak sampai sebulan, Indah (Vicky) mampu menghadirkan model baru berupa kemasan segi delapan yang selama ini baru berbentuk kotak atau persegi panjang.

Indah dan kedua orangtuanya telah membuat dan memasarkan 27 jenis (varian), Dengan tambahan satu dari segi delapan, Indah bermaksud membuat model-model baru yang lebih aplikatif. Semisal berbentuk hati atau silindrik (bulat). Kedua model ini memang masih diuji-coba produksi. Bahkan ketika saya sarankan ia membuat berbagai model produk kombinasi dengan limbah batang pisang (gedebog) kering serta pandan, ia sangat antusias. 


Mendorong semangat wirausaha untuk remaja seusia Indah memang memerlukan kiat khusus: 
  1. Harus mampu menyelami dunia remaja kekinian;
  2. Mengajak dengan cara dan gaya bahasa mereka;
  3. Memberi contoh sesuai logika yang ia miliki;
  4. Mendorong kreatifitas tanpa penekanan target volume dan nilai transaksi;
  5. Tetap mengutamakan kegiatan belajar mengajar (sekolah)

Vicky Indah adalah potensi sumber daya manusia masa depan bagi diri, lingkungan dan masyarakatnya. Peran utama orang-orang dewasa di sekitarnya adalah  menyediakan ruang dan suasana kondusif. Jika di lingkungan itu ada beberapa orang seperti Indah, jangan biarkan mereka berkembang tanpa arah dan tujuan yang jelas. Merekalah tunas-tunas muda yang akan menentukan masa depan bangsa Indonesia. Semoga      

Kamis, 18 April 2013

Wayang Kardus Ki Slamet Esser


Wayang sebagai ekspresi budaya masyarakat, memiliki beragam penampilan. Dari yang tertua (wayang purwa)  yang direkayasa oleh Sunan Kalijaga dari mitos Hindustan sampai Wayang Mikael karya seniman lukis dan teater Kaji Habeb (UIN Jogja) pada dasarnya berfungsi sebagai media komunikasi,  pencerahan (dakwah) dan hiburan. Banyak cara dilakukan oleh sang dalang dalam mengoptimalkan fungsi wayang. Misalnya dengan memasukkan unsur pentatonik, tata lampu, komedi dan sebagainya.

Wayang Kartun

Seperti dalam  wayang improvisasi pada umumnya, Wayang Kartun kreasi Ki Slamet Eser memiliki ide cerita yang bersumber pada realitas kehidupan di lingkungan sekitarnya. Mengambil bentuk kartun, ia memunculkan dua tokoh sentral : Panjul dan Prentul. Panjul adalah sosok manusia kudisan, bodoh dan selalu menjadi bahan cemooh orang-orang di sekelilingnya.  Punya semangat juang tinggi tapi hidup dalam himpitan kemiskinan ekonomi. Singkatnya, Panjul adalah personifikasi pribadi Ki Slamet Eser.
Tokoh Utama: Panjul, Prenthul dan Sri Nyolowadi

Panembrama

 Gaya mendalang

Sosok lain yang menjadi tokoh sentral Prentul. Ada dua versi pendapat yang dimunculkan sang dalang. Pertama, menggambarkan sosok birokrat di lingkungan kebudayaan yang perlente, berpenampilan ala seniman tapi selalu berbicara layaknya pejabat yang selalu mengaitkan kegiatan apresiasi budaya dengan keterbatasan anggaran dan segala fasilitas pemerintah. Dalam hal ini, sosok Prentul diposisikan sebagai tokoh antagonis. Versi kedua, Prentul selaku kurator. Pada pentas perdana di ajang Gelar Panggung Teater I – 9 Januari 2009 di Gedung PGRI Kebumen Jawa Tengah, kedua sosok ditampilkan secara bergantian tanpa batasan yang jelas.
Satu lagi bentuk energi besar Ki Slamet Eser adalah kegigihan membangun komunitas budaya   “Guyub Larak” yang hampir setiap saat akan tampil di suatu event kesenian selalu berganti personal. Entah bagaimana caranya, ia selalu mendapatkan darah baru dari beragam kalangan. Pelukis, pengamen jalanan dan tukang parkir. Ada juga sosok mahasiswi yang kemudian diangkat sebagai tokoh Sri Nyolowadi, pendendang lagu-lagu campursari yang digandrungi oleh komunitas lokal.
Sebagai seniman potensial, energi berkesenian Ki Slamet Eser sangat luar biasa. Karena keluar-biasaannya, banyak orang yang menghindar darinya karena beragam alasan. Ada yang menilai ide-idenya sangat “ liar “. Karena itu sangat sulit diikuti arah tujuannya. Ada juga yang melihat penampilan keseharian yang kumuh, suka memaksakan kehendak di balik “sosok memelas” dan beragam penolakan yang menyebabkan dirinya sering terjerembab dalam kesendirian.
Apapaun penilaian orang, Ki Slamet Eser tetap berjalan dengan langkah dan logika yang dipahaminya. Seperti kebanyakan seniman eksentrik, ia terus mengeksplorasi energi berkesenian dalam tubuhnya. Seolah tak peduli dengan sikap dan omongan orang di sekitarnya, apapun yang terjadi, the show must go on.   

