Tampilkan postingan dengan label Obesesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obesesi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 18 April 2013
Wayang Kardus Ki Slamet Esser
Kamis, April 18, 2013
Aset, FoPSeT, GPT, Industri/ Ekonomi Kreatif, Inspiratif, Kebumen, keraifan budaya, Obesesi, Profil, sederhana, Selingan
No comments
Wayang sebagai
ekspresi budaya masyarakat, memiliki beragam penampilan. Dari yang tertua
(wayang purwa) yang direkayasa oleh
Sunan Kalijaga dari mitos Hindustan sampai Wayang Mikael karya seniman lukis
dan teater Kaji Habeb (UIN Jogja) pada dasarnya berfungsi sebagai media
komunikasi, pencerahan (dakwah) dan
hiburan. Banyak cara dilakukan oleh sang dalang dalam mengoptimalkan fungsi
wayang. Misalnya dengan memasukkan unsur pentatonik, tata lampu, komedi dan
sebagainya.
Wayang Kartun
Seperti
dalam wayang improvisasi pada umumnya, Wayang Kartun kreasi Ki Slamet Eser memiliki ide cerita yang
bersumber pada realitas kehidupan di lingkungan sekitarnya. Mengambil bentuk
kartun, ia memunculkan dua tokoh sentral : Panjul
dan Prentul. Panjul adalah sosok manusia kudisan, bodoh dan selalu menjadi
bahan cemooh orang-orang di sekelilingnya.
Punya semangat juang tinggi tapi hidup dalam himpitan kemiskinan
ekonomi. Singkatnya, Panjul adalah personifikasi pribadi Ki Slamet Eser.
Tokoh Utama: Panjul, Prenthul dan Sri Nyolowadi
Panembrama
Gaya mendalang
Sosok lain yang
menjadi tokoh sentral Prentul. Ada dua versi pendapat yang dimunculkan sang
dalang. Pertama, menggambarkan sosok birokrat di lingkungan kebudayaan yang
perlente, berpenampilan ala seniman tapi selalu berbicara layaknya pejabat yang
selalu mengaitkan kegiatan apresiasi budaya dengan keterbatasan anggaran dan
segala fasilitas pemerintah. Dalam hal ini, sosok Prentul diposisikan sebagai
tokoh antagonis. Versi kedua, Prentul selaku kurator. Pada pentas perdana di
ajang Gelar Panggung Teater I – 9 Januari 2009 di Gedung PGRI Kebumen Jawa
Tengah, kedua sosok ditampilkan secara bergantian tanpa batasan yang jelas.
Satu lagi bentuk
energi besar Ki Slamet Eser adalah kegigihan membangun komunitas budaya “Guyub Larak” yang hampir setiap saat akan
tampil di suatu event kesenian selalu berganti personal. Entah bagaimana
caranya, ia selalu mendapatkan darah baru dari beragam kalangan. Pelukis, pengamen
jalanan dan tukang parkir. Ada juga sosok mahasiswi yang kemudian diangkat
sebagai tokoh Sri Nyolowadi, pendendang lagu-lagu campursari yang digandrungi
oleh komunitas lokal.
Sebagai seniman
potensial, energi berkesenian Ki Slamet Eser sangat luar biasa. Karena
keluar-biasaannya, banyak orang yang menghindar darinya karena beragam alasan.
Ada yang menilai ide-idenya sangat “ liar “. Karena itu sangat sulit diikuti
arah tujuannya. Ada juga yang melihat penampilan keseharian yang kumuh, suka
memaksakan kehendak di balik “sosok memelas” dan beragam penolakan yang
menyebabkan dirinya sering terjerembab dalam kesendirian.
Apapaun
penilaian orang, Ki Slamet Eser tetap berjalan dengan langkah dan logika yang
dipahaminya. Seperti kebanyakan seniman eksentrik, ia terus mengeksplorasi
energi berkesenian dalam tubuhnya. Seolah tak peduli dengan sikap dan omongan
orang di sekitarnya, apapun yang terjadi, the
show must go on.
Kolaborasi
Pernah dimuat di sini
Jumat, 05 April 2013
Bandung Creative City Forum (BCCF)
Jumat, April 05, 2013
aktivitas, Bandung, Budaya, Creative City, Forum, Industri/ Ekonomi Kreatif, Inspiratif, kepedulian Pemerintah, Lokal, Obesesi, Sadar Wisata, Wacana
1 comment
Bandung kota kreatif bukan hanya slogan dan baru
dirintis. Sejak dulu, Kota Kembang yang sering disebut juga sebagai Paris van
Java telah menunjukkan beragam aktivitas kreatif warganya. Di era 1980-an, jauh
waktu sebelum ekonomi/ idustri kreatif digagas, Bandung sudah punya Depot
Kreasi Seni Bandung (DKSB) dengan alm. Harry Rusli sebagai motornya dari
rumahnya di Jl. Supratman sebagai markas besar. Dari grup musik eksperimental ini muncul satu single
hit berjudul Nyamuk Malaria. Sementara itu, di ujung jalan itu ada beragam
jenis kuliner khas yang menjadikan daerah Supratman Ujung sebagai pusat jajanan
khas Bandung. Musik, seni pertunjukan dan kuliner adalah pilar ekonomi kreatif
yang tengah menjadi trend baru ekonomi di banyak Negara.
Bandung Ibukota Kreativitas?
Reputasi Bandung
sebagai destinasi wisata, lokasi perguruan tinggi terkemuka, pusat mode dan
busana, serta kota yang melahirkan beragam band/kelompok musik progresif, telah
berdampak pada tumbuhnya industri kreatif yang didukung oleh ketersediaan
beragam sumber daya. Bandung jadi Ibukota Kreatif?
