Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label Obesesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obesesi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2013

Wayang Kardus Ki Slamet Esser


Wayang sebagai ekspresi budaya masyarakat, memiliki beragam penampilan. Dari yang tertua (wayang purwa)  yang direkayasa oleh Sunan Kalijaga dari mitos Hindustan sampai Wayang Mikael karya seniman lukis dan teater Kaji Habeb (UIN Jogja) pada dasarnya berfungsi sebagai media komunikasi,  pencerahan (dakwah) dan hiburan. Banyak cara dilakukan oleh sang dalang dalam mengoptimalkan fungsi wayang. Misalnya dengan memasukkan unsur pentatonik, tata lampu, komedi dan sebagainya.

Wayang Kartun

Seperti dalam  wayang improvisasi pada umumnya, Wayang Kartun kreasi Ki Slamet Eser memiliki ide cerita yang bersumber pada realitas kehidupan di lingkungan sekitarnya. Mengambil bentuk kartun, ia memunculkan dua tokoh sentral : Panjul dan Prentul. Panjul adalah sosok manusia kudisan, bodoh dan selalu menjadi bahan cemooh orang-orang di sekelilingnya.  Punya semangat juang tinggi tapi hidup dalam himpitan kemiskinan ekonomi. Singkatnya, Panjul adalah personifikasi pribadi Ki Slamet Eser.
Tokoh Utama: Panjul, Prenthul dan Sri Nyolowadi

Panembrama

 Gaya mendalang

Sosok lain yang menjadi tokoh sentral Prentul. Ada dua versi pendapat yang dimunculkan sang dalang. Pertama, menggambarkan sosok birokrat di lingkungan kebudayaan yang perlente, berpenampilan ala seniman tapi selalu berbicara layaknya pejabat yang selalu mengaitkan kegiatan apresiasi budaya dengan keterbatasan anggaran dan segala fasilitas pemerintah. Dalam hal ini, sosok Prentul diposisikan sebagai tokoh antagonis. Versi kedua, Prentul selaku kurator. Pada pentas perdana di ajang Gelar Panggung Teater I – 9 Januari 2009 di Gedung PGRI Kebumen Jawa Tengah, kedua sosok ditampilkan secara bergantian tanpa batasan yang jelas.
Satu lagi bentuk energi besar Ki Slamet Eser adalah kegigihan membangun komunitas budaya   “Guyub Larak” yang hampir setiap saat akan tampil di suatu event kesenian selalu berganti personal. Entah bagaimana caranya, ia selalu mendapatkan darah baru dari beragam kalangan. Pelukis, pengamen jalanan dan tukang parkir. Ada juga sosok mahasiswi yang kemudian diangkat sebagai tokoh Sri Nyolowadi, pendendang lagu-lagu campursari yang digandrungi oleh komunitas lokal.
Sebagai seniman potensial, energi berkesenian Ki Slamet Eser sangat luar biasa. Karena keluar-biasaannya, banyak orang yang menghindar darinya karena beragam alasan. Ada yang menilai ide-idenya sangat “ liar “. Karena itu sangat sulit diikuti arah tujuannya. Ada juga yang melihat penampilan keseharian yang kumuh, suka memaksakan kehendak di balik “sosok memelas” dan beragam penolakan yang menyebabkan dirinya sering terjerembab dalam kesendirian.
Apapaun penilaian orang, Ki Slamet Eser tetap berjalan dengan langkah dan logika yang dipahaminya. Seperti kebanyakan seniman eksentrik, ia terus mengeksplorasi energi berkesenian dalam tubuhnya. Seolah tak peduli dengan sikap dan omongan orang di sekitarnya, apapun yang terjadi, the show must go on.   

Kolaborasi    

 Pernah dimuat  di sini

Jumat, 05 April 2013

Bandung Creative City Forum (BCCF)



Bandung kota kreatif bukan hanya slogan dan baru dirintis. Sejak dulu, Kota Kembang yang sering disebut juga sebagai Paris van Java telah menunjukkan beragam aktivitas kreatif warganya. Di era 1980-an, jauh waktu sebelum ekonomi/ idustri kreatif digagas, Bandung sudah punya Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) dengan alm. Harry Rusli sebagai motornya dari rumahnya di Jl. Supratman sebagai markas besar. Dari grup musik eksperimental ini muncul satu single hit berjudul Nyamuk Malaria. Sementara itu, di ujung jalan itu ada beragam jenis kuliner khas yang menjadikan daerah Supratman Ujung sebagai pusat jajanan khas Bandung. Musik, seni pertunjukan dan kuliner adalah pilar ekonomi kreatif yang tengah menjadi trend baru ekonomi di banyak Negara.

Bandung Ibukota Kreativitas?

Reputasi Bandung sebagai destinasi wisata, lokasi perguruan tinggi terkemuka, pusat mode dan busana, serta kota yang melahirkan beragam band/kelompok musik progresif, telah berdampak pada tumbuhnya industri kreatif yang didukung oleh ketersediaan beragam sumber daya. Bandung jadi Ibukota Kreatif?
APA sih yang kurang dari Kota Bandung sebagai kota kreatif? Rasanya semua persyaratan untuk menjadi kota kreatif sudah dimilki Bandung. Sebut saja, hampir seluruh profesi kreatif bisa ditemukan di Bandung, sejak profesi yang high profil seperti arsitektur, clothing dan distro, pembuat program komputer, animator, hingga pemBuat film dan musik. Belum lagi iklim yang mendukung, dengan banyaknya pagelaran dan hajatan kreatif yang digelar dan sepanjang tahun. Untuk yang terakhir ini, para pegiat kreatif  Bandung sudah dua kali menggelar hajatan Helarfest, tahun 2008 dan 2009. Tahun 2010, ada Semarak.bdg yang digelar di sekitar kawasan Braga. Belum lagi gelaran seperti Bandung World Jazz Festival, dan Pasar Seni ITB. 

