Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label Kerajinan Tangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerajinan Tangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

Mengapa OVOP ?

Sumbang pikir untuk Tema OVOP Kerajinan Pandan
 pada Lomba Riset Unggulan Daerah 2013



OVOP mengacu pada pendekatan GNS (Gross National Satisfaction) yang menitikberatkan kualitas atau “isi mengungguli bentuk”. Yang dimaksud isi adalah sumber-sumber daya potensial setempat yang dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakat lokal atas upaya-upaya riil yang telah mereka usahakan untuk memenuhi hajat hidupnya. Inilah yang menjadi alasan utama munculnya gerakan OVOP. Penghargaan yang memadai atas hasil karya cipta yang memberi kepuasan ekonomi dan spiritual. Pola penghargaan serupa ini adalah pendekatan kultural dalam menggali dan mengembangkan nilai-nilai ekonomi suatu komunitas (desa, distrik dan seterusnya).
Pendekatan kultural  dalam bahasa yang paling sederhana adalah memanusiakan manusia. Dalam hal ini, budaya masyarakat komunal akan berbeda dibanding  yang individual. Pada umumnya, pola budaya masyarakat Indonesia adalah komunal dan paternalistik. Peran para pemuka atau tokoh sangat dominan dalam mewarnai pola kehidupan mereka. Demikian pula dengan simbol-simbol sosial. Seorang pemuka tanpa ada simbol sosial tertentu hanya akan menghasilkan artefak instan yang berdurasi pendek dan cenderung transaksional. Pertukaran nilai antara pemuka dan pengikut biasanya sebatas pemenuhan kebutuhan ekonomi dan kurang menjangkau nilai-nilai spiritual. Sehingga, proses pertukaran nilai relatif tidak diiringi dengan keterikatan batin yang membuat pemuka dalam waktu singkat akan ditinggalkan oleh pengikutnya.
     
 
Konsep OVOP dari penggagasnya menyaratkan ketentuan:
  • Local yet global (kekuatan lokal yang berpotensi global). Banyak sumber daya lokal yang berpotensi global. Revolusi teknologi informasi yang terjadi sangat cepat akhir-akhir ini menempatkan posisi media sosial semisal Facebook, Twitter, LinkedIn dll menjadi ajang pertukaran informasi global yang sering berujung dengan kesepakatan bertransaksi. Kemudahan mengakses internet dari ponsel semakin memperpendek jarak ruang dan waktu yang dalam teori ekonomi klasik bernilai tinggi. Bahkan, lapak pencarian terpopular saat ini yaitu Goggle telah mengembangkan program-program unggulan secara cuma-cuma  bagi para blogger. Karena itu, menghadirkan produk lokal bernuansa global saat ini relatif lebih mudah. Persoalannya, mampukah produk itu menghadirkan brand image sebagai produk unggulan secara kualitatif dan terpelihara kontinuitasnya ?  
  • Self reliance and creativity (kemandirian dan daya cipta). Masalah klasik dalam menggali potensi produk lokal yang bernuansa global adalah budaya kerja yang mampu mengimbangi atau menjawab tantangan  pasar kekinian. Pada umumnya, budaya kerja masyarakat Indonesia relatif lemah kecuali bagi pribadi-pribadi yang memiliki kemandirian sikap dan berpola-pikir terbuka (outward looking). Gerakan masyarakat madani (civil society) di era keterbukaan saat ini mestinya mampu mendorong lebih banyak lagi pribadi-pribadi mandiri, kritis dan bekerja sesuai perkembangan daya cipta (creativity) pribadinya. Lingkungan, terutama pemerintah memberikan apresiasi memadai kepada mereka. Dan insentif agar kreativitas yang ada pada pribadi-pribadi tadi membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Di sinilah letak peran pemerintah selaku penentu kebijakan publik. Intervensi sebatas hal-hal regulatif dan penyediaan fasilitas publik semisal jalan berhotmix, pembangkit listrik dsb; akan memacu pertumbuhan dan perkembangan aktivitas produktif masyarakat lokal tsb.
  • Human resource development (pembangunan Sumber Daya Manusia). Berkait dengan penentuan kebijakan publik, badan-badan usaha yang mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan sumber daya manusia lokal semisal melalui program CSR terarah layak diberi insentif. Demikian juga dengan perguruan tinggi yang konsisten melakukan kegiatan penelitian ilmiah dan pengabdian kepada masyarakat berkait dengan pengembangan sumber daya manusia lokal seperti yang dilakukan FSRD dan Sekolah Bisnis ITB yang merangsang tumbuh dan berkembangnya kampung-kampung kreatif di sekitar kota Bandung layak dipertimbangkan secara saksama sebagai mitra kerja jangka panjang pemerintah setempat. Apalagi jika ada Sekolah Menengah Kejuruan setempat yang membuka jurusan atau minimal program ekstra kurikuler khusus pengembangan produk unggulan lokal tsb.
Aplikasi program CSR terarah lebih menguntungkan tanpa disertai keharusan perusahaan ybs menjadi bapak angkat komunitas produktif lokal tsb. Pengalaman yang terjadi selama ini banyak membuktikan bahwa pola anak-bapak angkat tidak efektif dan hanya menguntungkan sebagian kecil orang baik yang ada di dalam komunitas, terutama orang-orang atau lembaga yang “merasa memiliki” tapi tak pernah atau tak mampu memelihara kontribusi positifnya bagai pengembangan sumber daya manusia lokal.   

Kunci sukses aplikasi OVOP:
  1. Local residents’ awareness for their own potential and their region’s resources. Kesadaran masyarakat setempat atas potensi diri dan sumber-sumber daya yang ada di lingkungannya.
  2. Recognition of treasures in the area. Pengakuan sebagai kekayaan (budaya dan ekonomi lokal)
  3. Continuity is Power (kontinuitas sebagai kekuatan utama)
  4. High-value-added Products (produk-produk yang dihasilkan bernilai tambah tinggi).
  5. Secured sales route (ada jaminan atas ketersediaan produk yang siap jual).
  6. Human resources development (pembangunan sumber daya manusia)
Ke 6 kunci sukses di atas cukup jelas.

