Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label Aset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aset. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2013

Wayang Kardus Ki Slamet Esser


Wayang sebagai ekspresi budaya masyarakat, memiliki beragam penampilan. Dari yang tertua (wayang purwa)  yang direkayasa oleh Sunan Kalijaga dari mitos Hindustan sampai Wayang Mikael karya seniman lukis dan teater Kaji Habeb (UIN Jogja) pada dasarnya berfungsi sebagai media komunikasi,  pencerahan (dakwah) dan hiburan. Banyak cara dilakukan oleh sang dalang dalam mengoptimalkan fungsi wayang. Misalnya dengan memasukkan unsur pentatonik, tata lampu, komedi dan sebagainya.

Wayang Kartun

Seperti dalam  wayang improvisasi pada umumnya, Wayang Kartun kreasi Ki Slamet Eser memiliki ide cerita yang bersumber pada realitas kehidupan di lingkungan sekitarnya. Mengambil bentuk kartun, ia memunculkan dua tokoh sentral : Panjul dan Prentul. Panjul adalah sosok manusia kudisan, bodoh dan selalu menjadi bahan cemooh orang-orang di sekelilingnya.  Punya semangat juang tinggi tapi hidup dalam himpitan kemiskinan ekonomi. Singkatnya, Panjul adalah personifikasi pribadi Ki Slamet Eser.
Tokoh Utama: Panjul, Prenthul dan Sri Nyolowadi

Panembrama

 Gaya mendalang

Sosok lain yang menjadi tokoh sentral Prentul. Ada dua versi pendapat yang dimunculkan sang dalang. Pertama, menggambarkan sosok birokrat di lingkungan kebudayaan yang perlente, berpenampilan ala seniman tapi selalu berbicara layaknya pejabat yang selalu mengaitkan kegiatan apresiasi budaya dengan keterbatasan anggaran dan segala fasilitas pemerintah. Dalam hal ini, sosok Prentul diposisikan sebagai tokoh antagonis. Versi kedua, Prentul selaku kurator. Pada pentas perdana di ajang Gelar Panggung Teater I – 9 Januari 2009 di Gedung PGRI Kebumen Jawa Tengah, kedua sosok ditampilkan secara bergantian tanpa batasan yang jelas.
Satu lagi bentuk energi besar Ki Slamet Eser adalah kegigihan membangun komunitas budaya   “Guyub Larak” yang hampir setiap saat akan tampil di suatu event kesenian selalu berganti personal. Entah bagaimana caranya, ia selalu mendapatkan darah baru dari beragam kalangan. Pelukis, pengamen jalanan dan tukang parkir. Ada juga sosok mahasiswi yang kemudian diangkat sebagai tokoh Sri Nyolowadi, pendendang lagu-lagu campursari yang digandrungi oleh komunitas lokal.
Sebagai seniman potensial, energi berkesenian Ki Slamet Eser sangat luar biasa. Karena keluar-biasaannya, banyak orang yang menghindar darinya karena beragam alasan. Ada yang menilai ide-idenya sangat “ liar “. Karena itu sangat sulit diikuti arah tujuannya. Ada juga yang melihat penampilan keseharian yang kumuh, suka memaksakan kehendak di balik “sosok memelas” dan beragam penolakan yang menyebabkan dirinya sering terjerembab dalam kesendirian.
Apapaun penilaian orang, Ki Slamet Eser tetap berjalan dengan langkah dan logika yang dipahaminya. Seperti kebanyakan seniman eksentrik, ia terus mengeksplorasi energi berkesenian dalam tubuhnya. Seolah tak peduli dengan sikap dan omongan orang di sekitarnya, apapun yang terjadi, the show must go on.   

Kolaborasi    

 Pernah dimuat  di sini

Kamis, 11 April 2013

FIESTA de LUK ULO (Konsep Ringkas - Update)


Konsep  festival dipilih agar beberapa kegiatan dapat dicakup serentak. Ada wisata air seperti lomba pacu rakit berbahan batang pisang (gedebog) dan aneka permainan anak yang menjadi ciri khas permainan anak pereng Kali Luk Ulo. Lomba Mancing yang menjadi “gong” berpadu dengan Festival Kuliner dan lain-lain. Konsep festival membuka peluang beragam kegiatan dikemas dalam satu wadah “Luk Ulo Fiesta 20,,,”.

MAKSUD dan TUJUAN

Festival Kali Luk Ulo tahun 20.., dimaksudkan untuk :
  1. Memberikan hiburan murah dan aman bagi warga masyarakat Kabupaten Kebumen dan sekitarnya.
  2. Mengenalkan Kali (Sungai) Luk Ulo sebagai salah satu icon aktivitas kreatif  Kabupaten Kebumen.
  3. Pendidikan lingkungan bagi generasi muda.
  4. Pengembangan kegiatan wisata lingkungan.
  5. Perintisan dan pengembangan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Kebumen.