Situs Departemen Perdagangan menginformasikan industri kreatif menyumbang rata-rata 6,3% terhadap produk domestik bruto Indonesia selama periode 2002-2006. Suatu jumlah yang tidak main-main karena pada 2010, target kontribusi meningkat menjadi 7,9%. Setelah kekayaan sumber daya alam tidak lagi dapat menjadi penopang perekonomian nasional, ditambah sulitnya produk sektor usaha berbasis sumber daya alam lainnya bersaing dengan negara lain karena kalah kompetitif, maka masa depan Indonesia mungkin hanya bisa diselamatkan melalui ekonomi kreatif yang berbasis kekuatan ‘human capital’ yang kreatif dan inovatif.


Lantas, dari angka kontribusi 7,9 % ini, seberapa besar yang disumbang Bandung? Meski tidak tersedia data yang cukup memadai, namun diyakini Bandung berkontribusi dominan. Terlebih, karena para pegiat di Bandung juga sudah memiliki kesadaran untuk beserikat dan berorganisasi dalam payung Bandung Creative City Forum atau BCCF.
Bandung Creative City Forum (BCCF) yang berdiri sejak tahun 2008, beranggotakan para pegiat kreatif dari beragam latar belakang profesi antara lain arsitek, desainer, pekerja seni, pekerja musik, akademisi, praktisi & pekerja TI, pelaku usaha pariwisata, dan jurnalis.  Seluruh kegiatan BCCF bersifat nirlaba dan diperuntukan sepenuhnya untuk pengembangan kota Bandung dalam bidang dan karya kreatif. BBCF juga merupakan mitra strategis Pemerintah Kota Bandung dalam membawa Bandung sebagai kota kreatif dengan kompetensi internasional di benua Asia.

Tujuan untuk menjadikan Bandung sebagai ibukota kreatini bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Semangat ini, tentu tak boleh hanya menjadi monopoli BCCF, juga harus juga dimiliki oleh para pemangku kepentingan yang lain, diantaranya Pemerintah kota, pelaku usaha, dan tentu saja masyarakat. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana mewujudkan asa menjadikan Bandung sebagai ibukota kreatif? Darimana upaya ini harus dimulai? Pembuatan regulasi yang mendukung dan mempermudah terciptanya iklim dan kondisi kreatif bisa menjadi langkah awal. Upaya ini kemudian harus diikuti oleh penyediaan berbagai saran dan infrastruktur pendukung yang memungkinkin aktifitas dan kegiatan kreatif tumbuh subur. Langkah ketiga adalah dengan mengedukasi warga, agar senantiasa memiliki kerangka berfikir kreatif dalam setiap aktifitas keseharian. Kreatifitas harus dipahami sebagai sebuah communal behaviour serta tidak berumah di awan, yang hanya bisa dijalankan dan dipraktekan oleh para pegiat kreatif. Dengan cara ini Kreatifitas diharapkan menjadi kebiasan dalam praktek dan aktifitas masyarakat.

Agar kegiatan dan aktifitas kreatif berdampak pada aktifitas ekonomi, perlu juga dipikirkan kehadiran dan akses pasar, sehingga produk-produk kreatif memiliki nilai ekonomi yang sebanding dengan upaya penciptaannya. Dalam hal ini, promosi dan pemasaran memegang peranan penting. Selama ini, para pegiat kreatif berjibaku dan berinovasi secara mandiri dalam kegiatan promosi dan pemasaran produk mereka. Tak hanya memikirkan inovasi produk, para pegiat kretaif juga dituntut kreatif dalam memasarkannya. Tak hanya di pasar lokal juga di mancanegara. Bahkan tanpa dukungan pemerintah pun, beberapa karya dan inovasi kreatif para pelaku industri kreatif sudah mampu menembuh pasar global.
Jadi, tunggu apa lagi. Ayo kita wujudkan Bandung sebagai Ibu kota kreatif tak hanya untuk Indonesia, juga di kawasan Asia.


Itulah segmen yang dikupas dalam BCCF Magz (majalah yang diterbitkan oleh BCCF) edisi Agustus 2012 dalam tajuk Bandung Ibukota Kreativitas! Geliat aktivitas kreatif warga Bandung seolah tak pernah berhenti dan kehabisan ide. Apalagi setelah ditetapkan sebagai pilot proyek Kota Kreatif di Asia Timur tahun 2008, proses kreatif warga Bandung semakin bergairah dan menyebar di seluruh penjuru. Jika di awal pertumbuhannya, pusat jeans Bandung ada di sekitar Jl. Tamim, kini telah menyebar ke Cihampelas, Cigolewah dan sebagainya. Begitu juga di sub sektor industri musik, lahir grup-grup baru dari berbagai aliran. Seolah-olah, kota ini harus mengungguli Jakarta dan Surabaya. Berbagai pagelaran musik berskala nasional maupun internasional di gelar di kota kembang ini. Tidak mengherankan jika Bandung menyebut dirinya sebagai Ibukota Kreativitas!.