Kolaborasi    

 Pernah dimuat  di sini

Selasa, 16 April 2013

Kartini Update Jaman Ekonomi Kreatif: Sosok Irma Suryanti



Sebagian besar orang mungkin punya penilaian bahwa penyandang cacat adalah orang-orang yang selalu terpinggirkan, peminta-minta, pelengkap kehidupan maupun hal-hal yang serba kurang mengenakkan yang didapatkan. Hal itulah yang selama ini dilihat dalam keseharian. Biasanya, begitu melihat seorang penyandang cacat sikap kita jadi iba. Mereka adalah kaum yang layak dikasihani. Setidaknya itu yang kita lihat di berbagai papan pengumuman di fasilitas umum semisal kereta api. Mereka harus diberi perlakuan khusus! Itulah intinya. Karena itu, jika ada penyandang cacat yang sukses besar itu mungkin hanya sebuah cerita di negeri dongeng.
Kerangka berpikir umum semacam itu memang telah berlangsung dari waktu ke waktu dan menjadi maklum. Tapi tidak buat seorang perempuan penyandang cacat tubuh karena menderita polio sejak usia balita. Dialah Irma Suryanti, seorang perajin kain perca yang meraih sukses bagi banyak orang. Terutama para penyandang cacat, mantan buruh migran (TKI/TKW) dan orang-orang yang dikategorikan sebagai penyandang masalah sosial (PSK, waria dsb). Sekitar 1.000 orang dari mereka ada beberapa yang telah mampu mandiri dan mengembangkan kegiatan ekonomi kreatifnya. Juga 10.000 lebih orang normal secara  fisik di berbagai kabupaten/kota se Indonesia mendapat bimbingan teknis di bidang usaha sejenis maupun sebagai sub kontraktor. Irma dan teman-teman bergabung dalam Mutiara Handicraft ini, dengan visi dan misi yang sangat unik. Dari tempat tinggalnya di Desa Karangsari Kecamatan Buayan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah Indonesia.

Nasihat yang biasa Irma berikan kepada orang-orang yang mendapat bimbingannya adalah: mulai dari hal sederhana. Berdasarkan pengalaman pribadi, dengan mengubah limbah pabrik menjadi produk yang bernilai jual tinggi, sungguh sangat tepat untuk sebuah impian memulai usaha yang nyaris tanpa modal. Hanya butuh keuletan, keteladanan, keahlian, serta inovasi saja. Itulah sederet kalimat yang dilontarkan Irma ketika memberi motivasi bagi warga binaan. Sederhana dalam berpikir nampaknya mudah diucapkan, tapi sangat sulit diwujudkan. Karena ada semacam keyakinan umum bahwa menjalankan sebuah kegiatan bisnis perlu bermodal cukup atau besar.

Kesederhanaan berpikir tidak berarti sama dengan jadoel oriented atau berorientasi ke masa lalu. Seorang inovator biasa menggunakan kerangka berpikir sederhana dalam menghasilkan produk maupun jasa yang berkesan rumit dan luar biasa karena melangkahi masanya. Bill Gates misalnya, mengembangkan konsep aplikasi piranti lunaknya dari hobi bermain bridge. Demikian juga dengan Irma yang menciptakan model-model produknya dari beragam permainan anak dan hal-hal sederhana yang ada di lingkungan sekitarnya. Ia mengubah citra kesed yang selama ini berbentuk kotak menjadi beragam bentuk lucu dan unik. Dari yang semula untuk alas penyaring kotoran sepatu serta alas kaki lainnya, kini tampil sebagai bahan-bahan dekoratif dan fungsional.
“Ini pekerjaan yang sangat mudah ibu-ibu. Siapapun bisa. Kita hanya butuh ketelatenan saja.” Ujar Irma yang sudah keluar masuk perguruan tinggi untuk memberikan motivasi dan pembelajaran. Menurut dia, setelah dari Unsoed ini, ia juga akan melakukan hal yang sama di Institut Teknologi Bandung (ITB).


Irma Suyanti merupakan sosok wanita penyandang cacat yang mampu melawan  keterbatasan diri, ketidakadilan, pencibiran maupun pelecehan yang selama ini disandangkan kepada sesamanya. Sejak tahun 1999, selepas menikah dengan Agus Priyanto (seorang penyandang cacat juga), ia berusaha untuk melawan keterbatasannya melalui usaha mandiri yang bermanfaat. Lambat-laun ia mampu membuktikan bahwa produk yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan pasar baik di dalam maupun luar negeri.
Atas prestasi yang diraih dengan kesungguhan, sederhana, ulet dan optimis Irma Suryanti mendapatkan sejumlah penghargaan. Diantaranya Wirausahawati Muda Teladan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (2007), Perempuan Berprestasi 2008 dari Bupati Kebumen (2008), dan Penghargaan dari Jaiki Jepang, khusus untuk orang cacat. Dan yang terakhir adalah penghargaan dari SCTV Award 2012.  Mengubah sesuatu hal biasa menjadi luar biasa adalah pekerjaan atau kebiasaan orang kreatif. Dan Irma layak dinobatkan sebagai Kartini Update di Jaman Ekonomi Kreatif.

Saat menerima penghargaan dari Mepora Adiyaksa Dault

sederhana, ulet, teladan...

Selasa, 09 April 2013

Kampoengkoe Kreatif Forum

Menggagas Konsep

kkF adalah kependekan dari kampoengkoe kreatif Forum. Satu forum informal yang dimaksudkan untuk mengawali langkah menuju terbentuknya wadah bagi perorangan, komunitas kreatif dan badan2 usaha yang peduli serta memiliki visi sama dalam membangun kekuatan ekonomi/industri kreatif warga. Atau kelompok-kelompok kegiatan masyarakat di Kabupaten Kebumen berbasis aktivitas kreatif. Menurut pengertian yang dikeluarkan oleh pemerintah (c.q Kementrian Perdagangan), ekonomi atau industri kreatif adalah sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Ada 14 sub sektor kegiatan ekonomi berbasis aktivitas kreatif :
1.      periklanan;
2.      arsitektur;
3.      pasar barang seni;
4.      kerajinan;
5.      desain;
6.      fesyen;
7.      video, film dan fotografi;
8.      permainan interaktif;
9.      musik;
10.  seni pertunjukan;
11.  penerbitan dan percetakan;
12.  layanan komputer dan peranti lunak;
13.  televisi dan radio; serta
14.  riset dan pengembangan.
Satu sub sektor yang masih dalam kajian intensif dan segera menyusul yaitu kuliner.