APA sih yang kurang
dari Kota Bandung sebagai kota kreatif? Rasanya semua persyaratan untuk menjadi
kota kreatif sudah dimilki Bandung. Sebut saja, hampir seluruh profesi kreatif
bisa ditemukan di Bandung, sejak profesi yang high profil seperti arsitektur,
clothing dan distro, pembuat program komputer, animator, hingga pemBuat film dan
musik. Belum lagi iklim yang mendukung, dengan banyaknya pagelaran dan hajatan
kreatif yang digelar dan sepanjang tahun. Untuk yang terakhir ini, para pegiat
kreatif Bandung sudah dua kali menggelar hajatan Helarfest, tahun 2008 dan
2009. Tahun 2010, ada Semarak.bdg yang digelar di sekitar kawasan Braga. Belum
lagi gelaran seperti Bandung World Jazz Festival, dan Pasar Seni ITB.
Situs Departemen Perdagangan menginformasikan industri kreatif menyumbang rata-rata 6,3% terhadap produk domestik bruto Indonesia selama periode 2002-2006. Suatu jumlah yang tidak main-main karena pada 2010, target kontribusi meningkat menjadi 7,9%. Setelah kekayaan sumber daya alam tidak lagi dapat menjadi penopang perekonomian nasional, ditambah sulitnya produk sektor usaha berbasis sumber daya alam lainnya bersaing dengan negara lain karena kalah kompetitif, maka masa depan Indonesia mungkin hanya bisa diselamatkan melalui ekonomi kreatif yang berbasis kekuatan ‘human capital’ yang kreatif dan inovatif.
Situs Departemen Perdagangan menginformasikan industri kreatif menyumbang rata-rata 6,3% terhadap produk domestik bruto Indonesia selama periode 2002-2006. Suatu jumlah yang tidak main-main karena pada 2010, target kontribusi meningkat menjadi 7,9%. Setelah kekayaan sumber daya alam tidak lagi dapat menjadi penopang perekonomian nasional, ditambah sulitnya produk sektor usaha berbasis sumber daya alam lainnya bersaing dengan negara lain karena kalah kompetitif, maka masa depan Indonesia mungkin hanya bisa diselamatkan melalui ekonomi kreatif yang berbasis kekuatan ‘human capital’ yang kreatif dan inovatif.
Lantas,
dari angka kontribusi 7,9 % ini, seberapa besar yang disumbang Bandung? Meski
tidak tersedia data yang cukup memadai, namun diyakini Bandung berkontribusi
dominan. Terlebih, karena para pegiat di Bandung juga sudah memiliki kesadaran
untuk beserikat dan berorganisasi dalam payung Bandung Creative City Forum atau
BCCF.
Bandung
Creative City Forum (BCCF) yang berdiri sejak tahun 2008, beranggotakan para
pegiat kreatif dari beragam latar belakang profesi antara lain arsitek,
desainer, pekerja seni, pekerja musik, akademisi, praktisi & pekerja TI,
pelaku usaha pariwisata, dan jurnalis. Seluruh
kegiatan BCCF bersifat nirlaba dan diperuntukan sepenuhnya untuk pengembangan
kota Bandung dalam bidang dan karya kreatif. BBCF juga merupakan mitra
strategis Pemerintah Kota Bandung dalam membawa Bandung sebagai kota kreatif
dengan kompetensi internasional di benua Asia.
Tujuan
untuk menjadikan Bandung sebagai ibukota kreatini bukan hal yang mustahil untuk
diwujudkan. Semangat ini, tentu tak boleh hanya menjadi monopoli BCCF, juga
harus juga dimiliki oleh para pemangku kepentingan yang lain, diantaranya
Pemerintah kota, pelaku usaha, dan tentu saja masyarakat. Nah, pertanyaannya
adalah bagaimana mewujudkan asa menjadikan Bandung sebagai ibukota kreatif?
Darimana upaya ini harus dimulai? Pembuatan regulasi yang mendukung dan
mempermudah terciptanya iklim dan kondisi kreatif bisa menjadi langkah awal. Upaya
ini kemudian harus diikuti oleh penyediaan berbagai saran dan infrastruktur
pendukung yang memungkinkin aktifitas dan kegiatan kreatif tumbuh subur.
Langkah ketiga adalah dengan mengedukasi warga, agar senantiasa memiliki
kerangka berfikir kreatif dalam setiap aktifitas keseharian. Kreatifitas harus
dipahami sebagai sebuah communal behaviour serta tidak berumah di awan, yang
hanya bisa dijalankan dan dipraktekan oleh para pegiat kreatif. Dengan cara ini
Kreatifitas diharapkan menjadi kebiasan dalam praktek dan aktifitas masyarakat.
Agar
kegiatan dan aktifitas kreatif berdampak pada aktifitas ekonomi, perlu juga
dipikirkan kehadiran dan akses pasar, sehingga produk-produk kreatif memiliki
nilai ekonomi yang sebanding dengan upaya penciptaannya. Dalam hal ini, promosi
dan pemasaran memegang peranan penting. Selama ini, para pegiat kreatif berjibaku
dan berinovasi secara mandiri dalam kegiatan promosi dan pemasaran produk
mereka. Tak hanya memikirkan inovasi produk, para pegiat kretaif juga dituntut
kreatif dalam memasarkannya. Tak hanya di pasar lokal juga di mancanegara.
Bahkan tanpa dukungan pemerintah pun, beberapa karya dan inovasi kreatif para pelaku
industri kreatif sudah mampu menembuh pasar global.
Jadi,
tunggu apa lagi. Ayo kita wujudkan Bandung sebagai Ibu kota kreatif tak hanya
untuk Indonesia, juga di kawasan Asia.
Itulah segmen yang dikupas dalam BCCF Magz (majalah
yang diterbitkan oleh BCCF) edisi Agustus 2012 dalam tajuk Bandung Ibukota
Kreativitas! Geliat aktivitas kreatif warga Bandung seolah tak pernah berhenti
dan kehabisan ide. Apalagi setelah ditetapkan sebagai pilot proyek Kota Kreatif
di Asia Timur tahun 2008, proses kreatif warga Bandung semakin bergairah dan menyebar
di seluruh penjuru. Jika di awal pertumbuhannya, pusat jeans Bandung ada di
sekitar Jl. Tamim, kini telah menyebar ke Cihampelas, Cigolewah dan sebagainya.
