Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2010. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Maret 2014

Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian III

Siluet tampilan Teater Ego Kebumen.


Episode 1 : Gelar Kreatif  Kebumen
Segmen  1 : Gelar Panggung Tetaer II 2010
Bagian   2 : Pertunjukan Hari Kedua

Pentas hari ke dua yang diharapkan sebagai malam puncaknya Gelar Panggung Teater 2010 dibuka dengan penampilan kolosal dan garapan yang cukup rapi dari Teater Spenven. Berikutnya adalah tampilnya tiga dara Tetrasa tanpa menyebut lakon tertentu. Cukup hidup untuk skala pemula. Penampilan ke tiga adalah dari Teater Didik STAIN Purwokerto dalam alur cerita yang mengalir. Diawali perubahan setting lampu, salah satu pemain membawakan sinopsis. Nampaknya, mereka sangat apresiatif atas acara GPT 2010. Dengan membawa pemain dan crew panggung sekitar 40 orang, apresiasi penonton sangat baik. Saya tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk mengikuti seluruh jalannya pentas teater ini karena harus menggantikan posisi tugas kepanitiaan yang sebagian besar anggotanya akan mementaskan lakon Kalijaga karya Kang Kaji Habeb setelah pentas Teater Didik. Ketidak-fokusan itu membuat saya sangat banyak kehilangan referensi untuk melengkapi catatan ini. Meski demikian, dilihat dari apresiasi penonton dan komentar teman-teman yang sempat saya hubungi, tampilan para mahasiswa/i STAIN Purwokerto ini pantas diberi acungan jempol.

Di tengah rasa lelah sebagai anggota panitia, Teater Ego Kebumen menutup pentas GPT 2010 dengan lakon Kalijaga. Putut AS yang berperan sebagai Kalijaga mengawali dengan tarian yang dibawakan secara lentur. Melambangkan kehalusan perilaku sang wali ke 9 dari deretan Walisanga di antara arogansi Abdul Jalil yang diperankan Ucok HaeR. Dialog antara Kalijaga dan Abdul Jalil ini sungguh hidup. Blocking panggung nampak sempurna dan sangat menghidupkan suasana. Vocal Ucok yang nge-bass mendukung intonasi nada-nada lembut yang keluar dari mulut Putut AS. Tak kalah menariknya adalah penampilan aktor dan sekaligus Sutradara Anto Batossae. Dengan penguasaan dialog dan kelincahan gerakan pemeran Gatoloco ini seolah menutup celah seluruh sisi panggung atas maupun bawah yang berbatasan langsung dengan penonton dalam format lesehan. Sementara itu, Raja Brawijaya yang diperankan Theodeka memberi kesan hidup dalam panggung seluas atas 60m2 (6 x 10m). Tata lampu yang berkekuatan 1500 watt sedikit menghambat optimalisasi penampilan mereka. Diakhiri dengan siluet, Teater Ego Kebumen memang pantas mendatangkan decak kagum penonton yang datang dari beragam kalangan. Sekitar 250 penonton seolah tersihir oleh penampilan “anak-anak zaman Kebumen”. Sebutan yang diberikan oleh Anto Batossae kepada teman-teman komunitasnya.

Slamet Esser.


Catatan Khusus

Sebagai wahana ekspresi dan apresiasi budaya kontemporer, GPT 2010 telah memenuhi sasaran utamanya. Sedikit dihantui rasa cemas akan masuknya nuansa politik menjelang Pilkadal Bupati/ Wakil, seluruh mata acara yang direncanakan dapat mengalir cukup lancar. Memang ada sampah yang mengikuti aliran itu, tetapi dapat disingkirkan dengan semangat kebersamaan dan edukatif. Kendala klasikal dana disiasati dengan dedikasi oleh Panitia dengan memaksimalkan potensi yang ada saat itu. Sanggar Ilir Ikatan Mahasiswa Kebumen di Yogyakarta (Imakta) pantas mendapat apresiasi terbesar selain respon positif dari semua Komunitas Teater di Kebumen yang telah berkontribusi dalam persiapan dan pelaksanaan acara. Juga para donatur perorangan yang mendukung acara ini.