MAKSUD & TUJUAN PENDIRIAN kkF

Sebagai rintisan menuju satu wadah komunitas kreatif, kkF berupaya untuk:
1.      Menjadi wadah penguatan masyarakat madani (civil society) yang mandiri (independent) dan tidak terafiliasi baik langsung atau tidak langsung dengan Organisasi Massa atau Partai Politik manapun, baik ditingkat lokal atau nasional.
2.      Menjadi forum komunikasi, koordinasi dan usaha bagi perseorangan atau badan usaha atau komunitas kreatif di Kebumen.
3.      Menjadi forum bersama untuk memberikan daya tawar lebih besar dalam penguatan ekonomi bagi para anggota, pelaku ekonomi/industri kreatif dan Kab, Kebumen sekitarnya.
4.      Menambah daya dorong pengembangan dan pemberdayaan potensi kreatif warga Kab. Kebumen.
5.      Memperkenalkan Kab. Kebumen sebagai Kota Kreatif, baik di tingkat nasional maupun internasional,
6.      Menjalin kerjasama baik ditingkat Nasional atau Internasional untuk kepentingan pengembangan dan pembangunan ekonomi/industri kreatif di Kab. Kebumen.
7.      Mengembangkan kreatifitas sebagai upaya untuk pemberdayaan ekonomi dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat sipil, kelestarian ekosistem dan penghargaan terhadap keaneka-ragaman budaya.
(diadopsi dari BCCF/ Bandung Creative City Forum)

Anatomi Sederhana Potensi Ekonomi Kreatif
Di Kabupaten Kebumen :

  1. Kuliner : pusat produksi jajanan Gg. Pudak (Keposan) Kel. Kebumen dan Desa Muktisari (pembuat roti/kue) serta komunitas produsen lanthing di Desa Pohkumbang Kec. Karanganyar dll;
  2. Periklanan : komunitas penyablon dan pembuat media luar ruang, Puspita Warna dll;
  3. Kerajinan : cluster kerajinan anyaman pandan di Kecamatan Karanganyar dsk; dan kelompok perajin anyaman bambu di  Kecamatan Petanahan (dikordinasi: Hanito Kreasindo/ Hipando Pusat);
  4. Video, film dan fotografi: ASA, Anto Jadul, Brantasena dll;
  5. Seni Pertunjukan : FoPSeT/Sanggar Ilir dll;
  6. Televisi dan radio: PRSSNI Kebumen, Ratih TV dll;
  7. Layanan komputer dan peranti lunak: ??
  8. Fesyen (segala varian baju dan celana), tas dll.

Jika anatomi sederhana di atas representatif, maka LUKFEST 2013/2014 mungkin dapat menjadi ajang pertama munculnya potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Kebumen. LUKFEST atau Luk Ulo Festival adalah perwujudan kesepakatan dari semua anggota kkF dalam sebuah ajang festival. Luk Ulo bukan sekadar bentuk wadag sungai yang ada di Kabupaten Kebumen. Ia punya makna dan daya gerak. 

Senin, 08 April 2013

Helarfest 2012 - Lightchestra


Helar Fest adalah gelaran Bandung Creative City Forum (BCCF). Tahun 2010, HelarFest diselenggarakan ke 3 kalinya di Babakan Siliwangi, satu-satunya hutan kota yang tersisa di kota Bandung. Ditandai pelepasan tupai oleh para pegiat BCCF dan Walikota, festival yang bertajuk Ligh Orchestra menampilkan beragam atraksi: laser, multi media dan pagelaran musik. Inilah sebagian diantara aktivitas kreatif dari BCCF itu.



Jumat, 05 April 2013

Bandung Creative City Forum (BCCF)



Bandung kota kreatif bukan hanya slogan dan baru dirintis. Sejak dulu, Kota Kembang yang sering disebut juga sebagai Paris van Java telah menunjukkan beragam aktivitas kreatif warganya. Di era 1980-an, jauh waktu sebelum ekonomi/ idustri kreatif digagas, Bandung sudah punya Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) dengan alm. Harry Rusli sebagai motornya dari rumahnya di Jl. Supratman sebagai markas besar. Dari grup musik eksperimental ini muncul satu single hit berjudul Nyamuk Malaria. Sementara itu, di ujung jalan itu ada beragam jenis kuliner khas yang menjadikan daerah Supratman Ujung sebagai pusat jajanan khas Bandung. Musik, seni pertunjukan dan kuliner adalah pilar ekonomi kreatif yang tengah menjadi trend baru ekonomi di banyak Negara.

Bandung Ibukota Kreativitas?

Reputasi Bandung sebagai destinasi wisata, lokasi perguruan tinggi terkemuka, pusat mode dan busana, serta kota yang melahirkan beragam band/kelompok musik progresif, telah berdampak pada tumbuhnya industri kreatif yang didukung oleh ketersediaan beragam sumber daya. Bandung jadi Ibukota Kreatif?
APA sih yang kurang dari Kota Bandung sebagai kota kreatif? Rasanya semua persyaratan untuk menjadi kota kreatif sudah dimilki Bandung. Sebut saja, hampir seluruh profesi kreatif bisa ditemukan di Bandung, sejak profesi yang high profil seperti arsitektur, clothing dan distro, pembuat program komputer, animator, hingga pemBuat film dan musik. Belum lagi iklim yang mendukung, dengan banyaknya pagelaran dan hajatan kreatif yang digelar dan sepanjang tahun. Untuk yang terakhir ini, para pegiat kreatif  Bandung sudah dua kali menggelar hajatan Helarfest, tahun 2008 dan 2009. Tahun 2010, ada Semarak.bdg yang digelar di sekitar kawasan Braga. Belum lagi gelaran seperti Bandung World Jazz Festival, dan Pasar Seni ITB. 

Situs Departemen Perdagangan menginformasikan industri kreatif menyumbang rata-rata 6,3% terhadap produk domestik bruto Indonesia selama periode 2002-2006. Suatu jumlah yang tidak main-main karena pada 2010, target kontribusi meningkat menjadi 7,9%. Setelah kekayaan sumber daya alam tidak lagi dapat menjadi penopang perekonomian nasional, ditambah sulitnya produk sektor usaha berbasis sumber daya alam lainnya bersaing dengan negara lain karena kalah kompetitif, maka masa depan Indonesia mungkin hanya bisa diselamatkan melalui ekonomi kreatif yang berbasis kekuatan ‘human capital’ yang kreatif dan inovatif.