Begitu juga di sub sektor industri musik, lahir grup-grup baru dari berbagai
aliran. Seolah-olah, kota ini harus mengungguli Jakarta dan Surabaya. Berbagai
pagelaran musik berskala nasional maupun internasional di gelar di kota kembang
ini. Tidak mengherankan jika Bandung menyebut dirinya sebagai Ibukota
Kreativitas!.
Rasa hormat dan penghargaan tinggi memang layak
diterima oleh BCCF sebagai media komunikasi dan tempat berkumpulnya berbagai
komunitas kreatif kota Bandung dan sekitarnya. Semua sub sektor industri
kreatif yang diidentifikasi Kementrian
Perdagangan (14) plus kuliner merapat dan menjadi bagian aktif forum ini. BCCF berperan sangat besar dalam menjembatani
kepentingan semua komunitas kreatif di Bandung dengan berbagai pemangku
kepentingan (stakeholders). Karena
didalamnya ada komunitas perguruan tinggi yang dimotori oleh ITB terutama FSRD
(Fakultas Seni Rupa dan Desain) serta Sekolah Bisnis ITB. Komunitas jalanan dan
death metal yang biasanya tertutup, ternyata masuk di dalamnya.
BCCF bukan sekadar wadah komunitas kreatif yang
berbadan hukum. Tapi banyak kajian ilmiah yang berkait dengan pengembangan
sub-sub sektor ekonomi kreatif difasilitasi dan jadi keputusan politik dalam
membuka dan menata ruang-ruang publik seperti taman kota, halte bus dan
lain-lain. Sehingga fanatisme warga Bandung
kepada forum ini dinyatakan dalam beragam bentuk. Dari perkumpulan
penggemar sepeda, lahir bisnis baru penyewaan sepeda di waktu-waktu tertentu.
Belum yang terbilang prestisius semacam HelarFest yang telah berlangsung sejak
2008. Perkumpulan
Komunitas Kreatif Kota Bandung yang lebih dikenal dengan Bandung Creative
City Forum (“BCCF”) adalah organisasi lintas komunitas kreatif yang
dideklarasikan dan didirikan oleh Perseorangan, Wirausaha Kreatif, Lembaga
Nirlaba dan Komunitas di Kota Bandung pada tanggal 21 Desember 2008. BCCF
sendiri pada awalnya adalah sebuah forum komunikasi informal untuk koordinasi
dan komunikasi diantara komunitas kreatif di Bandung dalam rangka untuk
menyelenggarakan kegiatan Helar Festival 2008 (“Helarfest 2008”)
Sebagai
organisasi resmi, BCCF mempunyai maksud dan tujuan pada saat didirikannya BCCF sebagaimana
tertuang di dalam Anggaran Dasar Pendirian BCCF, yaitu sebagai berikut:
1.
Menjadi wadah penguatan masyarakat madani (civil
society) yang mandiri (independent) dan tidak terafiliasi baik langsung
atau tidak langsung dengan Organisasi Masa atau Partai Politik manapun, baik
ditingkat lokal atau nasional.
2.
Menjadi forum komunikasi, koordinasi dan usaha
bagi perseorangan atau badan usaha atau komunitas kreatif di Bandung.
3.
Menjadi forum bersama untuk memberikan daya
tawar lebih besar dalam penguatan ekonomi bagi para anggota, pelaku
ekonomi/industri kreatif dan kota Bandung sekitarnya.
4.
Menambah daya dorong pengembangan dan
pemberdayaan potensi kreatif warga Bandung dan sekitarnya.
5.
Memperkenalkan Bandung sebagai Kota Kreatif
terdepan, baik di tingkat nasional, regional dan internasional.
6.
Menjalin kerjasama baik ditingkat Nasional atau
Internasional untuk kepentingan pengembangan dan pembangunan ekonomi/industri
kreatif di Bandung.
7.
Mengembangkan kreatifitas sebagai upaya untuk
pemberdayaan ekonomi dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat sipil,
kelestarian ekosistem dan penghargaan terhadap keaneka-ragaman budaya.
Sebagai
organisasi lintas komunitas kreatif, BCCF ini didirikan oleh sebagian besar
adalah orang-orang atau komunitas kreatif yang ada di kota Bandung atau yang
bidang pekerjaan atau aktifitasnya bersinggungan sangat erat dengan dunia
kreatifitas dan inovasi. Para pendiri
dan anggota BCCF di awal pembentukan: BDA+Design, Urbane, Adiwilaga & Co,
Pixel People Project, LABO the Mori, Mahanagari, Sembilan Matahari,
Death
Rock Star, Tegep Boots, Invictus, Common Room Foundation, Bandung Arsitektur
Family (BAF), Bikers Brotherhood, KICK, Komunitas Sunda Underground, Bandung
Death Metal Sindikat, Solidaritas Independen Bandung, Ujung Berung Rebel,
Jendela Ide, Republic Entertainment, Saung Angklung Udjo, Pusat Studi Urban
Desain (PSUD), SAPPK ITB, Seni Rupa ITB, PSDP ITB, Eco- Ethno, Galeri Seni
Bandung, Open Labs dan sebagainya.
Pasca
Helarfest 2009, muncul beberapa nama baru
seperti Komunitas Air Fotografi, Komunitas Origami Indonesia, Komunitas
GANFFEST, INDDES ITB, Angklung Web Institute (AWI), Komunitas Picu Pacu,
Komunitas Mahasiswa Seni Rupa ITB, Bandung Flower Day, Bandung Affairs dan
sebagainya.