Pada sesi evaluasi, saya sengaja mengemukakan wacana untuk menghentikan seri kegiatan GPT agar berganti wajah dan penampilan. Juga memberi kesempatan bagi Komunitas lain untuk menggelar acara yang lebih dalam segala hal dari pada acara GPT yang hanya mampu diselenggarakan setahun sekali. Sayang sekali, sebagaimana telah diprediksi, tidak ada jawaban pasti atas wacana itu. Bahkan muncul beberapa hal yang menggelikan ketika tawaran ini disambut dengan bahasa nostalgis. Apapun respon dan risikonya, wacana ini akan terus dikumandangkan sampai ada jawaban pasti bahwa proses pembelajaran lewat kemasan acara Gelar Panggung Teater sudah saatnya diputuskan efektivitasnya.

Sabtu, 08 Maret 2014

Mengisi Ruang Kosong di Rumah Bupati Kebumen - Bagian II

Sanggar Ilir - Imakta.

Episode 1: Giat Kreatif Teater
Segmen 1 : Gelar Panggung Teater II - 2010

Saat membuka berkas di sebuah cakram magnetik (CD) yang mulai sulit dibaca, tanpa sengaja saya menemukan sebuah jejak perjalanan obsesif satu komunitas pekerja seni teater yang ingin membuat satu titik dalam peta budaya nasional. Awalnya, di tengah upaya menyiapkan diri melanjutkan rencana menyelenggarakan Gelar Panggung Teater 2010 sebagai rangkaian giat serupa tahun sebelumnya, kami berkenalan dengan Achamd Marzoeki yang akrab dipanggil Kang Juki yang beberapa saat kemudian kami tahu ingin "pulang kampung". 

Dalam suasana antusiasme tinggi untuk menggelar giat budaya yang terbilang tidak popular, satu istilah untuk menyebut hal tak sesuai dengan selera pejabat yang menafsirkan seni budaya identik dengan jingkrak dan rancak semacam kuda lumping, kami terus berupaya menggali potensi lokal. Khususnya di bidang pendanaan. Kehadiran Kang Juki yang mengaku pernah ditolak oleh sebuah komunitas budaya yang telah bernama, seperti angin segar yang memang sangat dinantikan kehadirannya saat itu. Akhirnya memang terjadi, dana segar untuk sekadar melengkapi properti panggung diperoleh juga. Tak banyak, tapi cukup membantu.

Teater Didik - STAIN Purwokerto.
Teater Gerak - STAINU Kebumen.
Komunitas SRMB Kebumen.


Gelar Panggung Teater (GPT) 2 pada 15 - 16 Januari 2010 adalah kelanjutan dari acara sama (GPT1) yang diselenggarakan 9 - 10 Januari 2009 di tempat dan oleh pemrakarsa yang sama pula yakni FoPSet (Forum Pekerja Seni Teater Kebumen).  Sementara itu, FoPSet dibentuk sebagai wujud kegelisahan para aktivis Sanggar Ilir Imakta ( Ikatan Mahasiswa Kebumen di Jogja) atas kelanjutan proses berkesenian terutama seni teater di Kebumen. Dimotori Bandit, Anto Batossae dan Putut AS, prakarsa itu dikomunikasikan dengan Sahid El Kobar yang selama ini diketahui cukup aktif dalam perteateran Kebumen bersama Teater Gerak STAINU. Singkat cerita, mereka sepakat membentuk FoPSeT sebagai ajang silaturahmi dan proses pembelajaran bersama. Agenda utama adalah menjembatani proses kreatif bagi komunitas-komunitas teater di Kebumen. Wujud nyatanya ialah adanya acara pagelaran seni teater pada sebuah panggung besar yang kemudian diberi nama Gelar Panggung Teater 2009. GPT 2009 juga merupakan buah kompromi dan pengorbanan Komunitas Seni Kreatif Guyub Larak Kebumen yang dikomando oleh pekerja seni lukis dan teater, Ki Slamet eSeR, atas agenda “Geser Tahun”.