Lantas, dari angka kontribusi 7,9 % ini, seberapa besar yang disumbang Bandung? Meski tidak tersedia data yang cukup memadai, namun diyakini Bandung berkontribusi dominan. Terlebih, karena para pegiat di Bandung juga sudah memiliki kesadaran untuk beserikat dan berorganisasi dalam payung Bandung Creative City Forum atau BCCF.
Bandung Creative City Forum (BCCF) yang berdiri sejak tahun 2008, beranggotakan para pegiat kreatif dari beragam latar belakang profesi antara lain arsitek, desainer, pekerja seni, pekerja musik, akademisi, praktisi & pekerja TI, pelaku usaha pariwisata, dan jurnalis.  Seluruh kegiatan BCCF bersifat nirlaba dan diperuntukan sepenuhnya untuk pengembangan kota Bandung dalam bidang dan karya kreatif. BBCF juga merupakan mitra strategis Pemerintah Kota Bandung dalam membawa Bandung sebagai kota kreatif dengan kompetensi internasional di benua Asia.

Tujuan untuk menjadikan Bandung sebagai ibukota kreatini bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Semangat ini, tentu tak boleh hanya menjadi monopoli BCCF, juga harus juga dimiliki oleh para pemangku kepentingan yang lain, diantaranya Pemerintah kota, pelaku usaha, dan tentu saja masyarakat. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana mewujudkan asa menjadikan Bandung sebagai ibukota kreatif? Darimana upaya ini harus dimulai? Pembuatan regulasi yang mendukung dan mempermudah terciptanya iklim dan kondisi kreatif bisa menjadi langkah awal. Upaya ini kemudian harus diikuti oleh penyediaan berbagai saran dan infrastruktur pendukung yang memungkinkin aktifitas dan kegiatan kreatif tumbuh subur. Langkah ketiga adalah dengan mengedukasi warga, agar senantiasa memiliki kerangka berfikir kreatif dalam setiap aktifitas keseharian. Kreatifitas harus dipahami sebagai sebuah communal behaviour serta tidak berumah di awan, yang hanya bisa dijalankan dan dipraktekan oleh para pegiat kreatif. Dengan cara ini Kreatifitas diharapkan menjadi kebiasan dalam praktek dan aktifitas masyarakat.

Agar kegiatan dan aktifitas kreatif berdampak pada aktifitas ekonomi, perlu juga dipikirkan kehadiran dan akses pasar, sehingga produk-produk kreatif memiliki nilai ekonomi yang sebanding dengan upaya penciptaannya. Dalam hal ini, promosi dan pemasaran memegang peranan penting. Selama ini, para pegiat kreatif berjibaku dan berinovasi secara mandiri dalam kegiatan promosi dan pemasaran produk mereka. Tak hanya memikirkan inovasi produk, para pegiat kretaif juga dituntut kreatif dalam memasarkannya. Tak hanya di pasar lokal juga di mancanegara. Bahkan tanpa dukungan pemerintah pun, beberapa karya dan inovasi kreatif para pelaku industri kreatif sudah mampu menembuh pasar global.
Jadi, tunggu apa lagi. Ayo kita wujudkan Bandung sebagai Ibu kota kreatif tak hanya untuk Indonesia, juga di kawasan Asia.


Itulah segmen yang dikupas dalam BCCF Magz (majalah yang diterbitkan oleh BCCF) edisi Agustus 2012 dalam tajuk Bandung Ibukota Kreativitas! Geliat aktivitas kreatif warga Bandung seolah tak pernah berhenti dan kehabisan ide. Apalagi setelah ditetapkan sebagai pilot proyek Kota Kreatif di Asia Timur tahun 2008, proses kreatif warga Bandung semakin bergairah dan menyebar di seluruh penjuru. Jika di awal pertumbuhannya, pusat jeans Bandung ada di sekitar Jl. Tamim, kini telah menyebar ke Cihampelas, Cigolewah dan sebagainya. Begitu juga di sub sektor industri musik, lahir grup-grup baru dari berbagai aliran. Seolah-olah, kota ini harus mengungguli Jakarta dan Surabaya. Berbagai pagelaran musik berskala nasional maupun internasional di gelar di kota kembang ini. Tidak mengherankan jika Bandung menyebut dirinya sebagai Ibukota Kreativitas!.

Rasa hormat dan penghargaan tinggi memang layak diterima oleh BCCF sebagai media komunikasi dan tempat berkumpulnya berbagai komunitas kreatif kota Bandung dan sekitarnya. Semua sub sektor industri kreatif  yang diidentifikasi Kementrian Perdagangan (14) plus kuliner merapat dan menjadi bagian aktif forum ini.  BCCF berperan sangat besar dalam menjembatani kepentingan semua komunitas kreatif di Bandung dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders). Karena didalamnya ada komunitas perguruan tinggi yang dimotori oleh ITB terutama FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) serta Sekolah Bisnis ITB. Komunitas jalanan dan death metal yang biasanya tertutup, ternyata masuk di dalamnya.
BCCF bukan sekadar wadah komunitas kreatif yang berbadan hukum. Tapi banyak kajian ilmiah yang berkait dengan pengembangan sub-sub sektor ekonomi kreatif difasilitasi dan jadi keputusan politik dalam membuka dan menata ruang-ruang publik seperti taman kota, halte bus dan lain-lain. Sehingga fanatisme warga Bandung  kepada forum ini dinyatakan dalam beragam bentuk. Dari perkumpulan penggemar sepeda, lahir bisnis baru penyewaan sepeda di waktu-waktu tertentu. Belum yang terbilang prestisius semacam HelarFest yang telah berlangsung sejak 2008. Perkumpulan Komunitas Kreatif Kota Bandung yang lebih dikenal dengan Bandung Creative City Forum (“BCCF”) adalah organisasi lintas komunitas kreatif yang dideklarasikan dan didirikan oleh Perseorangan, Wirausaha Kreatif, Lembaga Nirlaba dan Komunitas di Kota Bandung pada tanggal 21 Desember 2008. BCCF sendiri pada awalnya adalah sebuah forum komunikasi informal untuk koordinasi dan komunikasi diantara komunitas kreatif di Bandung dalam rangka untuk menyelenggarakan kegiatan Helar Festival 2008 (“Helarfest 2008”)
Sebagai organisasi resmi, BCCF mempunyai maksud dan tujuan pada saat didirikannya BCCF sebagaimana tertuang di dalam Anggaran Dasar Pendirian BCCF, yaitu sebagai berikut:
1.      Menjadi wadah penguatan masyarakat madani (civil society) yang mandiri (independent) dan tidak terafiliasi baik langsung atau tidak langsung dengan Organisasi Masa atau Partai Politik manapun, baik ditingkat lokal atau nasional.
2.      Menjadi forum komunikasi, koordinasi dan usaha bagi perseorangan atau badan usaha atau komunitas kreatif di Bandung.
3.      Menjadi forum bersama untuk memberikan daya tawar lebih besar dalam penguatan ekonomi bagi para anggota, pelaku ekonomi/industri kreatif dan kota Bandung sekitarnya.
4.      Menambah daya dorong pengembangan dan pemberdayaan potensi kreatif warga Bandung dan sekitarnya.
5.      Memperkenalkan Bandung sebagai Kota Kreatif terdepan, baik di tingkat nasional, regional dan internasional.
6.      Menjalin kerjasama baik ditingkat Nasional atau Internasional untuk kepentingan pengembangan dan pembangunan ekonomi/industri kreatif di Bandung.
7.      Mengembangkan kreatifitas sebagai upaya untuk pemberdayaan ekonomi dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat sipil, kelestarian ekosistem dan penghargaan terhadap keaneka-ragaman budaya.