Think globally, Act Locally
(berpikir secara global, bertindak dengan cara lokal)

Berpola pikir global atau terbuka (outward looking) pada dasarnya adalah cara berpikir  keluar dari kerangka yang biasanya terjadi (out of box) dan tidak gaptek / gagap teknologi (as sound of  IT update). Itulah yang terjadi dalam OTOP di Thailand. Program internet masuk desa untuk memacu perkembangan aktivitas produktif dan inovatif masyarakat desa. Sehingga aliran informasi dari dan ke setiap desa yang memproduksi barang-barang berkualitas tinggi dan layak jual secara global berlangsung lancar.  Dan transaksi dapat dilakukan dengan lancar juga.
Bertindak dengan cara lokal pada intinya adalah penghormatan atas tradisi dan kearifan lokal. Keberhasilan OTOP di Thailand adalah kepiawaian pemerintah setempat menginspirasi, bukan mengintervensi, perubahan pola pikir  yang kemudian berdampak positif dalam pola tindak masyarakat setempat dengan tetap mengapresiasi tradisi dan kearifan lokal secara proporsional.

Demikian sumbang pikir saya secara garus besar sebagai dukungan pribadi bagi upaya Pemkab Kebumen mengintensifkan kualitas material dalam Lomba Riset Unggulan Daerah 2013 yang bertema OVOP Kerajinan Pandan ini. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. 

Minggu, 05 Mei 2013

Yang Cantik Dari Indah (Sambungan)


Bagaimanapun, keputusan telah diambil dengan segala risikonya. Dan kedua orangtua Wiwid ternyata mendukung keputusan itu. Dengan sisa tabungan selama ia bekerja di pasar swalayan dan keuntungan yang disisihkan untuk modal mengembangan bisnis produk kemasan di Kebumen, ia terpaksa pulang-pergi Kebumen-Purwokerto dengan kereta api atau bis jarak pendek. Restu dan keterlibatan sang bunda dalam memproduksi kotak-kotak kemasan yang ia tekuni mulai mendapatkan pasar di tanah kelahiran. 

Keuletan dirinya melobi pemilik Jadi Baru Swalayan yang baru dua tahun beroperasi di Kebumen akhirnya membuahkan hasil. Ia mendapat sepetak ruang di lantai atas yang kemudian bertambah seiring dengan volume penjualan produk-produknya. Menurut penuturan Wiwid yang dikuatkan sang bunda, toko swalayan ini menerapkan sistem bagi hasil yang saling menguntungkan. Meski belum semua barang yang dititipkan laku terjual, pihak manajemen toko membayar penuh secara periodik. Kemudahan inilah yang medorong Wiwid berani mengutarakan niatnya untuk segera berumah tangga dan ikut suami hidup di Kota Kembang, Bandung.

Sepeninggal Wiwid, usahanya diteruskan sang bunda bersama suami dan adiknya yang masih siswa kelas 1 SMP. Bu Sapto mengambil alih semua, dari membeli bahan, produksi sampai pemasarannya. Ketika saya tahu hasil produksi mereka unik dan berkualitas, tanpa ragu ikut mendorong Indah untuk mengaplikasikan pelajar matematika yang didapat di  sekolah. Tak sampai sebulan, Indah (Vicky) mampu menghadirkan model baru berupa kemasan segi delapan yang selama ini baru berbentuk kotak atau persegi panjang.

Indah dan kedua orangtuanya telah membuat dan memasarkan 27 jenis (varian), Dengan tambahan satu dari segi delapan, Indah bermaksud membuat model-model baru yang lebih aplikatif. Semisal berbentuk hati atau silindrik (bulat). Kedua model ini memang masih diuji-coba produksi. Bahkan ketika saya sarankan ia membuat berbagai model produk kombinasi dengan limbah batang pisang (gedebog) kering serta pandan, ia sangat antusias. 


Mendorong semangat wirausaha untuk remaja seusia Indah memang memerlukan kiat khusus: 
  1. Harus mampu menyelami dunia remaja kekinian;
  2. Mengajak dengan cara dan gaya bahasa mereka;
  3. Memberi contoh sesuai logika yang ia miliki;
  4. Mendorong kreatifitas tanpa penekanan target volume dan nilai transaksi;
  5. Tetap mengutamakan kegiatan belajar mengajar (sekolah)

Vicky Indah adalah potensi sumber daya manusia masa depan bagi diri, lingkungan dan masyarakatnya. Peran utama orang-orang dewasa di sekitarnya adalah  menyediakan ruang dan suasana kondusif. Jika di lingkungan itu ada beberapa orang seperti Indah, jangan biarkan mereka berkembang tanpa arah dan tujuan yang jelas. Merekalah tunas-tunas muda yang akan menentukan masa depan bangsa Indonesia. Semoga      