Pertemuan FoPSeT dengan saya selaku kurator adalah sebuah jalinan benang merah antara acara Silaturahmi Komunistas Seni dan Sastra (Sikosas) Kebumen tahun 1997 yang menghadirkan Kang To (Achmad Tohari, penulis novel: Ronggeng Dukuh Paruk ), Badjoeri Doelah Joesro (Penyair dan dosen UII Yogyakarta, asal desa Tersobo Prembun), Masdoeki Attamimi (Kantor Berita Nasional Antara, penyair asal desa Panjer Kebumen), Imam Setyanto (Peneliti Pertanian di Malang, asal Kauman Kebumen). Dan peran Eko Sadjarwo (MGMP Bahasa Indonesia, PGRI dan penyair) serta Aris Panji dan Pekik Sasinilo dari komunitas seni Tritisan. Kemudian berlanjut dengan eksperimen Ngamen Puisi bertajuk Aku, Rakyat, Gerilya dalam komunitas Sekolah Rakyat Melubae (2003). Ngamen pertama di SMPN 7 Kebumen, Ruang Paripurna Gedung DPRD Kabupaten Kebumen dan SMA N Klirong. Pertemuan dengan Putut AS dan kawan-kawan yang penuh semangat berproses kreatif dan memiliki jam terbang sangat memadai lewat Sanggar Ilir Imakta Jogja dan Komunitas Seni – Wayang 3D Mika – el Kaji Habeb adalah suatu anugerah khusus (blessing in disguised) atas kekeringan proses dan ajang kratifitas seni kontemporer di Kebumen. 

Perhelatan akbar GPT2 direncanakan sejak Oktober 2009. Format awal adalah festival teater pelajar dan parade teater umum. Wacana ini kemudian dilontarkan di grup jejaring sosial Facebook dengan nama sama. Demikian juga kontak personal di antara anggota panitia dan semua komunitas teater yang ada di Kebumen. Upaya itu direspon cukup positif tidak hanya di Kebumen. Beberapa komunitas di sekitar eks Karesidenan Kedu (Purworejo, Magelang, Temanggung dan Wonosobo) serta Banyumas (Purwokerto dan Cilacap) bahkan menyatakan minat berpartisipasi. Hal ini tak lepas dari peran Mas Kaji Habeb yang sekarang berproses di lembah Tidar Magelang.

Berbekal informasi antar personal dan dukungan moral dari Eko Sadjarwo (PGRI) yang memastikan bahwa aula milik organisasi guru ini bisa digunakan sebagai ajang apresiasi seni teater dan lukis secara cuma-cuma, maka disusun kepanitiaan yang diawaki Komunitas Ego dan Gerak. Nama FoPSeT tetap disertakan sebagai wujud konsistensi. Dan menempatkan sang Ketua, Syahid El Kobar,  selaku Penanggung-jawab acara. Posisi Ketua Panitia masih dipegang Putut AS yang pada penyelenggaraan acara GPT tahun lalu harus sering berjibaku dan bertindak ala "superman" demi kelancaran acara dan tujuan pembelajaran.

Antusiasme komunitas nampak nyata dari respon teater sekolah. Terutama Teater Spenven SMPN 7 yang mengapresiasi undangan Panitia penyikapan luar biasa. Sukses GPT 2009 dan Workshop Teater 24 Mei 2009 menghadirkan kegairahan bagi satu-satunya SMP di Kabupaten Kebumen yang memiliki kegiatan ekstra kurikuler teater sejak satu dasawarsa terakhir. Hal ini tak lepas dari peran Bu Tari yang sangat konsisten memelihara kegiatan itu dengan segala risikonya. Tak jarang beliau merogoh kocek pribadinya agar anak-anak asuhnya dapat tampil pada acara bergensi semacam GPT ini. Dengan dukungan Kepala Sekolah, Teater Spenven tampil lebih prima dari pada tahun lalu. Meski masih mengangkat tema yang sama dengan tahun lalu yakni "kehidupan di alam lain". Pada penampilan di GPT 2010 kali ini, ada kemajuan besar dalam sisi kostum dan koreografinya. Nampaknya terjadi kompromi antara sang pelatih, Syahid El Kobar dan Bu Tari selaku Pembina.
Kondisi serupa terjadi pada Teater Kelir SMAN Klirong yang hanya sempat berlatih seminggu sebelum penampilan. Di sela waktu sempitnya sebagai Ketua Panitia, Putut AS selaku pelatih coba memaksimalkan potensi "warga baru" di lingkungan teater itu. Ada tanggung-jawab besar melestarikan tradisi berteater di lingkungan sekolah yang berada jauh dari pusat kota. Bagaimanapun juga, keberadaan mas Aji yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah adalah tokoh penting di dunia sastra dan teater Kabupaten Kebumen.