Sebagai organisasi lintas komunitas kreatif, BCCF ini didirikan oleh sebagian besar adalah orang-orang atau komunitas kreatif yang ada di kota Bandung atau yang bidang pekerjaan atau aktifitasnya bersinggungan sangat erat dengan dunia kreatifitas dan  inovasi. Para pendiri dan anggota BCCF di awal pembentukan: BDA+Design, Urbane, Adiwilaga & Co, Pixel People Project, LABO the Mori, Mahanagari, Sembilan Matahari,
Death Rock Star, Tegep Boots, Invictus, Common Room Foundation, Bandung Arsitektur Family (BAF), Bikers Brotherhood, KICK, Komunitas Sunda Underground, Bandung Death Metal Sindikat, Solidaritas Independen Bandung, Ujung Berung Rebel, Jendela Ide, Republic Entertainment, Saung Angklung Udjo, Pusat Studi Urban Desain (PSUD), SAPPK ITB, Seni Rupa ITB, PSDP ITB, Eco- Ethno, Galeri Seni Bandung, Open Labs dan sebagainya.
Pasca Helarfest 2009, muncul beberapa nama baru  seperti Komunitas Air Fotografi, Komunitas Origami Indonesia, Komunitas GANFFEST, INDDES ITB, Angklung Web Institute (AWI), Komunitas Picu Pacu, Komunitas Mahasiswa Seni Rupa ITB, Bandung Flower Day, Bandung Affairs dan sebagainya.

Selasa, 02 April 2013

Selamat Datang Era Ekonomi Kreatif Semoga Membawa Kejayaan Bagi Bangsa Indonesia



Itulah sederet kata yang ada dalam tulisan Eddy Cahyono Sugiarto, Asisten SKP Bidang Ekonomi dan Pembangunan di situs resmi Sekretariat Kabinet RI  (http://www.setkab.go.id/ artikel-6693-.html ). Mengingat  peran ekonomi kreatif yang semakin meningkat bagi perekonomian suatu wilayah. Utamanya terhadap pengembangan ekonomi berbasis UMKM (Usaha Menengah, Kecil dan Mikro), maka tidaklah berlebihan bila  semakin banyak kota yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai ujung tombak  dan katalisator pengembangan ekonomi daerahnya.   Untuk menjadi pemenang di tengah persaingan yang semakin ketat, menurut Florida (The Rise of Creative Class), kota-kota, daerah dan provinsi harus lebih menumbuhkan "iklim orang-orang." Yang dimotori  oleh kaum muda, dengan  semangat inovasi dan kreatifitas, memoles sesuatu yang “biasa”  menjadi “luar biasa”.

Kontribusi sektor ekonomi kreatif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2010 mencapai Rp 472,8 triliun dan mampu menyerap 11,49 juta tenaga kerja dan  2011 naik menjadi Rp 526 triliun dengan serapan 11,51 juta tenaga kerja. Tahun ini (2013-pen) angka itu ditargetkan terdongkrak menjadi Rp573,4 triliun dengan serapan 11,57 juta tenaga kerja. Pengembangan ekonomi kreatif  akan sangat berperan dalam mengembangkan job creation, mengingat besarnya potensi ekonomi kreatif yang dimiliki Indonesia. Dengan lebih dari 300 suku bangsa. Dari sisi demografi penduduk usia muda yang mencapai 43% menjadi modal plus yang kita miliki, karena kreatifitas sangat dekat dengan kaum muda. Pengembangan ekonomi kreatif juga akan  berdampak langsung  bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah,  mengingat sektor ekonomi kreatif,  sebagian besar digerakkan oleh pelaku UMKM  dan  sangat potensial menjadi kekuatan dashyat untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju


Dua alinea di atas sengaja saya hadirkan relatif penuh untuk mengawali pembahasan Bagian II dari tulisan sebelumnya:  OVOP dan Ekonomi Kreatif. Dengan tetap menyandingkan dua konsep dasar pengembangan/ pembangunan SDM yang tengah menjadi trend di negara-negara maju di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global, diharapkan membuka cakrawala pandang yang lebih segar dan konstruktif atas kerangka berpikir ortodoks yang dipraktikkan oleh penyelenggara pendidikan formal dewasa ini. Kesengajaan tidak menghadirkan angka agar kesan subyektif lebih ditonjolkan ketimbang yang obyektif. Selain menyangkut masalah selera, juga dimaksudkan untuk menghindari upaya copas (copy – paste atau klik kanan) yang tidak menggugah sel-sel syarat di otak kanan manusia. Karena pada sisi ini, potensi kreatif manusia dapat diangkat dan dikembangkan secara optimal.