Selasa, 16 April 2013

Kartini Update Jaman Ekonomi Kreatif: Sosok Irma Suryanti



Sebagian besar orang mungkin punya penilaian bahwa penyandang cacat adalah orang-orang yang selalu terpinggirkan, peminta-minta, pelengkap kehidupan maupun hal-hal yang serba kurang mengenakkan yang didapatkan. Hal itulah yang selama ini dilihat dalam keseharian. Biasanya, begitu melihat seorang penyandang cacat sikap kita jadi iba. Mereka adalah kaum yang layak dikasihani. Setidaknya itu yang kita lihat di berbagai papan pengumuman di fasilitas umum semisal kereta api. Mereka harus diberi perlakuan khusus! Itulah intinya. Karena itu, jika ada penyandang cacat yang sukses besar itu mungkin hanya sebuah cerita di negeri dongeng.
Kerangka berpikir umum semacam itu memang telah berlangsung dari waktu ke waktu dan menjadi maklum. Tapi tidak buat seorang perempuan penyandang cacat tubuh karena menderita polio sejak usia balita. Dialah Irma Suryanti, seorang perajin kain perca yang meraih sukses bagi banyak orang. Terutama para penyandang cacat, mantan buruh migran (TKI/TKW) dan orang-orang yang dikategorikan sebagai penyandang masalah sosial (PSK, waria dsb). Sekitar 1.000 orang dari mereka ada beberapa yang telah mampu mandiri dan mengembangkan kegiatan ekonomi kreatifnya. Juga 10.000 lebih orang normal secara  fisik di berbagai kabupaten/kota se Indonesia mendapat bimbingan teknis di bidang usaha sejenis maupun sebagai sub kontraktor. Irma dan teman-teman bergabung dalam Mutiara Handicraft ini, dengan visi dan misi yang sangat unik. Dari tempat tinggalnya di Desa Karangsari Kecamatan Buayan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah Indonesia.

Nasihat yang biasa Irma berikan kepada orang-orang yang mendapat bimbingannya adalah: mulai dari hal sederhana. Berdasarkan pengalaman pribadi, dengan mengubah limbah pabrik menjadi produk yang bernilai jual tinggi, sungguh sangat tepat untuk sebuah impian memulai usaha yang nyaris tanpa modal. Hanya butuh keuletan, keteladanan, keahlian, serta inovasi saja. Itulah sederet kalimat yang dilontarkan Irma ketika memberi motivasi bagi warga binaan. Sederhana dalam berpikir nampaknya mudah diucapkan, tapi sangat sulit diwujudkan. Karena ada semacam keyakinan umum bahwa menjalankan sebuah kegiatan bisnis perlu bermodal cukup atau besar.

Kesederhanaan berpikir tidak berarti sama dengan jadoel oriented atau berorientasi ke masa lalu. Seorang inovator biasa menggunakan kerangka berpikir sederhana dalam menghasilkan produk maupun jasa yang berkesan rumit dan luar biasa karena melangkahi masanya. Bill Gates misalnya, mengembangkan konsep aplikasi piranti lunaknya dari hobi bermain bridge. Demikian juga dengan Irma yang menciptakan model-model produknya dari beragam permainan anak dan hal-hal sederhana yang ada di lingkungan sekitarnya. Ia mengubah citra kesed yang selama ini berbentuk kotak menjadi beragam bentuk lucu dan unik. Dari yang semula untuk alas penyaring kotoran sepatu serta alas kaki lainnya, kini tampil sebagai bahan-bahan dekoratif dan fungsional.
“Ini pekerjaan yang sangat mudah ibu-ibu. Siapapun bisa. Kita hanya butuh ketelatenan saja.” Ujar Irma yang sudah keluar masuk perguruan tinggi untuk memberikan motivasi dan pembelajaran. Menurut dia, setelah dari Unsoed ini, ia juga akan melakukan hal yang sama di Institut Teknologi Bandung (ITB).


Irma Suyanti merupakan sosok wanita penyandang cacat yang mampu melawan  keterbatasan diri, ketidakadilan, pencibiran maupun pelecehan yang selama ini disandangkan kepada sesamanya. Sejak tahun 1999, selepas menikah dengan Agus Priyanto (seorang penyandang cacat juga), ia berusaha untuk melawan keterbatasannya melalui usaha mandiri yang bermanfaat. Lambat-laun ia mampu membuktikan bahwa produk yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan pasar baik di dalam maupun luar negeri.
Atas prestasi yang diraih dengan kesungguhan, sederhana, ulet dan optimis Irma Suryanti mendapatkan sejumlah penghargaan. Diantaranya Wirausahawati Muda Teladan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (2007), Perempuan Berprestasi 2008 dari Bupati Kebumen (2008), dan Penghargaan dari Jaiki Jepang, khusus untuk orang cacat. Dan yang terakhir adalah penghargaan dari SCTV Award 2012.  Mengubah sesuatu hal biasa menjadi luar biasa adalah pekerjaan atau kebiasaan orang kreatif. Dan Irma layak dinobatkan sebagai Kartini Update di Jaman Ekonomi Kreatif.

Saat menerima penghargaan dari Mepora Adiyaksa Dault

sederhana, ulet, teladan...

Kamis, 11 April 2013

FIESTA de LUK ULO (Konsep Ringkas - Update)


Konsep  festival dipilih agar beberapa kegiatan dapat dicakup serentak. Ada wisata air seperti lomba pacu rakit berbahan batang pisang (gedebog) dan aneka permainan anak yang menjadi ciri khas permainan anak pereng Kali Luk Ulo. Lomba Mancing yang menjadi “gong” berpadu dengan Festival Kuliner dan lain-lain. Konsep festival membuka peluang beragam kegiatan dikemas dalam satu wadah “Luk Ulo Fiesta 20,,,”.

MAKSUD dan TUJUAN

Festival Kali Luk Ulo tahun 20.., dimaksudkan untuk :
  1. Memberikan hiburan murah dan aman bagi warga masyarakat Kabupaten Kebumen dan sekitarnya.
  2. Mengenalkan Kali (Sungai) Luk Ulo sebagai salah satu icon aktivitas kreatif  Kabupaten Kebumen.
  3. Pendidikan lingkungan bagi generasi muda.
  4. Pengembangan kegiatan wisata lingkungan.
  5. Perintisan dan pengembangan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Kebumen.

Tujuan utama kegiatan ini adalah mengembangkan potensi kreatif para pemuda Kebumen dalam beragam  kegiatan produktif dan kewirausahaan yang ramah lingkungan.