Tujuan utama kegiatan ini adalah mengembangkan potensi kreatif para pemuda Kebumen dalam beragam  kegiatan produktif dan kewirausahaan yang ramah lingkungan.

KONSEP FESTIVAL

Festival adalah kegiatan yang menampilkan kemeriahan yang dapat diisi dengan beragam jenis kegiatan saling berkait. Festival Kali Luk Ulo 2012 adalah perpaduan antara kegiatan olahraga, hiburan, wisata, pendidikan lingkungan dan kewirausahaan. Ada 2 jenis kegiatan olahraga yang akan dilaksanakan yakni Lomba Mancing Ikan Bersisik dan outbond.
Hiburan akan diisi dengan lomba permainan anak tradisional seperti kunclungan, mengambang di air dengan sarung terlama dan lain-lain. Atau atraksi kesenian tradisional yang akan diselenggarakan di sekitar lapangan basket dan bekerjasama dengan Kelenteng Khong Hui Kiong. Kegiatan hiburan ini dapat juga dikembangkan dengan beragam festival, lomba atau penampilan kelompok-kelompok kesenian yang potensial dikembangkan sebagai aset ekonomi kreatif masyarakat Kabupaten Kebumen.
Sementara itu, pendidikan lingkungan dilaksanakan dengan cara memberikan pemahaman, bimbingan dan praktik di sepanjang lokasi festival yang direncanakan sepanjang 1 km. Mulai dari bawah Jembatan Kutosari (jembatan baru di Selatan Alun-alun kota) sampai Jembatan Renville (jembatan kereta api). Pendidikan lingkungan ini bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan mencerahkan pemahaman tentang pentingnya memelihara lingkungan alam Kali Luk Ulo di sepanjang jalur festival khususnya dan daerah alirah Sungai Luk Ulo pada umumnya.

Dalam kegiatan kewirausahaan, akan diselenggarakan festival kuliner berbahan dasar ikan bersisik yang hidup dan berkembang biak di Kali Luk Ulo yang mengikutsertakan para petani ikan yang banyak beraktivitas di sebelah Utara lokasi. Serta beberapa kegiatan lain yang menunjang tujuan pengembangan ekonomi kreatif warga masyarakat sekitar lokasi festival khususnya.

Rabu, 03 April 2013

ANTARA JOGJA, SOLO DAN BANDUNG



Proses Kreatif di Pusat-pusat Kreatifitas - Bagian I

Hampir setiap kali membahas ekonomi kreatif, dua kota utama : Jogja dan Bandung muncul sebagai bagiannya. Jogja dengan segala sebutan : kota pelajar, wisata, kuliner (gudeg dan beragam jajanan khas), budaya dan entah berapa lagi lainnya boleh disebut sebagai barometer dunia kreatif di tanah air. Masih ingat kaos oblong “DAGADU” ? Kaos yang identik dengan kaum muda berlogo mata sesuai namanya. Dagadu adalah bahasa plesetan dari kata matamu. Bagi masyarakat Jawa, kata itu berkesan kasar atau tidak berbudaya. Di situlah letak ketajaman daya kreasi pencipta merk ( A Noor Arief) yang telah dibajak berkali-kali, sampai sekarang masih eksis berkreasi di sub sektor busana (fesyen/ fashion).


Selain memproduksi kaos, Dagadu juga memfasilitasi beragam kegiatan kreatif di antaranya Lomba pembuatan video kreatif tentang Jogja (Jocvec), membuat situs internet: http://blog.dagadu.co.id/  yang isinya khas  dan semua dikasih nama dengan imbuhan MATA. Misalnya kolom yang bertajuk MATALALU  yang berisi informasi masalalunya Dagadu untuk pemula maupun garda depan yang punya tugas di bidang layanan konsumen (lakon). Tanpa bermaksud melebih-lebihkan Dagadu (yang memang punya banyak kelebihan) atau Jogja (karena bagian dari alumni di kota itu), saya menyoroti dagadu karena kejelian mereka melihat banyak persoalan rumit dalam kacamata cerdas (smart) dan tetap tersenyum (smile). Dua hal yang membedakan “gali” Jogja dengan lainnya. Dagadu adalah bahasa “gali” dan oleh mas Noor Arief sang pemilik merek dagang DAGADU digali maknanya sampai benar-benar njogjani alias pokoknya Jogja banget. Kesan sangar sang gali diubah total dengan “senyum” yang representatif keramahan masyarakat Jogja.  