Rabu, 03 April 2013
ANTARA JOGJA, SOLO DAN BANDUNG
Rabu, April 03, 2013
Aneka Kerajinan, Aset, brand image, Budaya, Fesyen, Industri/ Ekonomi Kreatif, Obesesi, OVOP, Pariwisata, Wacana
No comments
Proses Kreatif di Pusat-pusat Kreatifitas - Bagian I
Hampir setiap kali membahas ekonomi kreatif, dua kota
utama : Jogja dan Bandung muncul sebagai bagiannya. Jogja dengan segala
sebutan : kota pelajar, wisata, kuliner (gudeg dan beragam jajanan khas),
budaya dan entah berapa lagi lainnya boleh disebut sebagai barometer dunia
kreatif di tanah air. Masih ingat kaos oblong “DAGADU” ? Kaos yang identik dengan kaum muda berlogo mata sesuai
namanya. Dagadu adalah bahasa plesetan dari kata matamu. Bagi masyarakat Jawa,
kata itu berkesan kasar atau tidak berbudaya. Di situlah letak ketajaman daya
kreasi pencipta merk ( A Noor Arief) yang telah dibajak berkali-kali, sampai
sekarang masih eksis berkreasi di sub sektor busana (fesyen/ fashion).
Selain memproduksi kaos, Dagadu juga memfasilitasi
beragam kegiatan kreatif di antaranya Lomba pembuatan video kreatif tentang
Jogja (Jocvec), membuat situs internet: http://blog.dagadu.co.id/ yang isinya khas dan semua dikasih nama dengan imbuhan MATA. Misalnya kolom yang bertajuk MATALALU yang berisi informasi masalalunya Dagadu untuk pemula maupun garda depan yang
punya tugas di bidang layanan konsumen (lakon). Tanpa bermaksud
melebih-lebihkan Dagadu (yang memang punya banyak kelebihan) atau Jogja (karena
bagian dari alumni di kota itu), saya menyoroti dagadu karena kejelian
mereka melihat banyak persoalan rumit dalam kacamata cerdas (smart) dan tetap
tersenyum
(smile). Dua hal yang membedakan “gali” Jogja dengan lainnya. Dagadu
adalah bahasa “gali” dan oleh mas Noor Arief sang pemilik merek dagang DAGADU
digali maknanya sampai benar-benar njogjani
alias pokoknya Jogja banget. Kesan sangar sang gali diubah total
dengan “senyum” yang representatif keramahan masyarakat Jogja.
Dalam hal penerapan Ekonomi Kreatif, Kota Jogja memakai logo di atas yang sudah cukup dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Jargon yang diusung adalah " NEVER ENDING ASIA". Kota ini memilih sub sektor kerajinan, fesyen, piranti keras dan lunak komputer sebagai andalan untuk menggerakkan ekonomi kreatifnya. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa Yogyakarta adalah kota seni dan budaya. Beragam peninggalan sejarah karya seni adiluhung seperti keraton dan tari langen bedaya-nya; pandangan spiritual tentang jalur imajinatif Merapi, Keraton dan Laut Selatan; munculnya nama kampung kerajinan seperti Batikan, Gamelan, Gemblakan, Kotagede dan lain-lain serta aneka kerajinan yang sudah memasyarakat seperti batik, olah kulit, ukir dan sebagainya.
Dari alasan di atas kemudian disusun 13 langkah untuk merealisasikannya:
- Mendorong lahirnta YOGYAtic sebagai komunitas produsen kerajinan sekaligus perintis pola pembinaan OVOP sehingga mendapat penghargaan Hiramatsu Award.
- Memfasilitasi sekretariat Yogya-IT
- Dalam RPJMD, salah satu programnya adalah pengembangan industri kreatif
- Kebijakan menuju Yogya Cyber Provinc
- Penyelenggaraan lomba desain produk kerjasama pusat dan daerah
- Mendorong kegiatan promosi penerbitan dan percetakan dalam bentuk bursa buku
- Memberikan apresiasi kepada kreator
- Melakukan sosialisasi kebijakan pengembangan industri kreatif
- Menyelenggarakan promosi produk industri kreatif di tingkat lokal maupun nasional
- Menyelenggarakan kegiatan tahunan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY)
- Penyelenggaraan kegiatan tahunan Yogya Fashion Week
- Menyelenggarakan Cat Fish Day untuk meningkatkan konsumsi ikan nasional
- Menyelenggarakan pameran kuliner menu tradisional melalui dinas pariwisata
Mengurai kreatifitas anak-anak muda Jogja sepertinya tak akan ada habisnya. Setiap sudut kota punya sisi menarik untuk digali sisi kreatifnya. Pasar kerajinan di sepanjang Jl. Malioboro seolah bersambung dengan pasar jajanan di Jl. Mataram sampai Pasar Pathuk yang menyajikan bakpia hangat yang baru keluar dari oven para pembuatnya. Di sekitar pasar tradisional yang berada di tengah kota Jogja ini, kita bisa juga menikmati gudeg ala Yu Siyem yang telah dikenal sejak jaman perjuangan menegakkan kemerdekaan. Tidak heran jika Dagadu.co.id menyediakan laman khusus: kapan lagi ke Jogja untuk para alumni menapak-tilasi jejak Jogja dengan segala ragam kenangan yang melekat di hati.
Jika kaos Dagadu Jogja muncul di pertengahan 1990-an,
Bandung telah mendului sebagai pelopor pembuatan Indonesian Denim (jeans Bandung) dengan Jl. Tamim
sebagai icon utama. Beda dengan Jogja yang menggali habis budaya lokal,
Bandung cenderung memilih sebagai duplikator model jeans dari merek-merek
internasional yang sudah dikenal publik. Olah duplikasi ini berlangsung cukup
lama, sekitar dua dasawarsa sampai awal 2000-an ketika Jakarta mulai tertarik
bersaing dengan Bandung. Saat ketika produk konveksi dan garmen rumahan
mengalami booming. Setidaknya, kesan itu yang saya dapatkan di lapangan
sepanjang waktu mendampingi sentra konveksi Roworejo memasuki pusat-pusat
perdagangan barang konveksi dan garmen di Tanahabang dan Cipulir (Jakarta) atau
sekitar Jl. Embong Malang dan Jembatan Merah di Surabaya.