Teater Kelir-SMAN Klirong asuhan Putut AS

Teater Spenven - SMPN 7 Kebumen asuhan Bu Tari.


Keberadaan teater kampus kian semarak dengan lahirnya Teater Putra Bangsa (Tetrasa). Benih yang pernah disemai oleh mBak Retno, Slamet eSeR dan Theodeka sejak beberapa tahun yang lalu baru tumbuh sebagai kecambah yang bernyali jati. Penampilan perdana tiga mahasiswi STIE Putra Bangsa Kebumen di pentas GPT 2010 ini memang masih biasa saja. Jika mereka berproses lebih serius dan mendapat dukungan dari manajemen kampus tidak tertutup kemungkinan Tetrasa akan menjadi pilar utama dunia perteateran di Kabupaten Kebumen. Terbukti, satu diantara anggotanya yakni Nana Khasanah terpilih dalam jajaran pemain untuk film indie " Pelukan Sang Pelangi" yang akan diproduksi bersama antara Hanito Kreasindo dan Masjid Raya (Majelis Kajian Peradaban dan Budaya) Kebumen.

Potensi lain dalam perteateran Kebumen muncul dalam Sanggar Basatu SMK Batik Sakti I yang diasuh oleh Kharis JS, alumni Komunitas Teater Purworejo (KTP) yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat. Anggota Sanggar Basatu yang kesemuanya perempuan ini muncul perdana di depan publik pada pentas GPT 2010. Meski cukup kompak, gaya penampilannya masih seperti di catwalk. Unsur teatrikalnya lemah. Dan dilemahkan lagi ketika mereka menyuarakan nada promotif di akhir penampilannya. Kemasan " Perempuan Dalam Ruang" sebenarnya sudah mengundang rasa ingin tahun yang cukup besar. Sayangnya, ruang yang dimaksud adalah sebuah "banner". Jika dikemas dalam alur cerita hasilnya pasti akan mengundang decak kagum. Bukan cemooh seperti yang dilontarkan oleh banyak apresian dengan teriakan" hooooo... iklan....". Atas hal ini, saya sebut sebagai insiden kecil pentas hari pertama. Insiden lainnya adalah sikap penanggung jawab acara yang tidak bertanggung jawab sehingga memaksa saya selaku penasihat mengambil alih peran itu agar semua berjalan lancar.

Dua komunitas lokal Kebumen lainnya  yang pentas pada hari pertama yaitu Sanggar Pandu Wisata di bawah naungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen serta Teater Sinoman Mandiri Desa Depokrejo adalah gambaran keliru tentang posisi GPT 2010. Sebagai anak asuh lembaga pemerintah yang paling berkompeten atas aktivitas kebudayaan masyarakatnya, Disparbud telah menetapkan kriteria aktivitas budaya masyarakat tanpa dukugan pemahaman yang memadai atas arti dan makna kebudayaan itu sendiri. Selaku Kabid Kebudayaan, Slamet JT, tidak sepantasnya membuat "garis demarkasi" artefak budaya lokal adalah yang bernuansa rancak dan jingkrak-jingkrak. Simplifikasi semacam ini jelas merugikan mereka sendiri. Potensi budaya masyarakat yang tidak termasuk dalam kategori itu jadi mengambil "jarak aman" dengan cara dan respon masing-masing. Terbukti, pada GPT 2010 muncul reaksi keras untuk tidak melibatkan institusi itu dalam segala hal. Panitia memberi toleransi kepada Sanggar Pandu Wisata karena faktor personal sang pelatih, Theodeka Wardana dan gairah berapresiasi budaya bagi para anggotanya.

Hal yang menarik untuk bahan evaluasi adalah penampilan Teater Sinoman Mandiri. Sejak awal kontak, Pak Lurah Hanif selaku pimpinan selalu menyakinkan Ketua Panitia bahwa mereka akan membawakan salah satu karya Kaji Habeb (tanpa menyebut judul karya itu). Lebih menarik lagi, tersebar berita bahwa garapan itu akan dikemas dalam Bahasa Jawa dengan melibatkan seorang aktivis teater Unes Semarang yang baru menyelesaikan studi S1nya dan menjadi PNS, mas Priyo Kutho. Tambahan lagi, Pak Lurah Hanif adalah penghubung Panitia dengan Teater Didik STAIN Purwokerto. Dengan referensi yang sangat meyakinkan tersebut, Panitia menempatkan komunitas Sinoman Mandiri pada posisi terhormat sebagai " gong hari pertama". Sayangnya, menjelang waktu pentas terjadi banyak keganjilan. Pak Lurah Hanif tidak mendampingi "anak asuhnya" dan memilih nongkrong di warung angkringan merasakan kehangatan susu jahe di malam yang cukup dingin waktu itu. Tampil dalam format bertutur cerita, dua remaja perempuan anggota Komunitas membacakan cerita pendek dalam "garapan asal tampil". Di bawah teriakan riuh penonton yang memintanya turun panggung, inilah bagian dari insiden kecil pentas hari pertama.