Dalam hal penerapan Ekonomi Kreatif, Kota Jogja memakai logo di atas yang sudah cukup dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Jargon yang diusung adalah " NEVER ENDING ASIA".  Kota ini memilih sub sektor kerajinan, fesyen, piranti keras dan lunak komputer sebagai andalan untuk menggerakkan ekonomi kreatifnya. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa Yogyakarta adalah kota seni dan budaya. Beragam peninggalan sejarah karya seni adiluhung seperti keraton dan tari langen bedaya-nya; pandangan spiritual tentang jalur imajinatif Merapi, Keraton dan Laut Selatan; munculnya nama kampung kerajinan seperti Batikan, Gamelan, Gemblakan, Kotagede dan lain-lain serta aneka kerajinan yang sudah memasyarakat seperti batik, olah kulit, ukir dan sebagainya.

Dari alasan di atas kemudian disusun 13 langkah untuk merealisasikannya: 
  1. Mendorong lahirnta YOGYAtic sebagai komunitas produsen kerajinan sekaligus perintis pola pembinaan OVOP sehingga mendapat penghargaan Hiramatsu Award.
  2. Memfasilitasi sekretariat Yogya-IT
  3. Dalam RPJMD, salah satu programnya adalah pengembangan industri kreatif
  4. Kebijakan menuju Yogya Cyber Provinc
  5. Penyelenggaraan lomba desain produk kerjasama pusat dan daerah
  6. Mendorong kegiatan promosi penerbitan dan percetakan dalam bentuk bursa buku
  7. Memberikan apresiasi kepada kreator
  8. Melakukan sosialisasi kebijakan pengembangan industri kreatif
  9. Menyelenggarakan promosi produk industri kreatif di tingkat lokal maupun nasional
  10. Menyelenggarakan kegiatan tahunan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY)
  11. Penyelenggaraan kegiatan tahunan Yogya Fashion Week
  12. Menyelenggarakan Cat Fish Day untuk meningkatkan konsumsi ikan nasional
  13. Menyelenggarakan pameran kuliner menu tradisional melalui dinas pariwisata
Mengurai kreatifitas anak-anak muda Jogja sepertinya tak akan ada habisnya. Setiap sudut kota punya sisi menarik untuk digali sisi kreatifnya. Pasar kerajinan di sepanjang Jl. Malioboro seolah bersambung dengan pasar jajanan di Jl. Mataram sampai Pasar Pathuk yang menyajikan bakpia hangat yang baru keluar dari oven para pembuatnya. Di sekitar pasar tradisional yang berada di tengah kota Jogja ini, kita bisa juga menikmati gudeg ala Yu Siyem yang telah dikenal sejak jaman perjuangan menegakkan kemerdekaan. Tidak heran jika Dagadu.co.id menyediakan laman khusus: kapan lagi ke Jogja untuk para alumni menapak-tilasi jejak Jogja dengan segala ragam kenangan yang melekat di hati.
   
Jika kaos Dagadu Jogja muncul di pertengahan 1990-an, Bandung telah mendului sebagai pelopor pembuatan Indonesian Denim (jeans Bandung) dengan Jl. Tamim sebagai icon utama. Beda dengan Jogja yang menggali habis budaya lokal, Bandung cenderung memilih sebagai duplikator model jeans dari merek-merek internasional yang sudah dikenal publik. Olah duplikasi ini berlangsung cukup lama, sekitar dua dasawarsa sampai awal 2000-an ketika Jakarta mulai tertarik bersaing dengan Bandung. Saat ketika produk konveksi dan garmen rumahan mengalami booming. Setidaknya, kesan itu yang saya dapatkan di lapangan sepanjang waktu mendampingi sentra konveksi Roworejo memasuki pusat-pusat perdagangan barang konveksi dan garmen di Tanahabang dan Cipulir (Jakarta) atau sekitar Jl. Embong Malang dan Jembatan Merah di Surabaya. 
(bersambung: Solo dan Bandung)




Sabtu, 30 Maret 2013

OVOP & EKONOMI KREATIF


Ada dua gagasan dasar yang memiliki keserupaan dalam upaya mengembangkan potensi ekonomi masyarakat yakni OVOP dan Ekonomi Kreatif. Beberapa tulisan sebelumnya telah dibahas tentang OVOP. Kini giliran untuk mengupas faktor yang mempengaruhi pilihan kebijakan pembangunan kewilayahan yaitu ekonomi kreatif (Creative Economy) atau sering disebut juga dengan istilah Creative Industry). Kedua istilah  creative economy atau industry saya anggap sama maknanya.

Definisi ekonomi kreatif menurut Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekref) yaitu industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Berdasar batasan ini jelas sekali orientasi ekonomi kreatif adalah individual, SDM kreatif. Mungkin ada pertanyaan, siapakah SDM kreatif itu ? Jawaban singkat : siapapun bisa dan mungkin melakukan aktivitas ekonomi kreatif baik karena punya latar pendidikan maupun berbakat kreatif.

