Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label Gerakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerakan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2014

Ketika Jakarta Ingin Seperti Harajuku


Harajuku adalah satu pusat busana jalanan yang kini telah terkenal di seluruh penjuru jagad raya ini. Di lokasi ini ada beragam butik, mal-mal yang memajang beragam busana serta semua hal yang berkait dengan dunia busana. Harajuku adalah sebuah kampung kecil yang berubah menjadi pusat busana dan budaya kaum muda pasca Perang Dunia II. Adanya barak militer tentara Amerika Serikat di Bukit Washington membawa dampak yang cukup besar bagi kaum muda setempat dalam berbudaya Barat. Apalagi setelah penyelenggaraan Olimpiade 1964 yang menjadikan Harajuku sebagai lokasi perkampungan atlet, proses asimilasi budaya semakin kuat. Sejak berdirinya mal khusus busana pada 1978, Harajuku seolah memantapkan posisinya sebagai pusat bisnis busana dunia dengan konsep jalanan-nya.





Indonesia Fashion Week (Pekan Busana Indonesia) yang akan diselenggarakan di jakarta Convention Center 20 – 23 Pebruari 2014 adalah sebuah ajang kreatif yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Sebagai motor penggerak adalah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang didukung oleh tiga kementerian terkait yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UMKM serta Kementerian Perindustrian yang mengusung tema besar Green and Local Movement. Tema yang intinya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mencintai produk-produk lokal (buatan dalam negeri) dan yang ramah lingkungan.

Indonesia Fashion Week  mengajak warga Jakarta untuk ramai-ramai memamerkan gaya lokal terbaiknya pada tanggal 16 Februari 2014 lalu melalui event Sunday Dress Up. Aksi yang didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini telah berlangsung pada saat Car Free Day di bundaran HI hingga area Monas. Ratusan partisipan dari berbagai komunitas umum melebur bersama desainer, model, pelaku media hingga murid sekolah mode. Mereka memakai busana bernuansa konten lokal dan melakukan "demo" dengan membawa slogan-slogan seputar local movement.





Dengan Local MovementLocal Movement, Indonesia Fashion Week akan semakin memperkuat rasa cinta dan bangga pada negeri sendiri beserta produknya. Berbagai rangkaian pra-event yang seru dan penuh energi segar seperti Sunday Dress Up ini diharapkan dapat memperkenalkan "gaya Indonesia" kepada dunia. Sudah saatnya kita bangga memakai produk yang menunjukan identitas diri kita. Indonesia yang kaya akan material, detail hingga styling, punya ciri fashion tersendiri yang berbeda dibandingkan dengan ciri fashion yang sudah ada di dunia.

Mungkin suatu hari nanti di Jakarta akan ada area khusus seperti di Harajuku-Jepang, dimana semua orang dapat "memamerkan" gaya lokalnya masing-masing. Lalu perlahan tapi pasti, warga dunia akan menoleh pada "gaya lokal" Indonesia. Dan kita pun dapat berkata dengan bangga,"Gaya ini adalah gaya lokal Indonesia!".  Mimpi itu dimulai dari sekarang, dan kita semua ikut andil dalam mewujudkannya!

Itulah obsesi Jakarta yang selama ini telah menjadi barometer kehidupan di tanah air. Selain merupakan ibukota negara dan pusat pemerintahan, Jakarta juga menjadi pusat beragam aktivitas bisnis. Di bidang busana, selain Tanah Abang yang telah menjadi pusat bisnis busana kelas menengah-bawah, banyak pusat busana yang ada di berbagai mal dan pusat belanja kelas menengah-atas yang tersebar di seantero Jakarta. Rumah-rumah mode dan toko-toko online yang menyediakan busana beragam keperluan dan harga terus bertumbuh. Belum lagi sejumlah konveksi, modiste dan tailor. Semua itu merupakan faktor pendukung yang sangat kuat bagi tumbuh dan berkembangnya bisnis busana.


Dengan pengakuan Unesco bagi batik tulis Indonesia sebagai warisan budaya dunia (world herritage) semakin menambah rasa percaya diri para perancang dan pebisnis busana untuk terus memantapkan diri dan industri kreatif ini ke posisi puncak. Pekan Busana Indonesia memang layak diapresiasi sebagai satu jalan utama untuk menggapai asa Jakarta setara dengan atau lebih tinggi dari Harajuku di Jepang. Diperluat dengan gerakan lokal dan ramah lingkungan (local and green movement) serta upaya serius menumbuh-kembangkan Sentra-Sentra Kreatif Rakyat di berbagai daerah tujuan wisata unggulan, bukan satu hal yang mustahil jika tak lama lagi ada Harajuku ala Jakarta. Tentunya dengan satu harapan besar lain, situasi politik dalam negeri cukup kondusif. Semoga.