KONSEP FESTIVAL

Festival adalah kegiatan yang menampilkan kemeriahan yang dapat diisi dengan beragam jenis kegiatan saling berkait. Festival Kali Luk Ulo 2012 adalah perpaduan antara kegiatan olahraga, hiburan, wisata, pendidikan lingkungan dan kewirausahaan. Ada 2 jenis kegiatan olahraga yang akan dilaksanakan yakni Lomba Mancing Ikan Bersisik dan outbond.
Hiburan akan diisi dengan lomba permainan anak tradisional seperti kunclungan, mengambang di air dengan sarung terlama dan lain-lain. Atau atraksi kesenian tradisional yang akan diselenggarakan di sekitar lapangan basket dan bekerjasama dengan Kelenteng Khong Hui Kiong. Kegiatan hiburan ini dapat juga dikembangkan dengan beragam festival, lomba atau penampilan kelompok-kelompok kesenian yang potensial dikembangkan sebagai aset ekonomi kreatif masyarakat Kabupaten Kebumen.
Sementara itu, pendidikan lingkungan dilaksanakan dengan cara memberikan pemahaman, bimbingan dan praktik di sepanjang lokasi festival yang direncanakan sepanjang 1 km. Mulai dari bawah Jembatan Kutosari (jembatan baru di Selatan Alun-alun kota) sampai Jembatan Renville (jembatan kereta api). Pendidikan lingkungan ini bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan mencerahkan pemahaman tentang pentingnya memelihara lingkungan alam Kali Luk Ulo di sepanjang jalur festival khususnya dan daerah alirah Sungai Luk Ulo pada umumnya.

Dalam kegiatan kewirausahaan, akan diselenggarakan festival kuliner berbahan dasar ikan bersisik yang hidup dan berkembang biak di Kali Luk Ulo yang mengikutsertakan para petani ikan yang banyak beraktivitas di sebelah Utara lokasi. Serta beberapa kegiatan lain yang menunjang tujuan pengembangan ekonomi kreatif warga masyarakat sekitar lokasi festival khususnya.

Selasa, 09 April 2013

Kampoengkoe Kreatif Forum

Menggagas Konsep

kkF adalah kependekan dari kampoengkoe kreatif Forum. Satu forum informal yang dimaksudkan untuk mengawali langkah menuju terbentuknya wadah bagi perorangan, komunitas kreatif dan badan2 usaha yang peduli serta memiliki visi sama dalam membangun kekuatan ekonomi/industri kreatif warga. Atau kelompok-kelompok kegiatan masyarakat di Kabupaten Kebumen berbasis aktivitas kreatif. Menurut pengertian yang dikeluarkan oleh pemerintah (c.q Kementrian Perdagangan), ekonomi atau industri kreatif adalah sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Ada 14 sub sektor kegiatan ekonomi berbasis aktivitas kreatif :
1.      periklanan;
2.      arsitektur;
3.      pasar barang seni;
4.      kerajinan;
5.      desain;
6.      fesyen;
7.      video, film dan fotografi;
8.      permainan interaktif;
9.      musik;
10.  seni pertunjukan;
11.  penerbitan dan percetakan;
12.  layanan komputer dan peranti lunak;
13.  televisi dan radio; serta
14.  riset dan pengembangan.
Satu sub sektor yang masih dalam kajian intensif dan segera menyusul yaitu kuliner.

MAKSUD & TUJUAN PENDIRIAN kkF

Sebagai rintisan menuju satu wadah komunitas kreatif, kkF berupaya untuk:
1.      Menjadi wadah penguatan masyarakat madani (civil society) yang mandiri (independent) dan tidak terafiliasi baik langsung atau tidak langsung dengan Organisasi Massa atau Partai Politik manapun, baik ditingkat lokal atau nasional.
2.      Menjadi forum komunikasi, koordinasi dan usaha bagi perseorangan atau badan usaha atau komunitas kreatif di Kebumen.
3.      Menjadi forum bersama untuk memberikan daya tawar lebih besar dalam penguatan ekonomi bagi para anggota, pelaku ekonomi/industri kreatif dan Kab, Kebumen sekitarnya.
4.      Menambah daya dorong pengembangan dan pemberdayaan potensi kreatif warga Kab. Kebumen.
5.      Memperkenalkan Kab. Kebumen sebagai Kota Kreatif, baik di tingkat nasional maupun internasional,
6.      Menjalin kerjasama baik ditingkat Nasional atau Internasional untuk kepentingan pengembangan dan pembangunan ekonomi/industri kreatif di Kab. Kebumen.
7.      Mengembangkan kreatifitas sebagai upaya untuk pemberdayaan ekonomi dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat sipil, kelestarian ekosistem dan penghargaan terhadap keaneka-ragaman budaya.
(diadopsi dari BCCF/ Bandung Creative City Forum)

Anatomi Sederhana Potensi Ekonomi Kreatif
Di Kabupaten Kebumen :

  1. Kuliner : pusat produksi jajanan Gg. Pudak (Keposan) Kel. Kebumen dan Desa Muktisari (pembuat roti/kue) serta komunitas produsen lanthing di Desa Pohkumbang Kec. Karanganyar dll;
  2. Periklanan : komunitas penyablon dan pembuat media luar ruang, Puspita Warna dll;
  3. Kerajinan : cluster kerajinan anyaman pandan di Kecamatan Karanganyar dsk; dan kelompok perajin anyaman bambu di  Kecamatan Petanahan (dikordinasi: Hanito Kreasindo/ Hipando Pusat);
  4. Video, film dan fotografi: ASA, Anto Jadul, Brantasena dll;
  5. Seni Pertunjukan : FoPSeT/Sanggar Ilir dll;
  6. Televisi dan radio: PRSSNI Kebumen, Ratih TV dll;
  7. Layanan komputer dan peranti lunak: ??
  8. Fesyen (segala varian baju dan celana), tas dll.

