Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunitas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 April 2014

Kewirausahaan Sosial Pada Kegiatan Ekonomi Berbasis Komunitas (2)


Kewirausahaan Sosial
1.     Definisi Umum :
Kewirausahaan Sosial adalah disipllin ilmu yang menggabungkan antara kecerdasan berbisnis, inovasi dan tekad untuk maju ke depan.

2.     Paul C. Light:
Kewirausahaan Sosial adalah individu, kelompok, organisasi, jejaring atau aliansi yang berupaya secara berkelanjutan dengan cara berbeda dalam mengatasi masalah sosial signifikan.

Kegiatan Ekonomi Berbasis Budaya/ Komunitas:

1.     OVOP (One Village One Product)

Dicetuskan oleh mantan Gubernur Perfektur Oita Jepang berdasarkan hasil pengalaman di MITI (Kementerian Industri dan Perdagangan Jepang) dan kondisi faktual setempat yang tidak memungkinkan dikembangkan dengan pendekatan industri berteknologi tinggi. Pilihannya, memanfaatkan potensi lokal yang dapat diangkat sebagai produk/ jasa bernilai tambah tinggi untuk pasar lokal dan khususnya global.

Langkah pertama adalah mengubah pendekatan pembangunan ekonomi konvensional yang berbasis GNP (Gross National Product) menjadi GNS (Gross National Satisfactory)  dan menyodorkan tiga formula tentang OVOP yang harus memenuhi kriteria dasar:
  • Local yet global (kekuatan lokal yang berpotensi global) àproduk/jasa yang mengandung kearifan lokal namun dapat dikembangkan sampai pasar global
  • Self Reliance and Creativity (penghargaan tinggi atas kearifan budaya lokal yan mengandung nilai-nilai kreativitas;
  • Pengembangan Sumber Daya Manusia


Kunci Sukses OVOP
Ø  Local residents’ awareness for their own potential and  their region’s resources
Ø  Recognition of treasures in the area
Ø  Continuity is Power  
Ø  High-value-added Products
Ø  Secured sales route
Ø  Human Resources Development.
  
2.    Ekonomi Kreatif

Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan  stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.

Ekonomi kreatif sering disebut sebagai revolusi industri gelombang ke 4. Ada 15 jenis (sub sektor) di dalamnya yaitu:
  1. Kerajinan
  2. Kuliner
  3. Seni pertunjukan
  4. Musik
  5. Permainan kreatif
  6. Busana/ fesyen
  7. Teknologi Informasi dan Komunikasi
  8. Periklanan
  9. Radio  dan Televisi
  10. Fotografi – Video dan Film
  11. Desain
  12.  Arsitektur
  13. Penerbitan dan percetakan
  14. Pasar barang seni
  15. Riset dan pengembangan.


 Pelaku Ekonomi  Kreatif:

1.      Artis – Seniman  dan perajin
2.     Guru – Dosen – Peneliti
3.     Advokat – Akuntan – Penasihat Investasi
4.     Teknisi dan para perekayasa
5.     Para profesional
6.     Manajer Rumah Tangga
7.     Sukarelawan PMI
8.     Dan lain lain.

Jumat, 11 April 2014

Kewirausahaan Sosial Pada Kegiatan Ekonomi Berbasis Komunitas (1)


Selayang Pandang

Menyambut datangnya sang fajar baru di tengah arena Rembug Relawan PMI ke 2 yang direncanakan akan berlangsung 15-17 Agustus 2014 di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah yang di dalamnya akan ada Seminar atau Sarasehan Kewirausahaan Sosial, saya ingin menyampaikan beberapa pokok pikiran. Tema kewirausahaan diangkat sebagai satu issue besar karena potensi kewirausahaan yang ada di dalam Komunitas SukaRelawan PMI sangat besar dan belum digarap dengan sistematis. 

Tujuan utama pembahasan adalah untuk memetakan potensi kekuatan para SukaRelawan PMI yang selama ini telah membuktikan konsistensi memelihara sikap mandiri sesuai Prinsip Dasar Kemandirian dalam Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Perhimpunan Nasional kepalangmerahan (PMI) adalah organisasi kemanusiaan yang berbasis kesukarelaan dan partisipasi masyarakat (volunteersm and community base). Memasuki era baru pasca Musyawarah Nasional 2014, SukaRelawan PMI harus mampu menjadi tulang punggung selain sebagai ujung tombak dan agen perubahan dalam organisasi PMI masa depan. Kewirausahaan sosial merupakan sebuah usulan terpilih karena memenuhi kriteria itu.