Rasa hormat dan penghargaan tinggi memang layak diterima oleh BCCF sebagai media komunikasi dan tempat berkumpulnya berbagai komunitas kreatif kota Bandung dan sekitarnya. Semua sub sektor industri kreatif  yang diidentifikasi Kementrian Perdagangan (14) plus kuliner merapat dan menjadi bagian aktif forum ini.  BCCF berperan sangat besar dalam menjembatani kepentingan semua komunitas kreatif di Bandung dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders). Karena didalamnya ada komunitas perguruan tinggi yang dimotori oleh ITB terutama FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) serta Sekolah Bisnis ITB. Komunitas jalanan dan death metal yang biasanya tertutup, ternyata masuk di dalamnya.
BCCF bukan sekadar wadah komunitas kreatif yang berbadan hukum. Tapi banyak kajian ilmiah yang berkait dengan pengembangan sub-sub sektor ekonomi kreatif difasilitasi dan jadi keputusan politik dalam membuka dan menata ruang-ruang publik seperti taman kota, halte bus dan lain-lain. Sehingga fanatisme warga Bandung  kepada forum ini dinyatakan dalam beragam bentuk. Dari perkumpulan penggemar sepeda, lahir bisnis baru penyewaan sepeda di waktu-waktu tertentu. Belum yang terbilang prestisius semacam HelarFest yang telah berlangsung sejak 2008. Perkumpulan Komunitas Kreatif Kota Bandung yang lebih dikenal dengan Bandung Creative City Forum (“BCCF”) adalah organisasi lintas komunitas kreatif yang dideklarasikan dan didirikan oleh Perseorangan, Wirausaha Kreatif, Lembaga Nirlaba dan Komunitas di Kota Bandung pada tanggal 21 Desember 2008. BCCF sendiri pada awalnya adalah sebuah forum komunikasi informal untuk koordinasi dan komunikasi diantara komunitas kreatif di Bandung dalam rangka untuk menyelenggarakan kegiatan Helar Festival 2008 (“Helarfest 2008”)
Sebagai organisasi resmi, BCCF mempunyai maksud dan tujuan pada saat didirikannya BCCF sebagaimana tertuang di dalam Anggaran Dasar Pendirian BCCF, yaitu sebagai berikut:
1.      Menjadi wadah penguatan masyarakat madani (civil society) yang mandiri (independent) dan tidak terafiliasi baik langsung atau tidak langsung dengan Organisasi Masa atau Partai Politik manapun, baik ditingkat lokal atau nasional.
2.      Menjadi forum komunikasi, koordinasi dan usaha bagi perseorangan atau badan usaha atau komunitas kreatif di Bandung.
3.      Menjadi forum bersama untuk memberikan daya tawar lebih besar dalam penguatan ekonomi bagi para anggota, pelaku ekonomi/industri kreatif dan kota Bandung sekitarnya.
4.      Menambah daya dorong pengembangan dan pemberdayaan potensi kreatif warga Bandung dan sekitarnya.
5.      Memperkenalkan Bandung sebagai Kota Kreatif terdepan, baik di tingkat nasional, regional dan internasional.
6.      Menjalin kerjasama baik ditingkat Nasional atau Internasional untuk kepentingan pengembangan dan pembangunan ekonomi/industri kreatif di Bandung.
7.      Mengembangkan kreatifitas sebagai upaya untuk pemberdayaan ekonomi dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat sipil, kelestarian ekosistem dan penghargaan terhadap keaneka-ragaman budaya.


Sebagai organisasi lintas komunitas kreatif, BCCF ini didirikan oleh sebagian besar adalah orang-orang atau komunitas kreatif yang ada di kota Bandung atau yang bidang pekerjaan atau aktifitasnya bersinggungan sangat erat dengan dunia kreatifitas dan  inovasi. Para pendiri dan anggota BCCF di awal pembentukan: BDA+Design, Urbane, Adiwilaga & Co, Pixel People Project, LABO the Mori, Mahanagari, Sembilan Matahari,
Death Rock Star, Tegep Boots, Invictus, Common Room Foundation, Bandung Arsitektur Family (BAF), Bikers Brotherhood, KICK, Komunitas Sunda Underground, Bandung Death Metal Sindikat, Solidaritas Independen Bandung, Ujung Berung Rebel, Jendela Ide, Republic Entertainment, Saung Angklung Udjo, Pusat Studi Urban Desain (PSUD), SAPPK ITB, Seni Rupa ITB, PSDP ITB, Eco- Ethno, Galeri Seni Bandung, Open Labs dan sebagainya.
Pasca Helarfest 2009, muncul beberapa nama baru  seperti Komunitas Air Fotografi, Komunitas Origami Indonesia, Komunitas GANFFEST, INDDES ITB, Angklung Web Institute (AWI), Komunitas Picu Pacu, Komunitas Mahasiswa Seni Rupa ITB, Bandung Flower Day, Bandung Affairs dan sebagainya.

Rabu, 03 April 2013

ANTARA JOGJA, SOLO DAN BANDUNG



Proses Kreatif di Pusat-pusat Kreatifitas - Bagian I

Hampir setiap kali membahas ekonomi kreatif, dua kota utama : Jogja dan Bandung muncul sebagai bagiannya. Jogja dengan segala sebutan : kota pelajar, wisata, kuliner (gudeg dan beragam jajanan khas), budaya dan entah berapa lagi lainnya boleh disebut sebagai barometer dunia kreatif di tanah air. Masih ingat kaos oblong “DAGADU” ? Kaos yang identik dengan kaum muda berlogo mata sesuai namanya. Dagadu adalah bahasa plesetan dari kata matamu. Bagi masyarakat Jawa, kata itu berkesan kasar atau tidak berbudaya. Di situlah letak ketajaman daya kreasi pencipta merk ( A Noor Arief) yang telah dibajak berkali-kali, sampai sekarang masih eksis berkreasi di sub sektor busana (fesyen/ fashion).