Pertanyaan berikutnya, apakah orang yang punya latar pendidikan dan bakat kreatif mampu menyelenggarakan ekonomi kreatif? Jawaban singkat : tidak semua atau tidak selalu. Mengapa? Banyak orang kreatif, mampu menghadirkan karya-karya kreatif yang bernilai ekonomi tapi enggan atau tidak mampu menangkap peluang ekonomi yang ada dalam karya-karyanya. Berkait dengan peluang, kita akan melihat di sisi sebaliknya : tantangan dan/atau hambatan.

Dalam buku Pengembangan Ekonomi Kreatif 2025 yang dipublikasikan (dapat diunduh gratis) oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi disebutkan bahwa di Amerika Serikat, Richard Florida menggolongkan SDM kreatif sebagai strata (sosial-pen) baru yang disebut creative class. Di era ekonomi baru ketika kreatifitas telah menjadi industri, pekerja kreatif bukan hanya dari sektor seni.  Di dalamnya ada juga  ilmu pengetahuan (sains), teknologi, manajemen dan lain-lain.  Ada pendidik, peneliti, insinyur, desainer, artis, musisi dam penghibur (entertainer). Mereka adalah orang-orang yang menghadirkan ide-ide baru, teknologi baru, konten baru serta orang-orang yang mengandalkan daya pikir dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
Berkembangnya kegiatan berbasis kreativitas di Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara Asia berupa kegiatan sub kontrak (outsourcing) yang kian menunjukkan kematangannya membuat India dikenal sebagai negeri penghasil film (Bollywood) dan piranti lunak. Sementara itu Korea Selatan dan China dikenal sebagai produsen otomotif, barang-barang elektronik dan industri konten sejajar dengan Jepang yang telah mendului. Singkat cerita kita akan menuju satu pertanyaan: bagaimana dengan Indonesia ? Belum berkembang maksimal karena terkendala beberapa hal utama:
  1. Banyak SDM kreatif di bidang artistik yang belum memahami secara menyeluruh “isi” kreativitas di era industri kreatif.  Sehingga masyarakat awam menilai dunia artistis adalah ekslusif dan tidak merakyat  ( masalah orientasi dan apresiasi – pen).
  2. SDM kreatif di luar bidang artistik (sains dan teknologi) terlalu mikroskopik dalam melihat keprofesionalannya sehingga cenderung berpola pikir mekanistik dan kurang inovatif             ( masalah orientasi dan apresiasi – pen).
  3. SDM kreatif sering kekurangan sarana untuk melakukan eksperimen dan berekspresi sehingga hasil karyanya sering kurang kreatif dan inovatif (masalah apresiasi-pen).
Dari semua kendala yang dipetakan oleh lembaga negara yang berkompeten ini dapat diringkas ke dalam dua masalah utama yaitu orientasi (67%) dan apresiasi (100%). Masalah orientasi bergantung pada iklim atau trend setting. Sedangkan masalah apresiasi adalah masalah budaya. Solusi atas masalah orientasi adalah keperpihakan nyata penentu kebijakan publik yakni pemerintah dan DPR/DPRD.  Ilim politik saat ini tidak kondusif untuk menghadirkan iklim yang sehat tumbuh dan berkembangnya SDM kreatif. Sementara itu, masalah budaya bisa dipacu dengan menghadirkan iklim sehat dan reward yang merangsang orang untuk melakukannya dengan lebih baik secara kuantitatif maupun kualitatif dalam waktu yang sejalan.

Konsep OVOP dan Ekonomi Kreatif menempatkan pembangunan SDM sebagai faktor penting. Sasaran yang dituju pada konsep OVOP adalah produk lokal yang berorientasi global dengan pendekatan komunal. Sementara itu, dalam ekonomi kreatif pendekatan yang digunakan adalah individual. OVOP mengedepankan nilai tambah atas produk (beberapa produk) yang sudah ada, ekonomi kreatif mengharuskan pembaruan atas produk dan/atau jasa yang telah ada atau menghadirkan produk dan jasa yang benar-benar baru dalam suatu proses inovatif. Perbedaan keduanya bisa dijembatani dengan kebijakan politik pemerintah yang kondusif. Tumpang tindih dan “perebutan wewenang” menangani kedua potensi kreatif masyarakat justru akan mematikan jalan menuju Indonesia sejahtera, adil dan makmur (mungkin masih bersambung).

Senin, 25 Maret 2013

OBSESI(KU) UNTUK PERAJIN ANYAMAN PANDAN DI KEBUMEN


Mewujudkan cita-cita adalah wajib bagi manusia. 
Karena cita-cita itu merupakan motivasi untuk maju dan berkembang. Tetapi proses pencapaiannya dapat berbeda antara satu dan lain orang. Ada yang mulus, tersendat atau macet.