Jika anatomi sederhana di atas representatif, maka LUKFEST 2013/2014 mungkin dapat menjadi ajang pertama munculnya potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Kebumen. LUKFEST atau Luk Ulo Festival adalah perwujudan kesepakatan dari semua anggota kkF dalam sebuah ajang festival. Luk Ulo bukan sekadar bentuk wadag sungai yang ada di Kabupaten Kebumen. Ia punya makna dan daya gerak. 

Selasa, 02 April 2013

Selamat Datang Era Ekonomi Kreatif Semoga Membawa Kejayaan Bagi Bangsa Indonesia



Itulah sederet kata yang ada dalam tulisan Eddy Cahyono Sugiarto, Asisten SKP Bidang Ekonomi dan Pembangunan di situs resmi Sekretariat Kabinet RI  (http://www.setkab.go.id/ artikel-6693-.html ). Mengingat  peran ekonomi kreatif yang semakin meningkat bagi perekonomian suatu wilayah. Utamanya terhadap pengembangan ekonomi berbasis UMKM (Usaha Menengah, Kecil dan Mikro), maka tidaklah berlebihan bila  semakin banyak kota yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai ujung tombak  dan katalisator pengembangan ekonomi daerahnya.   Untuk menjadi pemenang di tengah persaingan yang semakin ketat, menurut Florida (The Rise of Creative Class), kota-kota, daerah dan provinsi harus lebih menumbuhkan "iklim orang-orang." Yang dimotori  oleh kaum muda, dengan  semangat inovasi dan kreatifitas, memoles sesuatu yang “biasa”  menjadi “luar biasa”.

Kontribusi sektor ekonomi kreatif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2010 mencapai Rp 472,8 triliun dan mampu menyerap 11,49 juta tenaga kerja dan  2011 naik menjadi Rp 526 triliun dengan serapan 11,51 juta tenaga kerja. Tahun ini (2013-pen) angka itu ditargetkan terdongkrak menjadi Rp573,4 triliun dengan serapan 11,57 juta tenaga kerja. Pengembangan ekonomi kreatif  akan sangat berperan dalam mengembangkan job creation, mengingat besarnya potensi ekonomi kreatif yang dimiliki Indonesia. Dengan lebih dari 300 suku bangsa. Dari sisi demografi penduduk usia muda yang mencapai 43% menjadi modal plus yang kita miliki, karena kreatifitas sangat dekat dengan kaum muda. Pengembangan ekonomi kreatif juga akan  berdampak langsung  bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah,  mengingat sektor ekonomi kreatif,  sebagian besar digerakkan oleh pelaku UMKM  dan  sangat potensial menjadi kekuatan dashyat untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju


Dua alinea di atas sengaja saya hadirkan relatif penuh untuk mengawali pembahasan Bagian II dari tulisan sebelumnya:  OVOP dan Ekonomi Kreatif. Dengan tetap menyandingkan dua konsep dasar pengembangan/ pembangunan SDM yang tengah menjadi trend di negara-negara maju di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global, diharapkan membuka cakrawala pandang yang lebih segar dan konstruktif atas kerangka berpikir ortodoks yang dipraktikkan oleh penyelenggara pendidikan formal dewasa ini. Kesengajaan tidak menghadirkan angka agar kesan subyektif lebih ditonjolkan ketimbang yang obyektif. Selain menyangkut masalah selera, juga dimaksudkan untuk menghindari upaya copas (copy – paste atau klik kanan) yang tidak menggugah sel-sel syarat di otak kanan manusia. Karena pada sisi ini, potensi kreatif manusia dapat diangkat dan dikembangkan secara optimal.

Daya cipta adalah anugerah terbesar yang diterima oleh manusia dari Sang Maha Pencipta. Dalam konteks budaya, daya cipta perlu dibarengi dengan karsa agar mampu menghadirkan karya-karya yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup diri dan manusia lainnya. Semakin terbuka cakrawala pandang seseorang atas isi dunia ini, semakin luas jangkauan tangannya untuk meraih hal-hal luar biasa. Jika sebelumnya ia hanya mampu meraih sesuatu yang ada di sekitar dirinya, dengan meluasnya daya jangkau pandangan yang mampu dilihatnya, ada kecenderungan untuk meraih keluar-biasaan itu. Itulah yang dirasakan oleh Gubernur Oita ketika menggagas konsep OVOP. Begitu juga dengan Bill Gates dengan Microsofnya. Atau yang lebih sederhana adalah kota Bangkok dengan kemasan paket wisata Chao Praya River dan sebagainya.

Chao Praya River
Pada tulisan sebelumnya, ada dua kategori faktor penghambat bagi pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Yaitu yang berkaitan dengan masalah orientasi atau menghadirkan iklim kondusif yang tidak semua pengambil kebijakan publik di daerah-daerah mampu menghadirkannya secara efektif dan konsisten karena bias kepentingan. Kategori kedua yakni masalah apresiasi yang saya sebut dengan istilah masalah budaya. Kedua kendala ini tidak dapat dipecahkan secara parsial, harus komprehensif dan diprogram serta melibatkan secara langsung orang-orang kreatif di dalamnya.