Daya cipta adalah anugerah terbesar yang diterima oleh manusia dari Sang Maha Pencipta. Dalam konteks budaya, daya cipta perlu dibarengi dengan karsa agar mampu menghadirkan karya-karya yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup diri dan manusia lainnya. Semakin terbuka cakrawala pandang seseorang atas isi dunia ini, semakin luas jangkauan tangannya untuk meraih hal-hal luar biasa. Jika sebelumnya ia hanya mampu meraih sesuatu yang ada di sekitar dirinya, dengan meluasnya daya jangkau pandangan yang mampu dilihatnya, ada kecenderungan untuk meraih keluar-biasaan itu. Itulah yang dirasakan oleh Gubernur Oita ketika menggagas konsep OVOP. Begitu juga dengan Bill Gates dengan Microsofnya. Atau yang lebih sederhana adalah kota Bangkok dengan kemasan paket wisata Chao Praya River dan sebagainya.

Chao Praya River
Pada tulisan sebelumnya, ada dua kategori faktor penghambat bagi pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Yaitu yang berkaitan dengan masalah orientasi atau menghadirkan iklim kondusif yang tidak semua pengambil kebijakan publik di daerah-daerah mampu menghadirkannya secara efektif dan konsisten karena bias kepentingan. Kategori kedua yakni masalah apresiasi yang saya sebut dengan istilah masalah budaya. Kedua kendala ini tidak dapat dipecahkan secara parsial, harus komprehensif dan diprogram serta melibatkan secara langsung orang-orang kreatif di dalamnya.

Dari pengalaman pribadi, ketika menggagas dan mengusulkan Festival Luk Ulo 2012 sebagai pengembangan kegiatan Lomba Mancing di Sungai Luk Ulo, ada kesan kuat bahwa Kabupaten Kebumen belum siap menghadapi era ekonomi baru yang kini popular dengan sebutan ekonomi kreatif. Kesan ini saya perolah dari “sepinya” tanggapan, baik semua tingkat pemerintahan : lurah sampai bupati. Atau lembaga yang berkompeten, terutama Dinas Pariwisata dan Budaya, meski proposal telah diserahkan ke Bappeda dan dipublikasikan melalui jejaring sosial facebook, twitter dan blog jauh waktu sebelum rencana pelaksanaan. Tapi, mungkin juga karena lobby yang kurang kuat dibanding kegiatan pencatatan rekor MURI atas kerajinan anyaman yang mengundang massa sangat banyak dan dihadiri oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM meski sampai sekarang masih menyisakan masalah dengan kelompok perajin. Atau faktor lain yang tidak saya ketahui dan Lomba Mancing di Sungai Luk Ulo 2012 tetap terlaksana meriah (beberapa anggota panitia sempat gelisah ketika saya mengambil foto lokasi sebelum jam pelaksanaan).
Rakit di Sungai Luk Ulo
Terlepas dari pengalaman pribadi di atas, saya ingin menyoroti Festival Seni ARTE 2013 yang spektakuler. Perpaduan dinamis antara unsur klasik dan modern di tempat dan waktu yang tepat: Jakarta Convention Center, 27 – 31 Maret 2013 lalu. Dari berbagai publikasi foto dan berita yang bisa saya kumpulkan, tidak muncul jumlah pengunjung dan nilai transaksi yang dibukukan dalam kegiatan itu. Yang menarik dari kegiatan ini adalah penyelenggara yang didominasi oleh kaum muda dan keputusan untuk membebaskan pengunjung dari HTM (harga tanda masuk) alias free entry atau gratis. Bagi orang awam seperti saya, keputusan menggratiskan tanda masuk ke arena festival adalah satu diantara banyak nilai plus festival seni itu. JCC adalah prestis, meski bukan satu-satunya arena pameran bergengsi di Jakarta.

Mengatasi tantangan,  menerjemahkan komitmen

Besarnya potensi pengembangan ekonomi kreatif yang dimiliki Indonesia,  dengan karunia Tuhan akan kekayaan  dan keragam-an  budaya, keindahan geografis wilayah serta  sumber daya manusia kaum muda yang indentik dengan  dunia kreatif, perlu ditransformasikan menjadikan kekuatan  ekonomi baru yang peningkatan  daya saing dan nilai tambah ekonomi sehingga  dapat berkonstribusi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat sebagaimana cita-cita didirikannya suatu negara. Oleh karena itu,  diperlukan adanya sinergitas dari semua pemangku kepentingan, dalam mengatasi berbagai tantangan yang berpotensi menjadi bottleneck  pengembangan ekonomi kreatif, utamanya    dalam membangun akselerasi sinergitas dalam meningkatkan  kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) kreatif.  Karena mayoritas SDM yang menyokong  ekonomi kreatif  Indonesia sebagian besar belajar secara otodidak . Di samping itu, perlindungan HAKI yang  kita miliki juga masih jauh dari harapan. Infrastruktur teknologi informasi belum kompetitif dan dukungan pembiayaan dari perbankan yang belum optimal, disamping penetrasi pasar yang lemah  karena adapsi teknologi informasi melalui online marketing belum membudaya.

Bercermin dari beberapa bottleneck   yang diidentifikasikan di atas, seyogyanya Kementrian/Lembaga di pusat dan daerah  sebagai perumus kebijakan ekonomi kreatif diharapkan dapat memfasilitasi, memotivasi dan menginspirasi pengembangan ekonomi kreatif dalam bentuk rencana aksi yang kongkrit dan terukur. Dengan menjadikan ekonomi kreatif sebagai bisnis masa depan yang menjanjikan, memfasilitasi promosi dan mengintensifkan bantuan modal usaha. Kalangan bisnis diharapkan dapat mengoptimalkan  self development, mengembangkan kapasitas usaha melalui sistem lokomotif – gerbong, dari pengusaha besar ke pengusaha kecil. Dan tak kalah pentingnya adalah dukungan cendekiawan melalui pengembangan penetrasi pasar dengan pemanfaatan online  marketing. Di samping berbagai terobosan lain, berpikir out of the  box,  menciptakan  linkage atau konektivitas ekonomi kreatif dengan pariwisata,  sebagai venue untuk proses produksi, distribusi sekaligus pemasarannya. 
Rekomendasi Asisten SKP Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Eddy C. Sugiarto, ini sudah lebih dari cukup untuk mengambil langkah tepat  bagi daerah (pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota) dalam menetapkan kebijakan pembangunan ekonomi wilayahnya berbasis ekonomi kreatif. Alasan klasik keterbatasan anggaran tak perlu lagi jadi “kambing hitam” karena ada program Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai BUMN maupun perusahaan nasional, KUR, PPK, PNPM dan sebagainya. Sepanjang ada komitmen yang jelas dan tegas, bukan hanya kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo dan Denpasar saja yang mampu mengaplikasikan konsep pembangunan kewilayahan ini. Kota/ Kabupaten kecil seperti Kebumen justru dapat mengambil keuntungan maksimal dari peluang memajukan pembangunan ekonomi dengan pendekatan aktual ini. Apalagi jika dipadukan dengan konsep OVOP.