(bersambung: Solo dan Bandung)
Selasa, 02 April 2013
Selamat Datang Era Ekonomi Kreatif Semoga Membawa Kejayaan Bagi Bangsa Indonesia
Selasa, April 02, 2013
Arte Fest 2013, Festival Luk Ulo 2012, Industri/ Ekonomi Kreatif, Inspiratif, Kebumen, kepedulian Pemerintah, keraifan budaya, Kerajinan Tangan, Obesesi, OVOP
No comments
Itulah sederet kata
yang ada dalam tulisan Eddy Cahyono Sugiarto, Asisten SKP Bidang Ekonomi
dan Pembangunan di situs resmi Sekretariat Kabinet RI (http://www.setkab.go.id/ artikel-6693-.html
). Mengingat peran ekonomi kreatif yang semakin meningkat
bagi perekonomian suatu wilayah. Utamanya terhadap pengembangan ekonomi
berbasis UMKM (Usaha Menengah, Kecil dan Mikro), maka tidaklah berlebihan bila semakin banyak kota yang
menjadikan ekonomi kreatif sebagai ujung tombak dan katalisator
pengembangan ekonomi daerahnya. Untuk menjadi pemenang di tengah
persaingan yang semakin ketat, menurut Florida (The Rise of Creative Class),
kota-kota, daerah dan provinsi harus lebih menumbuhkan "iklim
orang-orang." Yang dimotori oleh kaum muda, dengan semangat inovasi dan kreatifitas, memoles
sesuatu yang “biasa”
menjadi “luar
biasa”.
Kontribusi sektor ekonomi kreatif terus meningkat dalam beberapa
tahun terakhir. Pada 2010 mencapai Rp 472,8 triliun dan mampu menyerap
11,49 juta tenaga kerja dan 2011 naik menjadi Rp 526 triliun dengan serapan
11,51 juta tenaga kerja. Tahun ini (2013-pen) angka itu ditargetkan terdongkrak
menjadi Rp573,4 triliun dengan serapan 11,57 juta tenaga kerja. Pengembangan
ekonomi kreatif akan sangat berperan dalam mengembangkan job creation, mengingat besarnya
potensi ekonomi kreatif yang dimiliki Indonesia. Dengan lebih dari 300 suku
bangsa. Dari sisi demografi penduduk usia muda yang mencapai 43% menjadi
modal plus yang kita miliki, karena kreatifitas sangat dekat dengan
kaum muda. Pengembangan ekonomi kreatif juga akan berdampak
langsung bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah, mengingat
sektor ekonomi kreatif, sebagian besar digerakkan oleh pelaku UMKM
dan sangat potensial menjadi kekuatan dashyat untuk mendorong
Indonesia menjadi negara maju
Dua alinea di atas
sengaja saya hadirkan relatif penuh untuk mengawali pembahasan Bagian II dari
tulisan sebelumnya: OVOP dan Ekonomi Kreatif. Dengan tetap menyandingkan dua
konsep dasar pengembangan/ pembangunan SDM yang tengah menjadi trend di negara-negara maju di tengah
melambatnya pertumbuhan ekonomi global, diharapkan membuka cakrawala pandang yang
lebih segar dan konstruktif atas kerangka berpikir ortodoks yang
dipraktikkan oleh penyelenggara pendidikan formal dewasa ini. Kesengajaan tidak
menghadirkan angka agar kesan subyektif lebih ditonjolkan ketimbang yang
obyektif. Selain menyangkut masalah selera, juga dimaksudkan untuk menghindari
upaya copas (copy – paste atau klik kanan) yang tidak menggugah sel-sel syarat
di otak kanan manusia. Karena pada sisi ini, potensi kreatif manusia dapat
diangkat dan dikembangkan secara optimal.
Daya cipta adalah
anugerah terbesar yang diterima oleh manusia dari Sang Maha Pencipta. Dalam
konteks budaya, daya cipta perlu dibarengi dengan karsa agar mampu menghadirkan
karya-karya yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup diri dan manusia lainnya.
Semakin terbuka cakrawala pandang seseorang atas isi dunia ini, semakin luas
jangkauan tangannya untuk meraih hal-hal luar biasa. Jika sebelumnya ia hanya
mampu meraih sesuatu yang ada di sekitar dirinya, dengan meluasnya daya jangkau
pandangan yang mampu dilihatnya, ada kecenderungan untuk meraih keluar-biasaan
itu. Itulah yang dirasakan oleh Gubernur Oita ketika menggagas konsep OVOP.
Begitu juga dengan Bill Gates dengan Microsofnya. Atau yang lebih sederhana
adalah kota Bangkok dengan kemasan paket wisata Chao Praya River dan
sebagainya.
Chao Praya River
Pada tulisan
sebelumnya, ada dua kategori faktor penghambat bagi pengembangan ekonomi
kreatif di Indonesia. Yaitu yang berkaitan dengan masalah orientasi atau
menghadirkan iklim kondusif yang tidak semua pengambil kebijakan publik di
daerah-daerah mampu menghadirkannya secara efektif dan konsisten karena bias
kepentingan. Kategori kedua yakni masalah apresiasi yang saya sebut dengan
istilah masalah budaya. Kedua kendala ini tidak dapat dipecahkan secara parsial,
harus komprehensif dan diprogram serta melibatkan secara langsung orang-orang
kreatif di dalamnya.