Catatan penting dalam pentas hari pertama adalah kehadiran Teater Banyu Wonosobo asuhan M. Amin. Meski mengaku berproses dalam waktu pendek sekitar dua minggu, penampilan mereka sebenarnya adalah " gong ". Dari informasi Panitia dan obrolan di rumah saya, muncul kesan membanggakan. Aris Panji bahkan memberi pujian khusus atas garapan sutradara yang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur'an Wonosobo itu. Kemasan kolosal yang diselingi beberapa adegan komedi ala Srimulat memang menghidupkan suasana pentas malam itu. Blocking panggung cukup sempurna dalam hiasan tata lampu yang dikendalikan Rahmat eSKa dan kawan-kawan dari UIN Jogja.

Rabu, 08 Mei 2013

Hipando: Potensi Nasional Yang Terbengkelai ?



Membaca judul di atas, mungkin akan muncul pertanyaan: apa itu Hipando? Jenis makanan, nama perusahaan atau … ??? Tak kenal maka tak sayang. Peribahasa itulah yang mestinya jadi pegangan bagi Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Perajin Anyaman Indonesia (Hipando) untuk mengenalkan kepada masyarakat luas tentang diri, kegiatan, pengurus dan seterusnya.

Yah…betul sekali, bahwa Hipando adalah satu nama lembaga atau organisasi yang didirikan sebagai wadah para perajin anyaman yang berada di setiap daerah di Indonesia yang mempunyai karakter seni kreatif dan inovatif (visi) dengan melaksanakan pembinaan, pelatihan dan penanaman modal kerajinan anyaman yang selaras dengan kulturisasi dan berwawasan seni budaya (misi). Menghasilkan produk-produk kreatif, inovatif dan produktif sebagai perajin anyaman Indonesia yang mendunia, memiliki kematangan jiwa dan tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan perkembangan seni kerajinan untuk mensejahterakan masyarakat perajin (tujuan).

Hipando dideklarasikan kelahirannya pada 11 September 2009 di Hotel Bumi Karsa Bidakara Jakarta oleh sejumlah orang yang nama2nya tertera di Akta (Notaris) Pendirian Organisasi Hipando. Dua orang muda, Yahya Mustofa pemilik Dubexcraft (Kebumen) bersanding dengan Cornelia Lina Meiliasari sang pemilik YL Production (Yogyakarta) selaku Ketua Umum dan Sekretaris I BPP Hipando. Keduanya energik dan punya gaya khas. Bahkan, perjalanan Yahya Mustofa di sektor aneka kerajinan melejit bak meteor dalam jangka waktu kurang dari satu dasawarsa. Ia pernah mendapat Danamon Award untuk kategori UMKM dan Upakarti bagi kepeloporan pemuda. Sementara itu, Lina (sebutan akrab Cornelia LM) pernah ke Korsel dan beragam aktivitas yang membawa bendera Hipando.

Sekitar satu tahun berjalan, Hipando menyelenggarakan Temu Karya Kerajinan Nasional yang difasilitasi oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI yang diwakili oleh Deputy IV Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha di Hotel Maharani, Jakarta 27-29 Oktober 2010 yang diikuti oleh seratusan utusan dari berbagai provinsi di Indonesia. Saya diundang oleh Ketua Umum selaku perajin bambu yang akhirnya didaulat oleh para peserta sebagai Sekretaris Eksekutif yang mengelola kesekretariatan dengan bekal sangat minimal. Yakni hasil yang sempat saya dokumentasikan selama mengikuti Temu Karya itu ditambah proses komunikasi informal melalui ponsel dan internet.  Selain itu, oleh semua utusan yang mewakili Provinsi Jawa Tengah (Cilacap, Kebumen, Purworejo dan Ambarawa) ditambah pekerjaan menjadi Kordinator Provinsi Jawa Tengah. Proses yang sangat cepat ini sempat membuat bingung dan ragu. Sebagai pendatang baru di lingkungan Hipando, tugas segunung telah berada di depan mata tanpa kejelasan seberapa besar rentang tugas yang menjadi wewenang seorang sekretaris eksekutif.