Selain memproduksi kaos, Dagadu juga memfasilitasi beragam kegiatan kreatif di antaranya Lomba pembuatan video kreatif tentang Jogja (Jocvec), membuat situs internet: http://blog.dagadu.co.id/  yang isinya khas  dan semua dikasih nama dengan imbuhan MATA. Misalnya kolom yang bertajuk MATALALU  yang berisi informasi masalalunya Dagadu untuk pemula maupun garda depan yang punya tugas di bidang layanan konsumen (lakon). Tanpa bermaksud melebih-lebihkan Dagadu (yang memang punya banyak kelebihan) atau Jogja (karena bagian dari alumni di kota itu), saya menyoroti dagadu karena kejelian mereka melihat banyak persoalan rumit dalam kacamata cerdas (smart) dan tetap tersenyum (smile). Dua hal yang membedakan “gali” Jogja dengan lainnya. Dagadu adalah bahasa “gali” dan oleh mas Noor Arief sang pemilik merek dagang DAGADU digali maknanya sampai benar-benar njogjani alias pokoknya Jogja banget. Kesan sangar sang gali diubah total dengan “senyum” yang representatif keramahan masyarakat Jogja.  


Dalam hal penerapan Ekonomi Kreatif, Kota Jogja memakai logo di atas yang sudah cukup dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Jargon yang diusung adalah " NEVER ENDING ASIA".  Kota ini memilih sub sektor kerajinan, fesyen, piranti keras dan lunak komputer sebagai andalan untuk menggerakkan ekonomi kreatifnya. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa Yogyakarta adalah kota seni dan budaya. Beragam peninggalan sejarah karya seni adiluhung seperti keraton dan tari langen bedaya-nya; pandangan spiritual tentang jalur imajinatif Merapi, Keraton dan Laut Selatan; munculnya nama kampung kerajinan seperti Batikan, Gamelan, Gemblakan, Kotagede dan lain-lain serta aneka kerajinan yang sudah memasyarakat seperti batik, olah kulit, ukir dan sebagainya.

Dari alasan di atas kemudian disusun 13 langkah untuk merealisasikannya: 
  1. Mendorong lahirnta YOGYAtic sebagai komunitas produsen kerajinan sekaligus perintis pola pembinaan OVOP sehingga mendapat penghargaan Hiramatsu Award.
  2. Memfasilitasi sekretariat Yogya-IT
  3. Dalam RPJMD, salah satu programnya adalah pengembangan industri kreatif
  4. Kebijakan menuju Yogya Cyber Provinc
  5. Penyelenggaraan lomba desain produk kerjasama pusat dan daerah
  6. Mendorong kegiatan promosi penerbitan dan percetakan dalam bentuk bursa buku
  7. Memberikan apresiasi kepada kreator
  8. Melakukan sosialisasi kebijakan pengembangan industri kreatif
  9. Menyelenggarakan promosi produk industri kreatif di tingkat lokal maupun nasional
  10. Menyelenggarakan kegiatan tahunan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY)
  11. Penyelenggaraan kegiatan tahunan Yogya Fashion Week
  12. Menyelenggarakan Cat Fish Day untuk meningkatkan konsumsi ikan nasional
  13. Menyelenggarakan pameran kuliner menu tradisional melalui dinas pariwisata
Mengurai kreatifitas anak-anak muda Jogja sepertinya tak akan ada habisnya. Setiap sudut kota punya sisi menarik untuk digali sisi kreatifnya. Pasar kerajinan di sepanjang Jl. Malioboro seolah bersambung dengan pasar jajanan di Jl. Mataram sampai Pasar Pathuk yang menyajikan bakpia hangat yang baru keluar dari oven para pembuatnya. Di sekitar pasar tradisional yang berada di tengah kota Jogja ini, kita bisa juga menikmati gudeg ala Yu Siyem yang telah dikenal sejak jaman perjuangan menegakkan kemerdekaan. Tidak heran jika Dagadu.co.id menyediakan laman khusus: kapan lagi ke Jogja untuk para alumni menapak-tilasi jejak Jogja dengan segala ragam kenangan yang melekat di hati.
   
Jika kaos Dagadu Jogja muncul di pertengahan 1990-an, Bandung telah mendului sebagai pelopor pembuatan Indonesian Denim (jeans Bandung) dengan Jl. Tamim sebagai icon utama. Beda dengan Jogja yang menggali habis budaya lokal, Bandung cenderung memilih sebagai duplikator model jeans dari merek-merek internasional yang sudah dikenal publik. Olah duplikasi ini berlangsung cukup lama, sekitar dua dasawarsa sampai awal 2000-an ketika Jakarta mulai tertarik bersaing dengan Bandung. Saat ketika produk konveksi dan garmen rumahan mengalami booming. Setidaknya, kesan itu yang saya dapatkan di lapangan sepanjang waktu mendampingi sentra konveksi Roworejo memasuki pusat-pusat perdagangan barang konveksi dan garmen di Tanahabang dan Cipulir (Jakarta) atau sekitar Jl. Embong Malang dan Jembatan Merah di Surabaya. 
(bersambung: Solo dan Bandung)