Dari pengalaman
pribadi, ketika menggagas dan mengusulkan Festival Luk Ulo 2012 sebagai pengembangan
kegiatan Lomba Mancing di Sungai Luk Ulo, ada kesan kuat bahwa Kabupaten Kebumen
belum siap menghadapi era ekonomi baru yang kini popular dengan sebutan ekonomi
kreatif. Kesan ini saya perolah dari “sepinya” tanggapan, baik semua tingkat
pemerintahan : lurah sampai bupati. Atau lembaga yang berkompeten, terutama
Dinas Pariwisata dan Budaya, meski proposal telah diserahkan ke Bappeda dan
dipublikasikan melalui jejaring sosial facebook, twitter dan blog jauh waktu
sebelum rencana pelaksanaan. Tapi, mungkin juga karena lobby yang kurang kuat dibanding
kegiatan pencatatan rekor MURI atas kerajinan anyaman yang mengundang massa sangat banyak dan dihadiri oleh Menteri
Negara Koperasi dan UKM meski sampai sekarang masih menyisakan masalah dengan
kelompok perajin. Atau faktor lain yang tidak saya ketahui dan Lomba Mancing di
Sungai Luk Ulo 2012 tetap terlaksana meriah (beberapa anggota panitia sempat
gelisah ketika saya mengambil foto lokasi sebelum jam pelaksanaan).
Rakit di Sungai Luk Ulo
Terlepas dari
pengalaman pribadi di atas, saya ingin menyoroti Festival Seni ARTE 2013 yang
spektakuler. Perpaduan dinamis antara unsur klasik dan modern di tempat dan
waktu yang tepat: Jakarta Convention Center, 27 – 31 Maret 2013 lalu. Dari berbagai
publikasi foto dan berita yang bisa saya kumpulkan, tidak muncul jumlah
pengunjung dan nilai transaksi yang dibukukan dalam kegiatan itu. Yang menarik
dari kegiatan ini adalah penyelenggara yang didominasi oleh kaum muda dan
keputusan untuk membebaskan pengunjung dari HTM (harga tanda masuk) alias free
entry atau gratis. Bagi orang awam seperti saya, keputusan menggratiskan
tanda masuk ke arena festival adalah satu diantara banyak nilai plus festival
seni itu. JCC adalah prestis, meski bukan satu-satunya arena pameran bergengsi
di Jakarta.
Mengatasi tantangan, menerjemahkan komitmen
Besarnya potensi pengembangan ekonomi kreatif yang dimiliki
Indonesia, dengan karunia Tuhan akan kekayaan dan keragam-an budaya,
keindahan geografis wilayah serta sumber daya manusia kaum muda yang
indentik dengan dunia kreatif, perlu ditransformasikan menjadikan
kekuatan ekonomi baru yang peningkatan daya saing dan
nilai tambah ekonomi sehingga dapat berkonstribusi bagi peningkatan
kesejahteraan rakyat sebagaimana cita-cita didirikannya suatu negara. Oleh
karena itu, diperlukan adanya sinergitas dari semua pemangku kepentingan,
dalam mengatasi berbagai tantangan yang berpotensi menjadi bottleneck pengembangan ekonomi
kreatif, utamanya dalam membangun akselerasi sinergitas dalam meningkatkan
kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) kreatif. Karena mayoritas
SDM yang menyokong ekonomi kreatif Indonesia sebagian besar belajar
secara otodidak . Di samping itu, perlindungan HAKI yang kita
miliki juga masih jauh dari harapan. Infrastruktur teknologi informasi belum
kompetitif dan dukungan pembiayaan dari perbankan yang belum optimal, disamping
penetrasi pasar yang lemah karena adapsi teknologi informasi melalui online marketing belum membudaya.
Bercermin dari beberapa bottleneck yang
diidentifikasikan di atas, seyogyanya Kementrian/Lembaga di pusat dan
daerah sebagai perumus kebijakan ekonomi kreatif
diharapkan dapat memfasilitasi, memotivasi dan menginspirasi pengembangan ekonomi
kreatif dalam bentuk rencana aksi yang kongkrit dan terukur. Dengan
menjadikan ekonomi kreatif sebagai bisnis masa depan yang menjanjikan,
memfasilitasi promosi dan mengintensifkan bantuan modal usaha. Kalangan bisnis
diharapkan dapat mengoptimalkan self
development, mengembangkan kapasitas usaha melalui sistem lokomotif
– gerbong, dari pengusaha besar ke pengusaha kecil. Dan tak kalah pentingnya
adalah dukungan cendekiawan melalui pengembangan penetrasi pasar dengan
pemanfaatan online marketing.
Di samping berbagai terobosan lain, berpikir out of
the box, menciptakan linkage atau konektivitas ekonomi
kreatif dengan pariwisata, sebagai venue untuk proses produksi, distribusi
sekaligus pemasarannya.
Rekomendasi Asisten SKP Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Eddy C.
Sugiarto, ini sudah lebih dari cukup untuk mengambil langkah tepat bagi daerah (pemerintah provinsi dan
kabupaten/ kota) dalam menetapkan kebijakan pembangunan ekonomi wilayahnya
berbasis ekonomi kreatif. Alasan klasik keterbatasan anggaran tak perlu lagi
jadi “kambing hitam” karena ada program Corporate Social Responsibility (CSR) dari
berbagai BUMN maupun perusahaan nasional, KUR, PPK, PNPM dan sebagainya. Sepanjang
ada komitmen yang jelas dan tegas, bukan hanya kota-kota besar seperti Jakarta,
Bandung, Yogyakarta, Solo dan Denpasar saja yang mampu mengaplikasikan konsep
pembangunan kewilayahan ini. Kota/ Kabupaten kecil seperti Kebumen justru dapat
mengambil keuntungan maksimal dari peluang memajukan pembangunan ekonomi dengan
pendekatan aktual ini. Apalagi jika dipadukan dengan konsep OVOP.