Kerajinan anyaman pandan di Desa Grenggeng Kecamatan Karanganyar sudah saya kenal sejak tahun 1990. Saat saya dikenalkan oleh almarhum Bapak Abdurrahman selaku petugas lapangan pada kantor Dinas Perindustrian Kabupaten Kebumen. Secara garis besar, visi kami serupa yakni mengembangkan industri rumah tangga ini sejajar dengan Tasikmalaya (Rajapolah) yang selama ini merupakan konsumen terbesar complong (hasil anyaman berbentuk silindrik)  produksi perajin anyaman Grenggeng melalui pengembangan desain dan pasar. Dari mas Rahman, kemudian saya mengenal nama-nama pemuka di komunitas perajin yang saat itu bergabung dalam wadah KUB (Kelompok Usaha Bersama) Pandansari. Yaitu Ibu Djumarnah, Ibu Djamhari dan Ibu Maryani. Nama terakhir adalah orang yang sering berkomunikasi dan saya ajak mengikuti pameran di beberapa tempat seperti Balai Kerajinan Provinsi DKI Jakarta dan Jakarta Design Center.


Sebenarnya jalur saya berbeda dengan pandan. Sejak ikut pelatihan manajemen dan desain kerajinan bambu yang diselenggarkan oleh Yayasan Pengembangan Desain Kerajinan Indonesia (YPDKI) 1991, tentunya saya lebih fokus di lingkungan kegiatan kerajinan bambu. Khususnya untuk furnitur. Setelah melakukan kaderisasi, saya meninggalkan Kebumen untuk urusan pribadi dan kembali akhir 1995. Tentu saja masih tetap memantau dan melakukan kunjungan lapangan saat pulang kampung. Masa-masa itu masih sangat berat untuk menggantungkan “nasib” pada kegiatan kerajinan (mungkin tidak berlaku untuk yang lain).

Ketertarikan pada perkembangan kegiatan kerajinan pandan di desa Grenggeng dan sekitarnya sebenarnya tidak pernah pudar. Karena itu, ketika melihat ada potensi besar pada pribadi Yahya Mustofa yang saya kenal saat melakukan aktivitas bersama pada program pengembangan Lembaga Ekonomi Produktif Masyarakat Mandiri (LEPMM) di tengah tahun 1999 (salah satu pemicu perkembangan BMT di Kabupaten Kebumen), saya dorong dia agar lebih fokus  pada “nasib” industri kerajinan pandan meski posisi formalnya lebih tinggi dari saya. Hampir semua pengetahuan dan pengalaman saya berikan untuk menambah bekal dirinya. Dia bisa melakukan dan selanjutnya mengangkat dirinya sebagai “tokoh” penting dalam industri kerajinan di Kabupaten Kebumen. Bahkan tak tanggung, setelah menerima Danamon Award, ia raih Upakarti untuk kategori kepeloporan pemuda dari Presiden RI. Sebagai mentor, saya bangga mendengarnya (meski yang bersangkutan memberitahukannya terlambat beberapa bulan). Dalam rentang waktu yang relatif pendek (sekitar 9 tahun), Yahya Mustofa melesat dalam bendera Dubexcraft jauh di depan para pegiat seperti ketiga orang yang disebut di atas dan Ibu Ngatini yang setia menemani perjalanan dirinya selama ini.

 Ibu Ngatini

Singkat cerita , ia (entah karena alasan apa) menemui dan mengajak saya agar aktif kembali dalam kegiatan pengembangan kerajinan anyaman. Kali ini tak tanggung lagi, berskala nasional di bawah nama Himpunan Perajin Anyaman Indonesia (Hipando) melalui Temu Karya Kerajinan Nasional di Hotel Maharani Jakarta 27-29 Oktober 2010. Dari sini, saya dapat lebih mengenal pribadi Ibu Ngatini sampai sekarang. Seperti biasa, saya menduga akan dijadikan trigger di arena itu. Ternyata benar, jabatan double selaku Sekretaris II di tingkat nasional dan Kordinator Provinsi Jawa Tengah. Bukan kebanggaan yang saya terima. Justru prihatin karena sampai saat ini belum mampu jadi jembatan bagi perajin anyaman di Jawa Tengah. Banyak kendala internal dan eksternal yang harus dihadapi.  Berbagai upaya telah saya lakukan secara pribadi dan dorongan semangat dari Ibu Ngatini dan kawan-kawan agar Hipando bukan sekadar papan nama seperti organisasi sejenisnya.