Dari pengalaman pribadi, ketika menggagas dan mengusulkan Festival Luk Ulo 2012 sebagai pengembangan kegiatan Lomba Mancing di Sungai Luk Ulo, ada kesan kuat bahwa Kabupaten Kebumen belum siap menghadapi era ekonomi baru yang kini popular dengan sebutan ekonomi kreatif. Kesan ini saya perolah dari “sepinya” tanggapan, baik semua tingkat pemerintahan : lurah sampai bupati. Atau lembaga yang berkompeten, terutama Dinas Pariwisata dan Budaya, meski proposal telah diserahkan ke Bappeda dan dipublikasikan melalui jejaring sosial facebook, twitter dan blog jauh waktu sebelum rencana pelaksanaan. Tapi, mungkin juga karena lobby yang kurang kuat dibanding kegiatan pencatatan rekor MURI atas kerajinan anyaman yang mengundang massa sangat banyak dan dihadiri oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM meski sampai sekarang masih menyisakan masalah dengan kelompok perajin. Atau faktor lain yang tidak saya ketahui dan Lomba Mancing di Sungai Luk Ulo 2012 tetap terlaksana meriah (beberapa anggota panitia sempat gelisah ketika saya mengambil foto lokasi sebelum jam pelaksanaan).
Rakit di Sungai Luk Ulo
Terlepas dari pengalaman pribadi di atas, saya ingin menyoroti Festival Seni ARTE 2013 yang spektakuler. Perpaduan dinamis antara unsur klasik dan modern di tempat dan waktu yang tepat: Jakarta Convention Center, 27 – 31 Maret 2013 lalu. Dari berbagai publikasi foto dan berita yang bisa saya kumpulkan, tidak muncul jumlah pengunjung dan nilai transaksi yang dibukukan dalam kegiatan itu. Yang menarik dari kegiatan ini adalah penyelenggara yang didominasi oleh kaum muda dan keputusan untuk membebaskan pengunjung dari HTM (harga tanda masuk) alias free entry atau gratis. Bagi orang awam seperti saya, keputusan menggratiskan tanda masuk ke arena festival adalah satu diantara banyak nilai plus festival seni itu. JCC adalah prestis, meski bukan satu-satunya arena pameran bergengsi di Jakarta.

Mengatasi tantangan,  menerjemahkan komitmen

Besarnya potensi pengembangan ekonomi kreatif yang dimiliki Indonesia,  dengan karunia Tuhan akan kekayaan  dan keragam-an  budaya, keindahan geografis wilayah serta  sumber daya manusia kaum muda yang indentik dengan  dunia kreatif, perlu ditransformasikan menjadikan kekuatan  ekonomi baru yang peningkatan  daya saing dan nilai tambah ekonomi sehingga  dapat berkonstribusi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat sebagaimana cita-cita didirikannya suatu negara. Oleh karena itu,  diperlukan adanya sinergitas dari semua pemangku kepentingan, dalam mengatasi berbagai tantangan yang berpotensi menjadi bottleneck  pengembangan ekonomi kreatif, utamanya    dalam membangun akselerasi sinergitas dalam meningkatkan  kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) kreatif.  Karena mayoritas SDM yang menyokong  ekonomi kreatif  Indonesia sebagian besar belajar secara otodidak . Di samping itu, perlindungan HAKI yang  kita miliki juga masih jauh dari harapan. Infrastruktur teknologi informasi belum kompetitif dan dukungan pembiayaan dari perbankan yang belum optimal, disamping penetrasi pasar yang lemah  karena adapsi teknologi informasi melalui online marketing belum membudaya.

Bercermin dari beberapa bottleneck   yang diidentifikasikan di atas, seyogyanya Kementrian/Lembaga di pusat dan daerah  sebagai perumus kebijakan ekonomi kreatif diharapkan dapat memfasilitasi, memotivasi dan menginspirasi pengembangan ekonomi kreatif dalam bentuk rencana aksi yang kongkrit dan terukur. Dengan menjadikan ekonomi kreatif sebagai bisnis masa depan yang menjanjikan, memfasilitasi promosi dan mengintensifkan bantuan modal usaha. Kalangan bisnis diharapkan dapat mengoptimalkan  self development, mengembangkan kapasitas usaha melalui sistem lokomotif – gerbong, dari pengusaha besar ke pengusaha kecil. Dan tak kalah pentingnya adalah dukungan cendekiawan melalui pengembangan penetrasi pasar dengan pemanfaatan online  marketing. Di samping berbagai terobosan lain, berpikir out of the  box,  menciptakan  linkage atau konektivitas ekonomi kreatif dengan pariwisata,  sebagai venue untuk proses produksi, distribusi sekaligus pemasarannya. 
Rekomendasi Asisten SKP Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Eddy C. Sugiarto, ini sudah lebih dari cukup untuk mengambil langkah tepat  bagi daerah (pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota) dalam menetapkan kebijakan pembangunan ekonomi wilayahnya berbasis ekonomi kreatif. Alasan klasik keterbatasan anggaran tak perlu lagi jadi “kambing hitam” karena ada program Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai BUMN maupun perusahaan nasional, KUR, PPK, PNPM dan sebagainya. Sepanjang ada komitmen yang jelas dan tegas, bukan hanya kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo dan Denpasar saja yang mampu mengaplikasikan konsep pembangunan kewilayahan ini. Kota/ Kabupaten kecil seperti Kebumen justru dapat mengambil keuntungan maksimal dari peluang memajukan pembangunan ekonomi dengan pendekatan aktual ini. Apalagi jika dipadukan dengan konsep OVOP.

Sekadar gambaran kasar, perpaduan dua konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis aktivitas dalam rerangka ekonomi kreatif dan OVOP di Kabupaten Kebumen selain kerajinan anyaman pandan dapat juga dilakukan pada sentra industri kuliner lanthing sebagai jajanan khas. Keduanya berlokasi di Kecamatan Karanganyar dan secara sosiologis masyarakatnya cukup terbuka jika dibandingkan dengan kota Kebumen. Tetapkan wilayah ini sebagai basis pembangunan ekonomi dan jadikan wilayahnya sebagai “ajang adu prestasi” bagi para calon pemimpin wilayah.  Dalam banyak hal, Karanganyar lebih memenuhi syarat kualitatif dibanding 25 kecamatan lain. Tidak yakin ? Silakan kaji secara ilmiah, kalau perlu mendatangkan peneliti dari UGM, UI, ITB dan IPB. Lebih afdol jika melibatkan organisasi profesi semacam Hipando dsb. Dan bentangkan baliho raksasa: “Selamat Datang Ekonomi Kreatif dan OVOP di Kabupaten Kebumen”. Semoga membawa kejayaan bagi masyarakat Beriman. Amien 3x ya robbal ‘alamin. 