Selasa, 02 April 2013

Selamat Datang Era Ekonomi Kreatif Semoga Membawa Kejayaan Bagi Bangsa Indonesia



Itulah sederet kata yang ada dalam tulisan Eddy Cahyono Sugiarto, Asisten SKP Bidang Ekonomi dan Pembangunan di situs resmi Sekretariat Kabinet RI  (http://www.setkab.go.id/ artikel-6693-.html ). Mengingat  peran ekonomi kreatif yang semakin meningkat bagi perekonomian suatu wilayah. Utamanya terhadap pengembangan ekonomi berbasis UMKM (Usaha Menengah, Kecil dan Mikro), maka tidaklah berlebihan bila  semakin banyak kota yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai ujung tombak  dan katalisator pengembangan ekonomi daerahnya.   Untuk menjadi pemenang di tengah persaingan yang semakin ketat, menurut Florida (The Rise of Creative Class), kota-kota, daerah dan provinsi harus lebih menumbuhkan "iklim orang-orang." Yang dimotori  oleh kaum muda, dengan  semangat inovasi dan kreatifitas, memoles sesuatu yang “biasa”  menjadi “luar biasa”.

Kontribusi sektor ekonomi kreatif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2010 mencapai Rp 472,8 triliun dan mampu menyerap 11,49 juta tenaga kerja dan  2011 naik menjadi Rp 526 triliun dengan serapan 11,51 juta tenaga kerja. Tahun ini (2013-pen) angka itu ditargetkan terdongkrak menjadi Rp573,4 triliun dengan serapan 11,57 juta tenaga kerja. Pengembangan ekonomi kreatif  akan sangat berperan dalam mengembangkan job creation, mengingat besarnya potensi ekonomi kreatif yang dimiliki Indonesia. Dengan lebih dari 300 suku bangsa. Dari sisi demografi penduduk usia muda yang mencapai 43% menjadi modal plus yang kita miliki, karena kreatifitas sangat dekat dengan kaum muda. Pengembangan ekonomi kreatif juga akan  berdampak langsung  bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah,  mengingat sektor ekonomi kreatif,  sebagian besar digerakkan oleh pelaku UMKM  dan  sangat potensial menjadi kekuatan dashyat untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju


Dua alinea di atas sengaja saya hadirkan relatif penuh untuk mengawali pembahasan Bagian II dari tulisan sebelumnya:  OVOP dan Ekonomi Kreatif. Dengan tetap menyandingkan dua konsep dasar pengembangan/ pembangunan SDM yang tengah menjadi trend di negara-negara maju di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global, diharapkan membuka cakrawala pandang yang lebih segar dan konstruktif atas kerangka berpikir ortodoks yang dipraktikkan oleh penyelenggara pendidikan formal dewasa ini. Kesengajaan tidak menghadirkan angka agar kesan subyektif lebih ditonjolkan ketimbang yang obyektif. Selain menyangkut masalah selera, juga dimaksudkan untuk menghindari upaya copas (copy – paste atau klik kanan) yang tidak menggugah sel-sel syarat di otak kanan manusia. Karena pada sisi ini, potensi kreatif manusia dapat diangkat dan dikembangkan secara optimal.

Daya cipta adalah anugerah terbesar yang diterima oleh manusia dari Sang Maha Pencipta. Dalam konteks budaya, daya cipta perlu dibarengi dengan karsa agar mampu menghadirkan karya-karya yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup diri dan manusia lainnya. Semakin terbuka cakrawala pandang seseorang atas isi dunia ini, semakin luas jangkauan tangannya untuk meraih hal-hal luar biasa. Jika sebelumnya ia hanya mampu meraih sesuatu yang ada di sekitar dirinya, dengan meluasnya daya jangkau pandangan yang mampu dilihatnya, ada kecenderungan untuk meraih keluar-biasaan itu. Itulah yang dirasakan oleh Gubernur Oita ketika menggagas konsep OVOP. Begitu juga dengan Bill Gates dengan Microsofnya. Atau yang lebih sederhana adalah kota Bangkok dengan kemasan paket wisata Chao Praya River dan sebagainya.

Chao Praya River
Pada tulisan sebelumnya, ada dua kategori faktor penghambat bagi pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Yaitu yang berkaitan dengan masalah orientasi atau menghadirkan iklim kondusif yang tidak semua pengambil kebijakan publik di daerah-daerah mampu menghadirkannya secara efektif dan konsisten karena bias kepentingan. Kategori kedua yakni masalah apresiasi yang saya sebut dengan istilah masalah budaya. Kedua kendala ini tidak dapat dipecahkan secara parsial, harus komprehensif dan diprogram serta melibatkan secara langsung orang-orang kreatif di dalamnya.