Sekadar gambaran kasar, perpaduan dua konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis aktivitas dalam rerangka ekonomi kreatif dan OVOP di Kabupaten Kebumen selain kerajinan anyaman pandan dapat juga dilakukan pada sentra industri kuliner lanthing sebagai jajanan khas. Keduanya berlokasi di Kecamatan Karanganyar dan secara sosiologis masyarakatnya cukup terbuka jika dibandingkan dengan kota Kebumen. Tetapkan wilayah ini sebagai basis pembangunan ekonomi dan jadikan wilayahnya sebagai “ajang adu prestasi” bagi para calon pemimpin wilayah.  Dalam banyak hal, Karanganyar lebih memenuhi syarat kualitatif dibanding 25 kecamatan lain. Tidak yakin ? Silakan kaji secara ilmiah, kalau perlu mendatangkan peneliti dari UGM, UI, ITB dan IPB. Lebih afdol jika melibatkan organisasi profesi semacam Hipando dsb. Dan bentangkan baliho raksasa: “Selamat Datang Ekonomi Kreatif dan OVOP di Kabupaten Kebumen”. Semoga membawa kejayaan bagi masyarakat Beriman. Amien 3x ya robbal ‘alamin. 

Sabtu, 30 Maret 2013

OVOP & EKONOMI KREATIF


Ada dua gagasan dasar yang memiliki keserupaan dalam upaya mengembangkan potensi ekonomi masyarakat yakni OVOP dan Ekonomi Kreatif. Beberapa tulisan sebelumnya telah dibahas tentang OVOP. Kini giliran untuk mengupas faktor yang mempengaruhi pilihan kebijakan pembangunan kewilayahan yaitu ekonomi kreatif (Creative Economy) atau sering disebut juga dengan istilah Creative Industry). Kedua istilah  creative economy atau industry saya anggap sama maknanya.

Definisi ekonomi kreatif menurut Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekref) yaitu industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Berdasar batasan ini jelas sekali orientasi ekonomi kreatif adalah individual, SDM kreatif. Mungkin ada pertanyaan, siapakah SDM kreatif itu ? Jawaban singkat : siapapun bisa dan mungkin melakukan aktivitas ekonomi kreatif baik karena punya latar pendidikan maupun berbakat kreatif.

Pertanyaan berikutnya, apakah orang yang punya latar pendidikan dan bakat kreatif mampu menyelenggarakan ekonomi kreatif? Jawaban singkat : tidak semua atau tidak selalu. Mengapa? Banyak orang kreatif, mampu menghadirkan karya-karya kreatif yang bernilai ekonomi tapi enggan atau tidak mampu menangkap peluang ekonomi yang ada dalam karya-karyanya. Berkait dengan peluang, kita akan melihat di sisi sebaliknya : tantangan dan/atau hambatan.

Dalam buku Pengembangan Ekonomi Kreatif 2025 yang dipublikasikan (dapat diunduh gratis) oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi disebutkan bahwa di Amerika Serikat, Richard Florida menggolongkan SDM kreatif sebagai strata (sosial-pen) baru yang disebut creative class. Di era ekonomi baru ketika kreatifitas telah menjadi industri, pekerja kreatif bukan hanya dari sektor seni.  Di dalamnya ada juga  ilmu pengetahuan (sains), teknologi, manajemen dan lain-lain.  Ada pendidik, peneliti, insinyur, desainer, artis, musisi dam penghibur (entertainer). Mereka adalah orang-orang yang menghadirkan ide-ide baru, teknologi baru, konten baru serta orang-orang yang mengandalkan daya pikir dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
Berkembangnya kegiatan berbasis kreativitas di Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara Asia berupa kegiatan sub kontrak (outsourcing) yang kian menunjukkan kematangannya membuat India dikenal sebagai negeri penghasil film (Bollywood) dan piranti lunak. Sementara itu Korea Selatan dan China dikenal sebagai produsen otomotif, barang-barang elektronik dan industri konten sejajar dengan Jepang yang telah mendului. Singkat cerita kita akan menuju satu pertanyaan: bagaimana dengan Indonesia ? Belum berkembang maksimal karena terkendala beberapa hal utama:
  1. Banyak SDM kreatif di bidang artistik yang belum memahami secara menyeluruh “isi” kreativitas di era industri kreatif.  Sehingga masyarakat awam menilai dunia artistis adalah ekslusif dan tidak merakyat  ( masalah orientasi dan apresiasi – pen).
  2. SDM kreatif di luar bidang artistik (sains dan teknologi) terlalu mikroskopik dalam melihat keprofesionalannya sehingga cenderung berpola pikir mekanistik dan kurang inovatif             ( masalah orientasi dan apresiasi – pen).
  3. SDM kreatif sering kekurangan sarana untuk melakukan eksperimen dan berekspresi sehingga hasil karyanya sering kurang kreatif dan inovatif (masalah apresiasi-pen).
Dari semua kendala yang dipetakan oleh lembaga negara yang berkompeten ini dapat diringkas ke dalam dua masalah utama yaitu orientasi (67%) dan apresiasi (100%). Masalah orientasi bergantung pada iklim atau trend setting. Sedangkan masalah apresiasi adalah masalah budaya. Solusi atas masalah orientasi adalah keperpihakan nyata penentu kebijakan publik yakni pemerintah dan DPR/DPRD.  Ilim politik saat ini tidak kondusif untuk menghadirkan iklim yang sehat tumbuh dan berkembangnya SDM kreatif. Sementara itu, masalah budaya bisa dipacu dengan menghadirkan iklim sehat dan reward yang merangsang orang untuk melakukannya dengan lebih baik secara kuantitatif maupun kualitatif dalam waktu yang sejalan.