Kamis, 28 Maret 2013

Menguatkan Pilar Ekonomi Kreatif Bagian II


OVOP: BERPIKIR GLOBAL, BERTINDAK LOKAL


Tulisan ini adalah bagian dari tulisan tentang gagasan “Menguatkan Pilar Ekonomi Kreatif”. Pada bagian II yang berjudul sama dengan di atas, saya ingin menampilkan trend baru pendekatan pembangunan ekonomi lokal berbasis pengembangan aktivitas kreatif masyarakat. Kabupaten Kebumen yang selama ini terengah-engah mengejar ketertinggalannya dari daerah lain punya potensi kekuatan andalan di antaranya adalah sentra kerajinan anyaman pandan di Kecamatan Karanganyar dan sekitarnya.

Sekali lagi, saya harus memberikan apresiasi sangat tinggi kepada orang Jepang. Setelah Keizen Costing yang membuyarkan pandangan Barat tentang efisiensi melalui koreksi atas definisi biaya variable atau overhead cost, kini ada Dr. Morihiko Hiramatsu yang saat menjadi Gubernur Oita menggagas dan mengembangkan pemikiran brilian “OVOP    (One Village One Product) yang gaungnya baru di Indonesia terasa setelah dua dekade berjalan di negeri asalnya. Konsep OVOP jauh lebih sederhana dari Keizen. Tetapi keduanya (seolah) memiliki kaitan erat yakni berbasis aktivitas.
Alasan utama yang mendorong munculnya gagasan OVOP yaitu:
  1. Local yet global. Produk-produk yang dibuat bernuansa global adalah satu penghargaan atas budaya lokal.
  2. Self-reliance and Creativity. Realisasi OVOP harus merupakan tindakan mandiri dalam mengoptimalkan potensi lokal.
  3. Human Resource Development. Pembumian gagasan kepada masyarakat dengan memberi tantangan dan semangat kreatif. 
Perajin anyaman desa Grenggeng yang jadi "karyawan"
salah satu vendor kerajinan anyaman pandan

Kunci Sukses Sebuah Gerakan "Satu Desa, Satu Produk"

Gerakan "One Village, One Product"  menarik perhatian dari daerah-daerah yang berpenghasilan rendah tidak dapat menarik industri teknologi tinggi dan juga  para pegiat pada proyek-proyek pengentasan kemiskinan. Gerakan ini merekomendasikan penduduk setempat untuk menggunakan sumber daya lokal dalam menghasilkan nilai tambah produk yang tinggi, dan membawa hasil yang mereka buat ke pasar. Banyak pemimpin telah datang jauh-jauh ke Oita untuk belajar tentang pengembangan sumber daya manusia melalui kampanye gerakan ini. Kata kunci yang saya bisa tunjukkan kepada  Anda;
  1. Penduduk setempat punya kesadaran atas potensi mereka sendiri dan sumber daya  yang ada wilayah mereka. 
  2. Diakui sebagai kekayaan lokal (daerah). 
  3. Kontinuitas adalah sumber kekuatan utama. 
  4. Produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah tinggi. 
  5. Ada jaminan atas penjualan. 
  6. Pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia).
Jika memperhatikan dengan saksama gagasan dasar Program, OVOP akan berhasil ketika masyarakat dan pemerintah memiliki penilaian(visi) sama tentang potensi lokal  yang berbasis budaya. Produk-produk anyaman pandan di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah sebenarnya termasuk dalam gagasan dasar Morihiko Hiramatsu-san yaitu local yet global. Banyak vendor (pemasok barang kerajinan) yang berkiprah dalam bisnis produk-produk berbasis anyaman pandan global mengambil bahan setengah jadi (complong) dan produk ¾ jadi (sisanya berupa asesori, kemasan dan merk dagang) dari perajin  Desa Grenggeng dan sekitarnya. Gagasan Gubernur Provinsi Jawa Tengah, Bibit Waluyo, yang dikenal dengan istilah/ jargon “bali ndesa, mbangun desa” sebenarnya mengacu pada program OVOP ini. Tapi, seperti biasa, karena hanya merupakan komoditas politik menjelang pilkada, nilai apresiasinya relatif rendah dan tanpa tindak lanjut yang jelas selain jargon itu sendiri yang dirupakan dalam bentuk lagu atau sejenisnya. Begitu juga dengan Buyar Winarso yang sekarang menjabat Bupati Kebumen dengan jargon “aku sing ngerti karepmu”, ketika ada masalah yang cukup signifikan berubah jadi “se karepmu lah”. 