Terlepas dari adanya kendala yang selalu dialami oleh setiap orang dan organisasi, hal yang lebih penting adalah komitmen dan langkah nyata. Pergulatan selama lebih dari dua tahun nampaknya akan membuahkan hasil jika usulan kami (saya dan Edie “Bonggol Jagung” Juandi) kepada Kementrian Perindustrian RI tentang program Pelatihan Industri Kerajinan Ekspor Berbahan Serat Alami dapat direalisasikan segera. Kerajinan Anyaman Pandan adalah adalah satu prioritas. Semoga. 

Sabtu, 23 Maret 2013

Yang Cantik dari Indah


Bukan hanya stasiun TV saja yang punya jargon " wow keereeeeeeen". Hasil karya kreatif gadis imut ini pantas memilikinya. Secantik dirinya, beragam kotak fungsional untuk kado, pensil, perhiasan dan lain-lain, lebih tampak keren dan ngetrend ada di dalamnya. Itulah kesan yang saya tangkap saat berkunjung ke rumah Vicky Indah yang usianya belum genap 15 tahun. Didampingi kedua orang tuanya, Bapak dan Ibu Sapto yang berada di bibir Sungai Luk Ulo Pasarpari Kebumen, Vicky, sebutan akrab gadis yang belajar di Kelas 9 SMPN 2 Kebumen ini menuangkan ide-ide kreatif di waktu senggangnya.

Dalam gaya khas remaja, Vicky menceritakan kegiatan membuat produk-produk kemasan cantik untuk berbagai keperluan yang telah dijalani lebih dari setahun.  Ia memang bukan orang pertama yang mengawali kegiatan itu. Adalah Dwi Ratrianti Widiastuti yang akrab dipanggil mbak Wiwid ini yang  memulai aktivitas industri kreatif kerajinan tangan. Ia adalah kakak Vicky yang saat ini tinggal di pinggir Kota Kembang, Bandung.

Tiga tahun lalu, saat mbak Wiwid kerja di salah satu toko swalayan di Purwokerto menerima sebuah paket kiriman salah satu pemasok barang buat tempatnya bekerja. Begitu melihat satu kotak segi empat berbalut kertas kado cantik, tiba-tiba muncul ide menirunya. Ia menggali informasi dari orang-orang yang ada di sekitar tempat kerjanya. Tak puas dengan jawaban yang ia dapatkan, mbak Wiwid memberanikan diri minta satu kotak pembungkus sepatu kepada teman yang mengelola pojok sepatu di toko swalayan itu. Sampai di pondokan, ia telah bersiap melakukan duplikasi alias nyontek produk kemasan yang dilihatnya beberapa hari sebelumnya. Entah sudah berapa kali ia mencoba, begitu selesai dibuat ia selalu bilang dalam hati " akh...belum pas dengan angan-angan". 

Sampai akhirnya merasakan sesuatu yang kurang lebih membuat decak kagum teman-teman kerjanya. " Wow....keren Wid. Beli di mana kotak kado yang kamu bawa?", tanya seorang teman. Wiwid menjawab ringan " bikin sendiri !". Kaget atau kagum..itulah yang muncul dari ekspresi wajah sang teman. " Bener Wid... ini bikinan kamu?" . Wiwid hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Atas saran teman lain yang posisinya cukup menentukan di toko swalayan itu, Wiwid meminta bantuan salah satu pemasok untuk memasukkan hasil karya kreatifnya di toko tempat ia kerja. 

Sosok imut Vicky Indah 

Luar biasa sambutan konsumen. Wiwid sempat kewalahan menerima permintaan mereka. Untuk memenuhi permintaan itu, ia sering terlambat tidur dan kurang istirahat. Bayangkan, jam 2 atau 3 pagi baru berangkat tidur, paling lambat jam 8 harus bangun dan berangkat ke tempat kerjanya dengan berjalan kaki sekitar 500 m dari pondokan atau sekitar 10 menit. Sementara itu, waktu masuk kerja giliran pagi adalah  jam 9. Karena itu, jika pesanan sedang tinggi, rasa kantuk dan letih ia alami berkali-kali di tengah waktu kerja. Teguran demi teguran ia terima dari atasan. Akhirnya Wiwid harus menentukan pilihan: jadi karyawan atau pengusaha produk kerajinan kemasan. Ia pilih jadi pengusaha meski dalam bayang gelisah jika pesanan sedang sepi. Keputusan ini dilanjutkan dengan keputusan lain: kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan kedua orang tua kandungnya. Iapun harus siap menghadapi tantangan jarak Kebumen - Purwokerto dengan moda transportasi umum. Bus atau kereta api kelas ekonomi agar ngirit ongkos. Tantangan lain yaitu membuka peluang pasar di Kebumen yang tidak diketahui dan mungkin juga sikap orang tuanya yang bisa saja menyalahkan dirinya telah membuat keputusan drastis itu (bersambung). 