Senin, 25 Maret 2013

OBSESI(KU) UNTUK PERAJIN ANYAMAN PANDAN DI KEBUMEN


Mewujudkan cita-cita adalah wajib bagi manusia. 
Karena cita-cita itu merupakan motivasi untuk maju dan berkembang. Tetapi proses pencapaiannya dapat berbeda antara satu dan lain orang. Ada yang mulus, tersendat atau macet.

Kerajinan anyaman pandan di Desa Grenggeng Kecamatan Karanganyar sudah saya kenal sejak tahun 1990. Saat saya dikenalkan oleh almarhum Bapak Abdurrahman selaku petugas lapangan pada kantor Dinas Perindustrian Kabupaten Kebumen. Secara garis besar, visi kami serupa yakni mengembangkan industri rumah tangga ini sejajar dengan Tasikmalaya (Rajapolah) yang selama ini merupakan konsumen terbesar complong (hasil anyaman berbentuk silindrik)  produksi perajin anyaman Grenggeng melalui pengembangan desain dan pasar. Dari mas Rahman, kemudian saya mengenal nama-nama pemuka di komunitas perajin yang saat itu bergabung dalam wadah KUB (Kelompok Usaha Bersama) Pandansari. Yaitu Ibu Djumarnah, Ibu Djamhari dan Ibu Maryani. Nama terakhir adalah orang yang sering berkomunikasi dan saya ajak mengikuti pameran di beberapa tempat seperti Balai Kerajinan Provinsi DKI Jakarta dan Jakarta Design Center.


Sebenarnya jalur saya berbeda dengan pandan. Sejak ikut pelatihan manajemen dan desain kerajinan bambu yang diselenggarkan oleh Yayasan Pengembangan Desain Kerajinan Indonesia (YPDKI) 1991, tentunya saya lebih fokus di lingkungan kegiatan kerajinan bambu. Khususnya untuk furnitur. Setelah melakukan kaderisasi, saya meninggalkan Kebumen untuk urusan pribadi dan kembali akhir 1995. Tentu saja masih tetap memantau dan melakukan kunjungan lapangan saat pulang kampung. Masa-masa itu masih sangat berat untuk menggantungkan “nasib” pada kegiatan kerajinan (mungkin tidak berlaku untuk yang lain).

Ketertarikan pada perkembangan kegiatan kerajinan pandan di desa Grenggeng dan sekitarnya sebenarnya tidak pernah pudar. Karena itu, ketika melihat ada potensi besar pada pribadi Yahya Mustofa yang saya kenal saat melakukan aktivitas bersama pada program pengembangan Lembaga Ekonomi Produktif Masyarakat Mandiri (LEPMM) di tengah tahun 1999 (salah satu pemicu perkembangan BMT di Kabupaten Kebumen), saya dorong dia agar lebih fokus  pada “nasib” industri kerajinan pandan meski posisi formalnya lebih tinggi dari saya. Hampir semua pengetahuan dan pengalaman saya berikan untuk menambah bekal dirinya. Dia bisa melakukan dan selanjutnya mengangkat dirinya sebagai “tokoh” penting dalam industri kerajinan di Kabupaten Kebumen. Bahkan tak tanggung, setelah menerima Danamon Award, ia raih Upakarti untuk kategori kepeloporan pemuda dari Presiden RI. Sebagai mentor, saya bangga mendengarnya (meski yang bersangkutan memberitahukannya terlambat beberapa bulan). Dalam rentang waktu yang relatif pendek (sekitar 9 tahun), Yahya Mustofa melesat dalam bendera Dubexcraft jauh di depan para pegiat seperti ketiga orang yang disebut di atas dan Ibu Ngatini yang setia menemani perjalanan dirinya selama ini.

 Ibu Ngatini

Singkat cerita , ia (entah karena alasan apa) menemui dan mengajak saya agar aktif kembali dalam kegiatan pengembangan kerajinan anyaman. Kali ini tak tanggung lagi, berskala nasional di bawah nama Himpunan Perajin Anyaman Indonesia (Hipando) melalui Temu Karya Kerajinan Nasional di Hotel Maharani Jakarta 27-29 Oktober 2010. Dari sini, saya dapat lebih mengenal pribadi Ibu Ngatini sampai sekarang. Seperti biasa, saya menduga akan dijadikan trigger di arena itu. Ternyata benar, jabatan double selaku Sekretaris II di tingkat nasional dan Kordinator Provinsi Jawa Tengah. Bukan kebanggaan yang saya terima. Justru prihatin karena sampai saat ini belum mampu jadi jembatan bagi perajin anyaman di Jawa Tengah. Banyak kendala internal dan eksternal yang harus dihadapi.  Berbagai upaya telah saya lakukan secara pribadi dan dorongan semangat dari Ibu Ngatini dan kawan-kawan agar Hipando bukan sekadar papan nama seperti organisasi sejenisnya.

Terlepas dari adanya kendala yang selalu dialami oleh setiap orang dan organisasi, hal yang lebih penting adalah komitmen dan langkah nyata. Pergulatan selama lebih dari dua tahun nampaknya akan membuahkan hasil jika usulan kami (saya dan Edie “Bonggol Jagung” Juandi) kepada Kementrian Perindustrian RI tentang program Pelatihan Industri Kerajinan Ekspor Berbahan Serat Alami dapat direalisasikan segera. Kerajinan Anyaman Pandan adalah adalah satu prioritas. Semoga. 