Konsep OVOP dan Ekonomi Kreatif menempatkan pembangunan SDM sebagai faktor penting. Sasaran yang dituju pada konsep OVOP adalah produk lokal yang berorientasi global dengan pendekatan komunal. Sementara itu, dalam ekonomi kreatif pendekatan yang digunakan adalah individual. OVOP mengedepankan nilai tambah atas produk (beberapa produk) yang sudah ada, ekonomi kreatif mengharuskan pembaruan atas produk dan/atau jasa yang telah ada atau menghadirkan produk dan jasa yang benar-benar baru dalam suatu proses inovatif. Perbedaan keduanya bisa dijembatani dengan kebijakan politik pemerintah yang kondusif. Tumpang tindih dan “perebutan wewenang” menangani kedua potensi kreatif masyarakat justru akan mematikan jalan menuju Indonesia sejahtera, adil dan makmur (mungkin masih bersambung).

Kamis, 28 Maret 2013

Menguatkan Pilar Ekonomi Kreatif Bagian II


OVOP: BERPIKIR GLOBAL, BERTINDAK LOKAL


Tulisan ini adalah bagian dari tulisan tentang gagasan “Menguatkan Pilar Ekonomi Kreatif”. Pada bagian II yang berjudul sama dengan di atas, saya ingin menampilkan trend baru pendekatan pembangunan ekonomi lokal berbasis pengembangan aktivitas kreatif masyarakat. Kabupaten Kebumen yang selama ini terengah-engah mengejar ketertinggalannya dari daerah lain punya potensi kekuatan andalan di antaranya adalah sentra kerajinan anyaman pandan di Kecamatan Karanganyar dan sekitarnya.

Sekali lagi, saya harus memberikan apresiasi sangat tinggi kepada orang Jepang. Setelah Keizen Costing yang membuyarkan pandangan Barat tentang efisiensi melalui koreksi atas definisi biaya variable atau overhead cost, kini ada Dr. Morihiko Hiramatsu yang saat menjadi Gubernur Oita menggagas dan mengembangkan pemikiran brilian “OVOP    (One Village One Product) yang gaungnya baru di Indonesia terasa setelah dua dekade berjalan di negeri asalnya. Konsep OVOP jauh lebih sederhana dari Keizen. Tetapi keduanya (seolah) memiliki kaitan erat yakni berbasis aktivitas.
Alasan utama yang mendorong munculnya gagasan OVOP yaitu:
  1. Local yet global. Produk-produk yang dibuat bernuansa global adalah satu penghargaan atas budaya lokal.
  2. Self-reliance and Creativity. Realisasi OVOP harus merupakan tindakan mandiri dalam mengoptimalkan potensi lokal.
  3. Human Resource Development. Pembumian gagasan kepada masyarakat dengan memberi tantangan dan semangat kreatif. 
Perajin anyaman desa Grenggeng yang jadi "karyawan"
salah satu vendor kerajinan anyaman pandan

Kunci Sukses Sebuah Gerakan "Satu Desa, Satu Produk"

Gerakan "One Village, One Product"  menarik perhatian dari daerah-daerah yang berpenghasilan rendah tidak dapat menarik industri teknologi tinggi dan juga  para pegiat pada proyek-proyek pengentasan kemiskinan. Gerakan ini merekomendasikan penduduk setempat untuk menggunakan sumber daya lokal dalam menghasilkan nilai tambah produk yang tinggi, dan membawa hasil yang mereka buat ke pasar. Banyak pemimpin telah datang jauh-jauh ke Oita untuk belajar tentang pengembangan sumber daya manusia melalui kampanye gerakan ini. Kata kunci yang saya bisa tunjukkan kepada  Anda;
  1. Penduduk setempat punya kesadaran atas potensi mereka sendiri dan sumber daya  yang ada wilayah mereka. 
  2. Diakui sebagai kekayaan lokal (daerah). 
  3. Kontinuitas adalah sumber kekuatan utama. 
  4. Produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah tinggi. 
  5. Ada jaminan atas penjualan. 
  6. Pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia).
Jika memperhatikan dengan saksama gagasan dasar Program, OVOP akan berhasil ketika masyarakat dan pemerintah memiliki penilaian(visi) sama tentang potensi lokal  yang berbasis budaya. Produk-produk anyaman pandan di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah sebenarnya termasuk dalam gagasan dasar Morihiko Hiramatsu-san yaitu local yet global. Banyak vendor (pemasok barang kerajinan) yang berkiprah dalam bisnis produk-produk berbasis anyaman pandan global mengambil bahan setengah jadi (complong) dan produk ¾ jadi (sisanya berupa asesori, kemasan dan merk dagang) dari perajin  Desa Grenggeng dan sekitarnya. Gagasan Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Bibit Waluyo, yang dikenal dengan istilah/ jargon “bali ndesa, mbangun desa” sebenarnya mengacu pada program OVOP ini. Tapi, seperti biasa, karena hanya merupakan komoditas politik menjelang pilkada, nilai apresiasinya relatif rendah dan tanpa tindak lanjut yang jelas selain jargon itu sendiri yang dirupakan dalam bentuk lagu atau sejenisnya. Begitu juga dengan Buyar Winarso yang sekarang menjabat Bupati Kebumen dengan jargon “aku sing ngerti karepmu”, ketika ada masalah yang cukup signifikan berubah jadi “se karepmu lah”. 

Beberapa Nama/ Sebutan OVOP di Berbagai Negara
(Local Diplomacy)
  1. One Factory One Product (Shanghai, China)
  2. One City One Product (Shanghai, China)
  3. One District One Product (Shanghai, China)
  4. One Village One Treasure (Wuhan, China)
  5. One Region One Vision (Philipine)
  6. Satu Kampung Satu Produk Movement (Malaysia)
  7. Back to Village (Jawa Timur, Indonesia)
  8. One Village One Product Movement (Kamboja)
  9. One Village One Product Day (Los Angeles, USA)
  10. One Parish One Product Movement (Louisiana, USA)
(bersambung)