Suasana di ruang kerja 

Kamis, 14 Maret 2013

Pasar Senggol 2010: Sederhana Tapi Manis

Panggung utama

Pasar Senggol :Sekaten ala Kebumen yang Tengah Bersolek


Belajar dari pengalaman dan kegagalan di masa lampau adalah salah satu ciri manusia berfikiran maju. Pada pelaksanaan kegiatan yang sama di tahun 2010 ini, salah satu tokoh masyarakat di sekitar tempat berlangsungnya acara tahunan PASAR SENGGOL, Yahya Mustofa, mengungkapkan banyak hal tentang pengalaman menyelenggarakan acara ritual budaya masyarakat di sekitar Pasar Selang Kebumen. Mengikuti anjuran Bupati saat itu, H.M. Nashirudin Al Mansyur yang menginginkan penyelenggaraannya mirip atau sama dengan Sekaten Jogja ternyata berbuah kekecewaan yang berlarut. Semula ia kurang bergairah saat disinggung kemungkinan pelaksanaannya di tahun 2010.

Selain faktor keuangan yang mengalami difisit cukup besar, sampai saat ini Panitia Penyelenggara yang terdiri dari tokoh masyarakat dan perangkat desa di Selang, Adikarso dan sekitarnya belum mampu menuntaskan laporan kegiatan itu. Kendala lain adalah kegagalan menghadirkan band metal asal Bandung "Power Slave" kepada para penggemar musik rock Kebumen setelah dilarang tampil oleh aparat kepolisian justru di saat akhir waktu. Pelarangan di sela check sound punggawa band yang senafas dengan grup band kondang asal Inggris, LED ZEPPELIN. Artinya, ada " keanehan " di balik pelarangan yang berdalih keamanan. Singkat kata, misi mengangkat peristiwa budaya masyarakat lokal ini "gagal".

Karena itu, setelah kami berdiskusi luas dan menemukan satu titik temu pemikiran bahwa jika peristiwa budaya itu harus dilakukan dengan cara dan suasana yang berbeda. Perbedaan skala prioritas dan yang menggembirakan adalah keterlibatan komunitas pelaku seni budaya lokal yang aktif berproses dan memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan Pasar Senggol sebagai bagian dari upaya pengembangan potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Kebumen. Khususnya dalam hal seni pertunjukan, periklanan, kerajinan, pasar seni dan barang antik serta layanan komputer dan piranti lunak dalam sebuah "kawasan industri kreatif" bernama PASAR SENGGOL 2010. Yang Muda Ceria, Yang Tua  Bahagia. Bukan sekadar all about Kebumen. Tapi Kebumen Ngethek alias It's Truly Kebumen ... yakin gologokin.

Obrolan tengah malam jelang pelaksanaan


Tradisi masyarakat Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW cukup beragam. Di tlatah (wilayah kuasa kerajaan) Mataram masyarakat mengenal Grebek Maulid yang disebut Sekaten. Jika perayaan di Ngayogyakarta Hadiningrat (Jogja) diawali dengan kirab pusaka keraton dan berakhir dengan keluarnya gunungan kembar simbol kemakmuran. Hal serupa terjadi juga di Solo. Bedanya, simbolisasi di Keraton Surakarta  adalah tradisi "angon kebo bule" Kyai dan Nyai Slamet. Meski kurang faham dengan makna dibalik nama pasangan kerbau itu dan peristiwa yang mengiringi, nampaknya keselamatan dan kemakmuran jua yang menjadi tujuan utama tradisi tersebut.


Peristiwa sama di Desa Selang dan sekitarnya disebut Pasar Senggol. Sejak berpuluh tahun yang lalu, masyarakat di sekitar pasar tradisional desa Selang semisal Adikarso, Kalirejo, Panjer, Kebumen dan sebagainya menjadikan acara itu sebagai peristiwa budaya lokal dalam rangkaian kegiatan memperingati hari besar keagamaan Islam. Dalam peristiwa itu, muncul nama tokoh utama : Kramaleksana. Dari penuturan Yahya Mustofa, sosok Kramaleksana adalah “pahlawan” yang membuka lahan bagi sejumlah masyarakat di wilayah itu. Dia adalah prajurit Mataram yang ditugaskan bersama sejumlah pasukan lain untuk memperluas wilayah kekuasaan. Di sisi inilah beragam cerita heroik dan mistis muncul sebagai bagian tradisi masyarakat tersebut. Karena itu, model perayaannya sangat mirip dengan gaya Jogja ketimbang Solo.