Dari pengalaman pribadi, ketika menggagas dan mengusulkan Festival Luk Ulo 2012 sebagai pengembangan kegiatan Lomba Mancing di Sungai Luk Ulo, ada kesan kuat bahwa Kabupaten Kebumen belum siap menghadapi era ekonomi baru yang kini popular dengan sebutan ekonomi kreatif. Kesan ini saya perolah dari “sepinya” tanggapan, baik semua tingkat pemerintahan : lurah sampai bupati. Atau lembaga yang berkompeten, terutama Dinas Pariwisata dan Budaya, meski proposal telah diserahkan ke Bappeda dan dipublikasikan melalui jejaring sosial facebook, twitter dan blog jauh waktu sebelum rencana pelaksanaan. Tapi, mungkin juga karena lobby yang kurang kuat dibanding kegiatan pencatatan rekor MURI atas kerajinan anyaman yang mengundang massa sangat banyak dan dihadiri oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM meski sampai sekarang masih menyisakan masalah dengan kelompok perajin. Atau faktor lain yang tidak saya ketahui dan Lomba Mancing di Sungai Luk Ulo 2012 tetap terlaksana meriah (beberapa anggota panitia sempat gelisah ketika saya mengambil foto lokasi sebelum jam pelaksanaan).
Rakit di Sungai Luk Ulo
Terlepas dari pengalaman pribadi di atas, saya ingin menyoroti Festival Seni ARTE 2013 yang spektakuler. Perpaduan dinamis antara unsur klasik dan modern di tempat dan waktu yang tepat: Jakarta Convention Center, 27 – 31 Maret 2013 lalu. Dari berbagai publikasi foto dan berita yang bisa saya kumpulkan, tidak muncul jumlah pengunjung dan nilai transaksi yang dibukukan dalam kegiatan itu. Yang menarik dari kegiatan ini adalah penyelenggara yang didominasi oleh kaum muda dan keputusan untuk membebaskan pengunjung dari HTM (harga tanda masuk) alias free entry atau gratis. Bagi orang awam seperti saya, keputusan menggratiskan tanda masuk ke arena festival adalah satu diantara banyak nilai plus festival seni itu. JCC adalah prestis, meski bukan satu-satunya arena pameran bergengsi di Jakarta.

Mengatasi tantangan,  menerjemahkan komitmen

Besarnya potensi pengembangan ekonomi kreatif yang dimiliki Indonesia,  dengan karunia Tuhan akan kekayaan  dan keragam-an  budaya, keindahan geografis wilayah serta  sumber daya manusia kaum muda yang indentik dengan  dunia kreatif, perlu ditransformasikan menjadikan kekuatan  ekonomi baru yang peningkatan  daya saing dan nilai tambah ekonomi sehingga  dapat berkonstribusi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat sebagaimana cita-cita didirikannya suatu negara. Oleh karena itu,  diperlukan adanya sinergitas dari semua pemangku kepentingan, dalam mengatasi berbagai tantangan yang berpotensi menjadi bottleneck  pengembangan ekonomi kreatif, utamanya    dalam membangun akselerasi sinergitas dalam meningkatkan  kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) kreatif.  Karena mayoritas SDM yang menyokong  ekonomi kreatif  Indonesia sebagian besar belajar secara otodidak . Di samping itu, perlindungan HAKI yang  kita miliki juga masih jauh dari harapan. Infrastruktur teknologi informasi belum kompetitif dan dukungan pembiayaan dari perbankan yang belum optimal, disamping penetrasi pasar yang lemah  karena adapsi teknologi informasi melalui online marketing belum membudaya.

Bercermin dari beberapa bottleneck   yang diidentifikasikan di atas, seyogyanya Kementrian/Lembaga di pusat dan daerah  sebagai perumus kebijakan ekonomi kreatif diharapkan dapat memfasilitasi, memotivasi dan menginspirasi pengembangan ekonomi kreatif dalam bentuk rencana aksi yang kongkrit dan terukur. Dengan menjadikan ekonomi kreatif sebagai bisnis masa depan yang menjanjikan, memfasilitasi promosi dan mengintensifkan bantuan modal usaha. Kalangan bisnis diharapkan dapat mengoptimalkan  self development, mengembangkan kapasitas usaha melalui sistem lokomotif – gerbong, dari pengusaha besar ke pengusaha kecil. Dan tak kalah pentingnya adalah dukungan cendekiawan melalui pengembangan penetrasi pasar dengan pemanfaatan online  marketing. Di samping berbagai terobosan lain, berpikir out of the  box,  menciptakan  linkage atau konektivitas ekonomi kreatif dengan pariwisata,  sebagai venue untuk proses produksi, distribusi sekaligus pemasarannya. 
Rekomendasi Asisten SKP Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Eddy C. Sugiarto, ini sudah lebih dari cukup untuk mengambil langkah tepat  bagi daerah (pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota) dalam menetapkan kebijakan pembangunan ekonomi wilayahnya berbasis ekonomi kreatif. Alasan klasik keterbatasan anggaran tak perlu lagi jadi “kambing hitam” karena ada program Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai BUMN maupun perusahaan nasional, KUR, PPK, PNPM dan sebagainya. Sepanjang ada komitmen yang jelas dan tegas, bukan hanya kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo dan Denpasar saja yang mampu mengaplikasikan konsep pembangunan kewilayahan ini. Kota/ Kabupaten kecil seperti Kebumen justru dapat mengambil keuntungan maksimal dari peluang memajukan pembangunan ekonomi dengan pendekatan aktual ini. Apalagi jika dipadukan dengan konsep OVOP.

Sekadar gambaran kasar, perpaduan dua konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis aktivitas dalam rerangka ekonomi kreatif dan OVOP di Kabupaten Kebumen selain kerajinan anyaman pandan dapat juga dilakukan pada sentra industri kuliner lanthing sebagai jajanan khas. Keduanya berlokasi di Kecamatan Karanganyar dan secara sosiologis masyarakatnya cukup terbuka jika dibandingkan dengan kota Kebumen. Tetapkan wilayah ini sebagai basis pembangunan ekonomi dan jadikan wilayahnya sebagai “ajang adu prestasi” bagi para calon pemimpin wilayah.  Dalam banyak hal, Karanganyar lebih memenuhi syarat kualitatif dibanding 25 kecamatan lain. Tidak yakin ? Silakan kaji secara ilmiah, kalau perlu mendatangkan peneliti dari UGM, UI, ITB dan IPB. Lebih afdol jika melibatkan organisasi profesi semacam Hipando dsb. Dan bentangkan baliho raksasa: “Selamat Datang Ekonomi Kreatif dan OVOP di Kabupaten Kebumen”. Semoga membawa kejayaan bagi masyarakat Beriman. Amien 3x ya robbal ‘alamin. 