Sekadar gambaran kasar, perpaduan dua konsep pemberdayaan ekonomi
masyarakat berbasis aktivitas dalam rerangka ekonomi kreatif dan OVOP di
Kabupaten Kebumen selain kerajinan anyaman pandan dapat juga dilakukan pada
sentra industri kuliner lanthing sebagai jajanan khas. Keduanya berlokasi di
Kecamatan Karanganyar dan secara sosiologis masyarakatnya cukup terbuka jika
dibandingkan dengan kota Kebumen. Tetapkan wilayah ini sebagai basis
pembangunan ekonomi dan jadikan wilayahnya sebagai “ajang adu prestasi” bagi para
calon pemimpin wilayah. Dalam banyak
hal, Karanganyar lebih memenuhi syarat kualitatif dibanding 25 kecamatan lain.
Tidak yakin ? Silakan kaji secara ilmiah, kalau perlu mendatangkan peneliti
dari UGM, UI, ITB dan IPB. Lebih afdol jika melibatkan organisasi profesi
semacam Hipando dsb. Dan bentangkan baliho raksasa: “Selamat Datang Ekonomi
Kreatif dan OVOP di Kabupaten Kebumen”. Semoga membawa kejayaan bagi masyarakat
Beriman. Amien 3x ya robbal ‘alamin.
Sabtu, 30 Maret 2013
OVOP & EKONOMI KREATIF
Sabtu, Maret 30, 2013
aktivitas, Aset, berpikir global, bertindak lokal, Budaya, Industri/ Ekonomi Kreatif, Inspiratif, kepedulian Pemerintah, keraifan budaya, Obesesi, OVOP, Wacana
No comments
Ada
dua gagasan dasar yang memiliki keserupaan dalam upaya mengembangkan potensi
ekonomi masyarakat yakni OVOP dan Ekonomi Kreatif. Beberapa tulisan sebelumnya
telah dibahas tentang OVOP. Kini giliran untuk mengupas faktor yang
mempengaruhi pilihan kebijakan pembangunan kewilayahan yaitu ekonomi kreatif
(Creative Economy) atau sering disebut juga dengan istilah Creative Industry).
Kedua istilah creative economy atau
industry saya anggap sama maknanya.
Definisi
ekonomi kreatif menurut Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekref) yaitu industri yang
berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk
menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan
pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Berdasar batasan ini
jelas sekali orientasi ekonomi kreatif adalah individual, SDM kreatif. Mungkin
ada pertanyaan, siapakah SDM kreatif itu ? Jawaban singkat : siapapun bisa dan
mungkin melakukan aktivitas ekonomi kreatif baik karena punya latar pendidikan
maupun berbakat kreatif.
Pertanyaan
berikutnya, apakah orang yang punya latar pendidikan dan bakat kreatif mampu
menyelenggarakan ekonomi kreatif? Jawaban singkat : tidak semua atau tidak
selalu. Mengapa? Banyak orang kreatif, mampu menghadirkan karya-karya kreatif
yang bernilai ekonomi tapi enggan atau tidak mampu menangkap peluang ekonomi
yang ada dalam karya-karyanya. Berkait dengan peluang, kita akan melihat di
sisi sebaliknya : tantangan dan/atau hambatan.
Dalam
buku Pengembangan Ekonomi Kreatif 2025 yang dipublikasikan (dapat diunduh gratis) oleh Kementrian
Pariwisata dan Ekonomi disebutkan bahwa di Amerika Serikat, Richard Florida
menggolongkan SDM kreatif sebagai strata (sosial-pen) baru yang disebut creative
class. Di era ekonomi baru ketika kreatifitas telah menjadi industri,
pekerja kreatif bukan hanya dari sektor seni. Di dalamnya ada juga ilmu pengetahuan (sains), teknologi, manajemen
dan lain-lain. Ada pendidik, peneliti,
insinyur, desainer, artis, musisi dam penghibur (entertainer). Mereka adalah orang-orang yang menghadirkan
ide-ide baru, teknologi baru, konten baru serta orang-orang yang mengandalkan
daya pikir dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
Berkembangnya
kegiatan berbasis kreativitas di Amerika Serikat, Inggris dan beberapa negara Asia
berupa kegiatan sub kontrak (outsourcing) yang kian menunjukkan
kematangannya membuat India dikenal sebagai negeri penghasil film (Bollywood)
dan piranti lunak. Sementara itu Korea Selatan dan China dikenal sebagai
produsen otomotif, barang-barang elektronik dan industri konten sejajar dengan
Jepang yang telah mendului. Singkat cerita kita akan menuju satu pertanyaan:
bagaimana dengan Indonesia ? Belum berkembang maksimal karena terkendala
beberapa hal utama:
- Banyak SDM kreatif di bidang artistik yang belum memahami secara menyeluruh “isi” kreativitas di era industri kreatif. Sehingga masyarakat awam menilai dunia artistis adalah ekslusif dan tidak merakyat ( masalah orientasi dan apresiasi – pen).
- SDM kreatif di luar bidang artistik (sains dan teknologi) terlalu mikroskopik dalam melihat keprofesionalannya sehingga cenderung berpola pikir mekanistik dan kurang inovatif ( masalah orientasi dan apresiasi – pen).
- SDM kreatif sering kekurangan sarana untuk melakukan eksperimen dan berekspresi sehingga hasil karyanya sering kurang kreatif dan inovatif (masalah apresiasi-pen).
Konsep
OVOP dan Ekonomi Kreatif menempatkan pembangunan SDM sebagai faktor penting. Sasaran
yang dituju pada konsep OVOP adalah produk lokal yang berorientasi global
dengan pendekatan komunal. Sementara itu, dalam ekonomi kreatif pendekatan yang
digunakan adalah individual. OVOP mengedepankan nilai tambah atas produk
(beberapa produk) yang sudah ada, ekonomi kreatif mengharuskan pembaruan atas
produk dan/atau jasa yang telah ada atau menghadirkan produk dan jasa yang
benar-benar baru dalam suatu proses inovatif. Perbedaan keduanya bisa
dijembatani dengan kebijakan politik pemerintah yang kondusif. Tumpang tindih
dan “perebutan wewenang” menangani kedua potensi kreatif masyarakat justru akan
mematikan jalan menuju Indonesia sejahtera, adil dan makmur (mungkin masih
bersambung).