   

Layaknya sebuah pasar malam, ada berbagai kegiatan yang melingkupinya. Sebagai ajang bisnis para pedagang kaki lima, bakul jajanan, pedagang mainan anak dan sebagainya. Yang tidak pernah ketinggalan adalah sebagai ajang mencari jodoh, arena perebutan kekuasaan preman lokal dengan segala nuansanya dan beragam pernak-pernik kehidupan malam. Karena itu, dimensi religi yang seharusnya lebih menonjol dibanding tradisi yang belum dikaji dalam penelitian ilmiah acapkali terabaikan.


Yang menarik dari penyelenggaraan tahun ini adalah adanya sentuhan manajemen hiburan. Sebagai tokoh sentral, Yahya Mustofa yang tahun kemarin mendapat Upakarti Bidang Kepoloporan Pemuda, pemilik Dubex Handicraft dan sejumlah unit usaha lain serta Ketua Umum Hipando (Himpunan Perajin Anyaman Indonesia) mengundang orang yang bertugas khusus menangani manajemen hiburan tersebut. Tema pokok yang ditawarkan sebagaimana dituturkan Fauzan adalah “All about Kebumen”. Bila diterjemahkan bebas mungkin jadi “ pokoknya asal Kebumen”. Tema itulah yang menarik perhatian kami, Komunitas Ego. Ada kegairahan tersendiri di saat kami tengah mengangkat produk budaya lokal yang kian terpinggirkan seperti Kethoprak Pesisiran dan Rodat, Jamjaneng dsb. Sekaligus memberi pencerahan kepada orang-orang di dinas kebudayaan setempat yang mendefinisikan kesenian atau budaya lokal identik dengan irama yang rancak dan dalam suguhan jingkrak-jingkrak.

Lebih bergairah lagi ketika kami mendengar langsung dari Yahya Mustofa, bahwa panggung utama akan dilengkapi fasilitas multi media. Pucuk dicinta, ulam tiba. Angan kami mengembara ke desa Brecong Buluspesantren. Di sana ada tokoh seni kethoprak pesisiran, Bambang Kethoprak. Bergegas kami kunjungi beliau dan menawarkan kerja sama. Kolaborasi antara seni drama tradisional dan teater modern dengan kesepakatan bahwa soal teknis pentas akan dibicarakan khusus dengan ahlinya, Putut AS dan kawan-kawan Komunitas Ego yang selama ini berproses di Jogja dengan nama Sanggar Ilir atau Wayang Mika L mas Kaji Habeb.

          Bambang Kethoprak   

Entah sebab apa, kami mendapat informasi dari Seksi Hiburan, Gobeth Arief Budiman bahwa Polres Kebumen hanya memberi ijin 2 hari dari 6 hari yang dijadwalkan. Mendengar kabar itu, kami terkulai lemas. Setelah menunda sehari, akhirnya kami memberi tahu mas Bambang bahwa pentas kolaboratif di Pasar Senggol 2010 urung dilaksanakan karena alokasi waktunya sangat pendek. Hanya 30 menit. Panggung utama yang semula didesain knock down karena berada di persimpangan jalan Kutoarjo dan Cendrawasih harus dipindahkan ke lokasi aman di tanah kosong di belakang deretan tenda pedagang. Lengkap sudah kecewa kami kepada Panitia, khususnya Pemerintah Kabupaten Kebumen yang berkesan “ hanya mau mengunduh tanpa kesediaan mengunggah” atas potensi kreatifitas warga masyarakatnya. Apalagi ditambah penuturan Yahnya Mustofa, bahwa ketika mengajukan ijin kegiatan itu di Pemkab, timnya di – ping pong.


Meski pada akhirnya waktu penyelenggaraan yang dijadwalkan selama 6 hari menjadi nyata, tapi dengan persiapan yang hanya lima hari membuat gairah kami tak mudah dipulihkan. Dan karena undangan ditujukan kepada Panitia Gelar Panggung Teater (GPT) 2010, kami harus menindak-lanjuti undangan Panitia Pasar Senggol itu kepada seluruh pengisi acara yang ada di Kabupaten Kebumen.  Dari tujuh komunitas teater pengisi acara GPT 2010, hanya dua yang siap pentas yakni Teater Gerak dari STAINU dan Teater Putra Bangsa (Tetrasa) STIE Putra Bangsa Kebumen. Sebagai wujud tanggung jawab dan kepedulian, Komunitas Ego mendampingi proses latihan dan pentas Tetrasa di hari ke 2 penyelenggaraan Semarak Pasar Senggol 2010. Lega di balik kecewa mendalam. Sambil berjalan pulang kami meneriakkan “selesai sudah masa janji, selesai sudah tugas menanti “ seperti prajurit pulang dari medan laga. Sekedar melepas penat dari rasa yang kian menggumpal dari waktu ke waktu.

Sanggar Ilir - Imakta membuka kebuntuan berteater dengan 
GPT 2009 dan 2010