Berbagai upaya yang telah saya lakukan untuk menghidupkan Hipando, terutama melalui media sosial : Sukai Halaman facebook, Grup Facebook Hipando, Twitter Hipanpo Pusat, Yahoo Grup Hipando Pusat dan beberapa media sosial lain terus berlanjut sampai beberapa minggu lalu seorang peserta Temu Karya Nasional dari Bogor, Edie Juandi Bonggol Jagung Bogor mulai meramaikan lapak grup Hipando di Facebook. Harapan menautkan para peserta melalui media sosial ini yang relatif ekonomis ini belum efektif sampai tiga bulan menjelang berakhirnya masa bakti BPP Hipando 2009 – 2013.
Dalam “kesendirian”, saya berusaha maksimal agar tujuan mulia Hipando menyejahterakan masyarakat perajin anyaman di Indonesia dapat dipelihara kehidupannya. Berbagai upaya persuasif semisal mengingatkan dua orang muda petinggi BPP Hipando tak pernah mengendor meski harus menanggung segala biaya yang menyertai upaya itu. Satu diantaranya ialah menghidupkan internet lebih dari 12 jam setiap hari agar dapat mengakses grup-grup Hipando yang ada di berbagai media sosial. Juga menyediakan informasi tentang Profil Pelatih Anyaman Pandan yang menjadi satu-satunya jenis kegiatan untuk memelihara kehidupan sebuah organisasi profesi. Yakni bagian yang menjalankan tujuan pelatihan dan pembinaan ketrampilan teknis. Sementara itu, tujuan utama penempatan modal kerajinan dan pembinaan organisasi belum mampu dijalankan ketidak-jelasan sikap para petinggi di BPP Hipando.

Meski demikian, ada satu hal yang “menghibur” yakni tentang informasi Profil Pelatih Anyaman Pandan yang saya letakkan di folder file dalam folder files di Yahoogroup telah diunduh sekurang-kurangnya 40 x. Artinya, kehadiran Hipando sebenarnya memang dibutuhkan oleh masyarakat luas meski dengan cara tersembunyi. Itulah satu-satunya daya hidup yang masih dan akan terus dipelihara sampai para anggota Badan Pengurus Pusat Hipando melakukan fungsi dan tanggung-jawabnya sesuai AD dan ART yang telah diketahui para peserta Temu Karya Kerajinan Nasional yang telah menjadi anggota Hipando dengan bukti penyetoran iuran anggota.






Melalui tulisan ini, kami (saya, Ngatini, Edie Juandi dan Sadek Mutaram) ingin mengingatkan semua anggota, khususnya BPP Hipando agar konsekuen menjalankan kewajibannya untuk segera menyiapkan agenda Musyawarah Nasional yang seharusnya telah disosialisasikan. Haruskah potensi besar nasional ini terus dibiarkan terbengkelai dan dibebankan kepada seorang Sekretaris Eksekutif yang tak pernah menerima limpahan wewenang dari Sekretaris I (utama) serta Ketua Umum yang begitu sangat menyakinkan semua peserta dalam Temu Karya Kerajinan Nasional dan Musyawarah Kerja Nasional I 2010 di Jakarta akan terus ada (eksis) dan bermanfaat itu ?

Kepada Kementrian Koperasi dan UKM RI yang menjadi mitra utama Hipando, dengan hormat,  sangat diharapkan partisipasi dan dorongannya agar keberadaan Hipando menjadi jelas dan tegas. Khususnya Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Drs. Nedy Refinaldi Halim, MS serta Victoria Sipayung yang menjadi wakil resmi Menteri Koperasi dan UKM dalam kegiatan Temu Karya Kerajinan Nasional 2010 tsb. Semoga diketahui dan ditindaklanjuti sebagaimana mestinya. 

Tulisan ini ada juga di rubrik Ekonomi dan Bisnis Kompasiana.