Sabtu, 23 Maret 2013

Yang Cantik dari Indah


Bukan hanya stasiun TV saja yang punya jargon " wow keereeeeeeen". Hasil karya kreatif gadis imut ini pantas memilikinya. Secantik dirinya, beragam kotak fungsional untuk kado, pensil, perhiasan dan lain-lain, lebih tampak keren dan ngetrend ada di dalamnya. Itulah kesan yang saya tangkap saat berkunjung ke rumah Vicky Indah yang usianya belum genap 15 tahun. Didampingi kedua orang tuanya, Bapak dan Ibu Sapto yang berada di bibir Sungai Luk Ulo Pasarpari Kebumen, Vicky, sebutan akrab gadis yang belajar di Kelas 9 SMPN 2 Kebumen ini menuangkan ide-ide kreatif di waktu senggangnya.

Dalam gaya khas remaja, Vicky menceritakan kegiatan membuat produk-produk kemasan cantik untuk berbagai keperluan yang telah dijalani lebih dari setahun.  Ia memang bukan orang pertama yang mengawali kegiatan itu. Adalah Dwi Ratrianti Widiastuti yang akrab dipanggil mbak Wiwid ini yang  memulai aktivitas industri kreatif kerajinan tangan. Ia adalah kakak Vicky yang saat ini tinggal di pinggir Kota Kembang, Bandung.

Tiga tahun lalu, saat mbak Wiwid kerja di salah satu toko swalayan di Purwokerto menerima sebuah paket kiriman salah satu pemasok barang buat tempatnya bekerja. Begitu melihat satu kotak segi empat berbalut kertas kado cantik, tiba-tiba muncul ide menirunya. Ia menggali informasi dari orang-orang yang ada di sekitar tempat kerjanya. Tak puas dengan jawaban yang ia dapatkan, mbak Wiwid memberanikan diri minta satu kotak pembungkus sepatu kepada teman yang mengelola pojok sepatu di toko swalayan itu. Sampai di pondokan, ia telah bersiap melakukan duplikasi alias nyontek produk kemasan yang dilihatnya beberapa hari sebelumnya. Entah sudah berapa kali ia mencoba, begitu selesai dibuat ia selalu bilang dalam hati " akh...belum pas dengan angan-angan". 

Sampai akhirnya merasakan sesuatu yang kurang lebih membuat decak kagum teman-teman kerjanya. " Wow....keren Wid. Beli di mana kotak kado yang kamu bawa?", tanya seorang teman. Wiwid menjawab ringan " bikin sendiri !". Kaget atau kagum..itulah yang muncul dari ekspresi wajah sang teman. " Bener Wid... ini bikinan kamu?" . Wiwid hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Atas saran teman lain yang posisinya cukup menentukan di toko swalayan itu, Wiwid meminta bantuan salah satu pemasok untuk memasukkan hasil karya kreatifnya di toko tempat ia kerja. 

Sosok imut Vicky Indah 

Luar biasa sambutan konsumen. Wiwid sempat kewalahan menerima permintaan mereka. Untuk memenuhi permintaan itu, ia sering terlambat tidur dan kurang istirahat. Bayangkan, jam 2 atau 3 pagi baru berangkat tidur, paling lambat jam 8 harus bangun dan berangkat ke tempat kerjanya dengan berjalan kaki sekitar 500 m dari pondokan atau sekitar 10 menit. Sementara itu, waktu masuk kerja giliran pagi adalah  jam 9. Karena itu, jika pesanan sedang tinggi, rasa kantuk dan letih ia alami berkali-kali di tengah waktu kerja. Teguran demi teguran ia terima dari atasan. Akhirnya Wiwid harus menentukan pilihan: jadi karyawan atau pengusaha produk kerajinan kemasan. Ia pilih jadi pengusaha meski dalam bayang gelisah jika pesanan sedang sepi. Keputusan ini dilanjutkan dengan keputusan lain: kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan kedua orang tua kandungnya. Iapun harus siap menghadapi tantangan jarak Kebumen - Purwokerto dengan moda transportasi umum. Bus atau kereta api kelas ekonomi agar ngirit ongkos. Tantangan lain yaitu membuka peluang pasar di Kebumen yang tidak diketahui dan mungkin juga sikap orang tuanya yang bisa saja menyalahkan dirinya telah membuat keputusan drastis itu (bersambung). 

Suasana di ruang kerja 

Selasa, 03 Mei 2011

Woven Indonesian Association of Craft, A Developing Options

Pandanus

Pandan is a class of plant monocot of the genus Pandanus. Most of its members is growing on the beaches of a tropical area. Members of this plant is characterized by an elongated leaves (such as palm leaves or grass), often jagged edges. The root are large and have akar tunjang that sustain this plant. Pandanus fruit bouquet arranged in a rounded shape, such as fruit durian. This plant size varies, ranging from 50cm up to 5 meters, even in Papua many pandanus to a height of 15 meters. The leaves are always green (evergreen, evergreen ), so some of them used as ornamental plants.


There are at least 600 species of pandanus in the whole world, among which are :
§  Fragrant pandan ( Pandanus ammaryllifolius )
§  Sea pandanus ( Pandanus tectorius )
§  Papua Red Fruit ( Pandanus conoideus )
§  Twisted pandanus ( Pandanus utilis )
§  White Pandan ( Pandanus baphtisii )
§  African Pandan ( Pandanus pygmeus )
Pandan Bali , which is often used as ornamental plants, is not a member of Pandanus but Cordyline Australis .



Kebumen Regency in Central Java is one of the centers of production and development for woven pandanus in Indonesia. There are a land area about  ​​15 hectares in the vicinity of the Thousand Mountains (Pegunungan Seribu)  in the north which planted pandanus thorns as a raw material for making woven of pandanus.  Around 10 000  people,  mainly women,  worked in some center of activities to create and develop crafting for woven pandanus.


    Production Activitiy: woman domination





Beras Wutah
Bintangan








Dlereng
Es Lilin






Dlerengan
Kedelen






Kerton Warna
Kerton






Krejen
Mata Deruk
  
  





Menyan Kobar
Tampolan Besar
types of matting