Sabtu, 30 Maret 2013

OVOP & EKONOMI KREATIF


Ada dua gagasan dasar yang memiliki keserupaan dalam upaya mengembangkan potensi ekonomi masyarakat yakni OVOP dan Ekonomi Kreatif. Beberapa tulisan sebelumnya telah dibahas tentang OVOP. Kini giliran untuk mengupas faktor yang mempengaruhi pilihan kebijakan pembangunan kewilayahan yaitu ekonomi kreatif (Creative Economy) atau sering disebut juga dengan istilah Creative Industry). Kedua istilah  creative economy atau industry saya anggap sama maknanya.

Definisi ekonomi kreatif menurut Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekref) yaitu industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Berdasar batasan ini jelas sekali orientasi ekonomi kreatif adalah individual, SDM kreatif. Mungkin ada pertanyaan, siapakah SDM kreatif itu ? Jawaban singkat : siapapun bisa dan mungkin melakukan aktivitas ekonomi kreatif baik karena punya latar pendidikan maupun berbakat kreatif.

Pertanyaan berikutnya, apakah orang yang punya latar pendidikan dan bakat kreatif mampu menyelenggarakan ekonomi kreatif? Jawaban singkat : tidak semua atau tidak selalu. Mengapa? Banyak orang kreatif, mampu menghadirkan karya-karya kreatif yang bernilai ekonomi tapi enggan atau tidak mampu menangkap peluang ekonomi yang ada dalam karya-karyanya. Berkait dengan peluang, kita akan melihat di sisi sebaliknya : tantangan dan/atau hambatan.

Dalam buku Pengembangan Ekonomi Kreatif 2025 yang dipublikasikan (dapat diunduh gratis) oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi disebutkan bahwa di Amerika Serikat, Richard Florida menggolongkan SDM kreatif sebagai strata (sosial-pen) baru yang disebut creative class. Di era ekonomi baru ketika kreatifitas telah menjadi industri, pekerja kreatif bukan hanya dari sektor seni.  Di dalamnya ada juga  ilmu pengetahuan (sains), teknologi, manajemen dan lain-lain.  Ada pendidik, peneliti, insinyur, desainer, artis, musisi dam penghibur (entertainer). Mereka adalah orang-orang yang menghadirkan ide-ide baru, teknologi baru, konten baru serta orang-orang yang mengandalkan daya pikir dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
Berkembangnya kegiatan berbasis kreativitas di Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara Asia berupa kegiatan sub kontrak (outsourcing) yang kian menunjukkan kematangannya membuat India dikenal sebagai negeri penghasil film (Bollywood) dan piranti lunak. Sementara itu Korea Selatan dan China dikenal sebagai produsen otomotif, barang-barang elektronik dan industri konten sejajar dengan Jepang yang telah mendului. Singkat cerita kita akan menuju satu pertanyaan: bagaimana dengan Indonesia ? Belum berkembang maksimal karena terkendala beberapa hal utama:
  1. Banyak SDM kreatif di bidang artistik yang belum memahami secara menyeluruh “isi” kreativitas di era industri kreatif.  Sehingga masyarakat awam menilai dunia artistis adalah ekslusif dan tidak merakyat  ( masalah orientasi dan apresiasi – pen).
  2. SDM kreatif di luar bidang artistik (sains dan teknologi) terlalu mikroskopik dalam melihat keprofesionalannya sehingga cenderung berpola pikir mekanistik dan kurang inovatif             ( masalah orientasi dan apresiasi – pen).
  3. SDM kreatif sering kekurangan sarana untuk melakukan eksperimen dan berekspresi sehingga hasil karyanya sering kurang kreatif dan inovatif (masalah apresiasi-pen).
Dari semua kendala yang dipetakan oleh lembaga negara yang berkompeten ini dapat diringkas ke dalam dua masalah utama yaitu orientasi (67%) dan apresiasi (100%). Masalah orientasi bergantung pada iklim atau trend setting. Sedangkan masalah apresiasi adalah masalah budaya. Solusi atas masalah orientasi adalah keperpihakan nyata penentu kebijakan publik yakni pemerintah dan DPR/DPRD.  Ilim politik saat ini tidak kondusif untuk menghadirkan iklim yang sehat tumbuh dan berkembangnya SDM kreatif. Sementara itu, masalah budaya bisa dipacu dengan menghadirkan iklim sehat dan reward yang merangsang orang untuk melakukannya dengan lebih baik secara kuantitatif maupun kualitatif dalam waktu yang sejalan.

Konsep OVOP dan Ekonomi Kreatif menempatkan pembangunan SDM sebagai faktor penting. Sasaran yang dituju pada konsep OVOP adalah produk lokal yang berorientasi global dengan pendekatan komunal. Sementara itu, dalam ekonomi kreatif pendekatan yang digunakan adalah individual. OVOP mengedepankan nilai tambah atas produk (beberapa produk) yang sudah ada, ekonomi kreatif mengharuskan pembaruan atas produk dan/atau jasa yang telah ada atau menghadirkan produk dan jasa yang benar-benar baru dalam suatu proses inovatif. Perbedaan keduanya bisa dijembatani dengan kebijakan politik pemerintah yang kondusif. Tumpang tindih dan “perebutan wewenang” menangani kedua potensi kreatif masyarakat justru akan mematikan jalan menuju Indonesia sejahtera, adil dan makmur (mungkin masih bersambung).