Senin, 25 Maret 2013
OBSESI(KU) UNTUK PERAJIN ANYAMAN PANDAN DI KEBUMEN
Senin, Maret 25, 2013
Aneka Kerajinan, Anyaman Pandan, Aset, Bu Ngatini, Grenggeng, Kerajinan Tangan, Obesesi, Profil, Sentra Industri, Seputar Hipando
3 comments
Mewujudkan cita-cita adalah wajib bagi manusia.
Karena
cita-cita itu merupakan motivasi untuk
maju dan berkembang. Tetapi proses pencapaiannya dapat berbeda antara satu
dan lain orang. Ada yang mulus, tersendat atau macet.
Kerajinan anyaman pandan di Desa Grenggeng Kecamatan
Karanganyar sudah saya kenal sejak tahun 1990. Saat saya dikenalkan oleh
almarhum Bapak Abdurrahman selaku petugas lapangan pada kantor Dinas
Perindustrian Kabupaten Kebumen. Secara garis besar, visi kami serupa yakni
mengembangkan industri rumah tangga ini sejajar
dengan Tasikmalaya (Rajapolah) yang selama ini merupakan konsumen terbesar complong
(hasil anyaman berbentuk silindrik) produksi perajin anyaman
Grenggeng melalui pengembangan desain dan pasar. Dari mas Rahman, kemudian saya
mengenal nama-nama pemuka di komunitas perajin yang saat itu bergabung dalam
wadah KUB (Kelompok Usaha Bersama) Pandansari. Yaitu Ibu Djumarnah, Ibu
Djamhari dan Ibu Maryani. Nama terakhir adalah orang yang sering berkomunikasi
dan saya ajak mengikuti pameran di beberapa tempat seperti Balai Kerajinan
Provinsi DKI Jakarta dan Jakarta Design Center.
Sebenarnya jalur saya berbeda dengan pandan. Sejak
ikut pelatihan manajemen dan desain kerajinan bambu yang diselenggarkan oleh
Yayasan Pengembangan Desain Kerajinan Indonesia (YPDKI) 1991, tentunya saya lebih fokus
di lingkungan kegiatan kerajinan bambu. Khususnya untuk furnitur. Setelah
melakukan kaderisasi, saya meninggalkan Kebumen untuk urusan pribadi dan
kembali akhir 1995. Tentu saja masih tetap memantau dan melakukan kunjungan
lapangan saat pulang kampung. Masa-masa itu masih sangat berat untuk
menggantungkan “nasib” pada kegiatan kerajinan (mungkin tidak berlaku untuk
yang lain).
Ketertarikan pada perkembangan kegiatan kerajinan
pandan di desa Grenggeng dan sekitarnya sebenarnya tidak pernah pudar. Karena
itu, ketika melihat ada potensi besar pada pribadi Yahya Mustofa yang saya
kenal saat melakukan aktivitas bersama pada program pengembangan Lembaga Ekonomi
Produktif Masyarakat Mandiri (LEPMM) di tengah tahun 1999 (salah satu pemicu
perkembangan BMT di Kabupaten Kebumen), saya dorong dia agar lebih fokus pada “nasib” industri kerajinan pandan meski
posisi formalnya lebih tinggi dari saya. Hampir semua pengetahuan dan
pengalaman saya berikan untuk menambah bekal dirinya. Dia bisa melakukan dan selanjutnya
mengangkat dirinya sebagai “tokoh” penting dalam industri kerajinan
di Kabupaten Kebumen. Bahkan tak tanggung, setelah menerima Danamon Award, ia
raih Upakarti untuk kategori kepeloporan pemuda dari Presiden RI. Sebagai
mentor, saya bangga mendengarnya (meski yang bersangkutan memberitahukannya
terlambat beberapa bulan). Dalam rentang waktu yang relatif pendek (sekitar 9
tahun), Yahya Mustofa melesat dalam bendera Dubexcraft jauh di depan para pegiat seperti ketiga orang yang
disebut di atas dan Ibu Ngatini yang setia menemani perjalanan dirinya selama ini.
Ibu Ngatini
Singkat cerita , ia (entah karena alasan apa) menemui dan mengajak saya agar aktif kembali dalam kegiatan pengembangan kerajinan anyaman. Kali ini tak tanggung lagi, berskala nasional di bawah nama Himpunan Perajin Anyaman Indonesia (Hipando) melalui Temu Karya Kerajinan Nasional di Hotel Maharani Jakarta 27-29 Oktober 2010. Dari sini, saya dapat lebih mengenal pribadi Ibu Ngatini sampai sekarang. Seperti biasa, saya menduga akan dijadikan trigger di arena itu. Ternyata benar, jabatan double selaku Sekretaris II di tingkat nasional dan Kordinator Provinsi Jawa Tengah. Bukan kebanggaan yang saya terima. Justru prihatin karena sampai saat ini belum mampu jadi jembatan bagi perajin anyaman di Jawa Tengah. Banyak kendala internal dan eksternal yang harus dihadapi. Berbagai upaya telah saya lakukan secara pribadi dan dorongan semangat dari Ibu Ngatini dan kawan-kawan agar Hipando bukan sekadar papan nama seperti organisasi sejenisnya.
Terlepas dari adanya kendala yang selalu dialami oleh
setiap orang dan organisasi, hal yang lebih penting adalah komitmen dan langkah
nyata. Pergulatan selama lebih dari dua tahun nampaknya akan membuahkan hasil
jika usulan kami (saya dan Edie “Bonggol Jagung” Juandi) kepada Kementrian Perindustrian
RI tentang program Pelatihan Industri Kerajinan Ekspor Berbahan Serat Alami
dapat direalisasikan segera. Kerajinan Anyaman Pandan adalah adalah satu
prioritas. Semoga.


















.jpg)