Beberapa Nama/ Sebutan OVOP di Berbagai Negara
(Local Diplomacy)
  1. One Factory One Product (Shanghai, China)
  2. One City One Product (Shanghai, China)
  3. One District One Product (Shanghai, China)
  4. One Village One Treasure (Wuhan, China)
  5. One Region One Vision (Philipine)
  6. Satu Kampung Satu Produk Movement (Malaysia)
  7. Back to Village (Jawa Timur, Indonesia)
  8. One Village One Product Movement (Kamboja)
  9. One Village One Product Day (Los Angeles, USA)
  10. One Parish One Product Movement (Louisiana, USA)
(bersambung)

Selasa, 26 Maret 2013

Menguatkan Pilar Ekonomi Kreatif: Upaya Menuju Kawasan Industri Kreatif Bagian 1



Seminar industri kreatif yang diprakarsai oleh STIE dan Koperasi Alumni (Kopastie) YKPN Yogyakarta Juni 2011 menarik kesimpulan bahwa media tradisional radio, TV dan lainnya tetap menjadi media utama pemasang iklan. Dari beragam kategori iklan,  pangsa pasar terbesar adalah kalangan remaja. Sementara itu, periklanan merupakan satu dari sejumlah cabang industri kreatif yang berkembang versi Departemen Perdagangan RI. Jika hal ini mewakili gambaran umum tentang “peta buta” kondisi aktual industri kreatif Indonesia, maka perekonomian nasional ke depan akan ditopang oleh sekitar 15 pilar industri kreatif (14 jenis versi Dep. Pedagangan dan satu yang tengah diusulkan masuk kategori ini adalah industri kuliner).

Industri kreatif biasanya muncul dari lingkungan yang iklim kewirausahaannya berkembang cukup baik. Ada tiga contoh wilayah yang mampu membuktikannya yaitu Bandung dengan industri tata busananya. Yogyakarta dan Pulau Bali berkibar dengan kerajinan tangan.  Ke tiga wilayah itu boleh dibilang merupakan tujuan utama wisata lokal maupun manca negara. Industri kreatif (versi Departemen Perdagangan RI) mengacu pada definisi: "Industries which have their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property".
Jelas bahwa pelaku industri kreatif adalah pewirausaha. Dan ini berkait erat dengan perilaku, sikap atau budaya warga masyarakat.

Secara umum, pola budaya masyarakat Indonesia yang cenderung komunal adalah tantangan dan sekaligus peluang bagi pengembangan ekonomi kreatif. Di sisi lain, sikap kebanyakan pemerintah daerah khususnya terhadap keberadaan aktivitas industri kreatif masih setengah hati.  Dua hal yang menjadi tantangan ini dapat berubah sebagai peluang jika pelaku industri kreatif bergabung dalam suatu wadah formal yang dikelola berdasarkan kaidah manajemen dan profesionalitas. Bantuknya bisa koperasi atau perusahaan umum (corporate). Idealnya mencakup bidang industri yang saling berkait. Misalnya kerajinan, busana, desain, pasar seni dan barang antik, percetakan dan penerbitan serta layanan komputer dan piranti lunak.

Kawasan atau sentra industri kreatif ini berbeda dari konsep LIK (lingkungan industri kecil) yang menjadi tempat berkumpulnya sejumlah kegiatan industri pada satu cakupan wilayah fisik yang besar dan luas. Di dalam sentra industri kreatif, para pelaku hanya berkumpul dalam memanfaatkan fasilitas tertentu semisal bengkel kerja ( workshop ),  laboratorium dan pusat pengembangan desain yang biasanya cukup mahal untuk dimiliki sendiri. Atau ruang pamer ( showroom ) yang menyatu dengan ruang/ tempat untuk melakukan negosiasi dan transaksi bisnis berskala besar yang dilengkapi dengan fasilitas penyediaan teknologi informasi berjaringan luas dan sebagainya. Aktivitas produksi barang/jasa tetap dapat dilakukan di tempat semula dan mandiri.

Berikut adalah pengelompokan jenis industri kreatif versi Departemen Perdagangan RI:
1. Periklanan (kreasi dan produksi iklan)
2. Arsitektur (tata kota, pertamanan, konservasi budaya, lelang dan
     sebagainya)
3. Pasar seni dan barang antik
4. Kerajinan
5. Desain (interior, eskterior, grafis dan sebagainya)
6. Tata busana (fashion)
7. Film dan fotografi
8. Permainan kreatif
9. Musik
10. Seni pertunjukan
11. Penerbitan/percetakan
12. Layanan komputer dan piranti lunak
13. Televisi dan radio
14. Riset dan pengembangan.



Satu bidang yang belum tercakup pada kategori di atas adalah kuliner. Sektor ini sangat elastis dengan semakin meningkatnya pendapatan dan kesadaran atas pola makan/minum yang memenuhi syarat-syarat tertentu: kesehatan, cita rasa, estetika dan sebagainya.