Senin, 25 Maret 2013

OBSESI(KU) UNTUK PERAJIN ANYAMAN PANDAN DI KEBUMEN


Mewujudkan cita-cita adalah wajib bagi manusia. 
Karena cita-cita itu merupakan motivasi untuk maju dan berkembang. Tetapi proses pencapaiannya dapat berbeda antara satu dan lain orang. Ada yang mulus, tersendat atau macet.

Kerajinan anyaman pandan di Desa Grenggeng Kecamatan Karanganyar sudah saya kenal sejak tahun 1990. Saat saya dikenalkan oleh almarhum Bapak Abdurrahman selaku petugas lapangan pada kantor Dinas Perindustrian Kabupaten Kebumen. Secara garis besar, visi kami serupa yakni mengembangkan industri rumah tangga ini sejajar dengan Tasikmalaya (Rajapolah) yang selama ini merupakan konsumen terbesar complong (hasil anyaman berbentuk silindrik)  produksi perajin anyaman Grenggeng melalui pengembangan desain dan pasar. Dari mas Rahman, kemudian saya mengenal nama-nama pemuka di komunitas perajin yang saat itu bergabung dalam wadah KUB (Kelompok Usaha Bersama) Pandansari. Yaitu Ibu Djumarnah, Ibu Djamhari dan Ibu Maryani. Nama terakhir adalah orang yang sering berkomunikasi dan saya ajak mengikuti pameran di beberapa tempat seperti Balai Kerajinan Provinsi DKI Jakarta dan Jakarta Design Center.


Sebenarnya jalur saya berbeda dengan pandan. Sejak ikut pelatihan manajemen dan desain kerajinan bambu yang diselenggarkan oleh Yayasan Pengembangan Desain Kerajinan Indonesia (YPDKI) 1991, tentunya saya lebih fokus di lingkungan kegiatan kerajinan bambu. Khususnya untuk furnitur. Setelah melakukan kaderisasi, saya meninggalkan Kebumen untuk urusan pribadi dan kembali akhir 1995. Tentu saja masih tetap memantau dan melakukan kunjungan lapangan saat pulang kampung. Masa-masa itu masih sangat berat untuk menggantungkan “nasib” pada kegiatan kerajinan (mungkin tidak berlaku untuk yang lain).

Ketertarikan pada perkembangan kegiatan kerajinan pandan di desa Grenggeng dan sekitarnya sebenarnya tidak pernah pudar. Karena itu, ketika melihat ada potensi besar pada pribadi Yahya Mustofa yang saya kenal saat melakukan aktivitas bersama pada program pengembangan Lembaga Ekonomi Produktif Masyarakat Mandiri (LEPMM) di tengah tahun 1999 (salah satu pemicu perkembangan BMT di Kabupaten Kebumen), saya dorong dia agar lebih fokus  pada “nasib” industri kerajinan pandan meski posisi formalnya lebih tinggi dari saya. Hampir semua pengetahuan dan pengalaman saya berikan untuk menambah bekal dirinya. Dia bisa melakukan dan selanjutnya mengangkat dirinya sebagai “tokoh” penting dalam industri kerajinan di Kabupaten Kebumen. Bahkan tak tanggung, setelah menerima Danamon Award, ia raih Upakarti untuk kategori kepeloporan pemuda dari Presiden RI. Sebagai mentor, saya bangga mendengarnya (meski yang bersangkutan memberitahukannya terlambat beberapa bulan). Dalam rentang waktu yang relatif pendek (sekitar 9 tahun), Yahya Mustofa melesat dalam bendera Dubexcraft jauh di depan para pegiat seperti ketiga orang yang disebut di atas dan Ibu Ngatini yang setia menemani perjalanan dirinya selama ini.

 Ibu Ngatini

Singkat cerita , ia (entah karena alasan apa) menemui dan mengajak saya agar aktif kembali dalam kegiatan pengembangan kerajinan anyaman. Kali ini tak tanggung lagi, berskala nasional di bawah nama Himpunan Perajin Anyaman Indonesia (Hipando) melalui Temu Karya Kerajinan Nasional di Hotel Maharani Jakarta 27-29 Oktober 2010. Dari sini, saya dapat lebih mengenal pribadi Ibu Ngatini sampai sekarang. Seperti biasa, saya menduga akan dijadikan trigger di arena itu. Ternyata benar, jabatan double selaku Sekretaris II di tingkat nasional dan Kordinator Provinsi Jawa Tengah. Bukan kebanggaan yang saya terima. Justru prihatin karena sampai saat ini belum mampu jadi jembatan bagi perajin anyaman di Jawa Tengah. Banyak kendala internal dan eksternal yang harus dihadapi.  Berbagai upaya telah saya lakukan secara pribadi dan dorongan semangat dari Ibu Ngatini dan kawan-kawan agar Hipando bukan sekadar papan nama seperti organisasi sejenisnya.

Terlepas dari adanya kendala yang selalu dialami oleh setiap orang dan organisasi, hal yang lebih penting adalah komitmen dan langkah nyata. Pergulatan selama lebih dari dua tahun nampaknya akan membuahkan hasil jika usulan kami (saya dan Edie “Bonggol Jagung” Juandi) kepada Kementrian Perindustrian RI tentang program Pelatihan Industri Kerajinan Ekspor Berbahan Serat Alami dapat direalisasikan segera. Kerajinan Anyaman Pandan adalah adalah satu prioritas. Semoga.