Tulisan ini disusun berseri dan akan menjadi satu dari beberapa bahan tulisan yang akan dipaparkan oleh pemrasaran lain dalam seminar atau sarasehan nanti. Semoga bermanfaat.

Kebumen, 11 April 2014

Komunitas Relawan PMI Sosial Media
KampoengRelawan  

Tetua Adat

Toto Karyanto


  1. Pengantar Diskusi


Kewirausahaan Sosial atau Social-preneurship adalah konsep kewirausahaan umum (entrepreneurship) yang mendapat muatan sosial di dalamnya. Selama ini, kita mengenal kewirausaha merupakan pendekatan ekonomi yang digunakan untuk mengatasi masalah pengangguran dan menggiatkan partisipasi warga masyarakat secara individual dalam menggali serta menguatkan sumber daya internalnya dalam suatu kegiatan ekonomi bernilai tambah.
Dalam pendekatan kewirausahaan sosial, warga masyarakat diharapkan berhimpun dalam kelompok-kelompok kecil (5 – 25 orang), sedang ( >25 – 50) dan besar >50 orang. Biasanya, ada satu atau beberapa orang yang bertindak sebagai pemimpin karena memiliki sumber daya memadai di bidang intelektual (gagasan, konsep, metode, sistem), dana dan akses produksi maupun pasar. Para pemimpin itu bertindak sebagai pembuka jalan, pembimbing (motivator), pelatih dan sebagainya.
Sampai saat ini konsep dasar kewirausahaan sosial masih berkembang sesuai situasi dan kondisi lingkungannya.  Pada umumnya, seorang wirausaha berperan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal, seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.
 Pakar ekonomi Dr. Rhenald Kasali, pernah mengatakan bahwa dampak globalisasi menjadikan keanggotaan suku/ komunitas manusia tidak lagi ditandai oleh aspek regional atau kewilayahan. Namun justru oleh grup atau kelompok-kelompok di jejaring digital seperti facebook, twitter  dan semacamnya. Hal itu tentu bukan tanpa alasan. Seperti kita bisa saksikan sehari-hari, generasi masa kini, jauh lebih sering dan intens berhubungan dengan rekan-rekan di dunia maya-nya dibandingkan dengan lingkungan sosial di sekitar rumahnya. Sehingga seakan-akan suku atau anggota keluarga mereka adalah kelompok dalam jejaring sosial tersebut, yang dapat terdiri dari invididu-individu yang terpisah ratusan kilometer. Informasi mengalir dan senantiasa terbarukan (update). Potensi semakin redupnya budaya bangsa dan budaya daerah kita sendiri cenderung menguat. Dengan kata lain, generasi muda Indonesia terancam menjadi tamu bagi budayanya sendiri, karena mereka mungkin jauh lebih hafal dan fasih budaya dan gaya hidup dari negeri seberang.
Ada dua sektor kegiatan ekonomi yang berbasis budaya. Pertama, OVOP (One Village One Product). Pendekatan sistem pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan budaya yang mengesplorasi sumber-sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi dan berdaya jangkau global. Pendekatan ini digagas dan dikembangkan oleh Gubernur Perfektur Oita, Dr. Morihiko Hiramatsu. Berbekal pengalaman bekerja di MITI Jepang, beliau mengubah pendekatan klasikal GNP dengan GNS (Gross National Satisfaction). Inilah yang menjadi dasar semangat OVOP. Dari maksi menjadi mini. Kini, hampir semua anggota Asean telah mengaplikasikan pendekatan ini dengan cara dan metoda yang berbeda. Misalnya, Thailand yang memanfaatkan internet masuk sampai tingakat desa agar informasi kegiatan ekonomi produktif warganya senantiasa terbarukan.
Kedua, pengembangan potensi ekonomi berbasis kreativitas yang dikenal dengan nama ekonomi atau industri kreatif. Ada 15 subsektor yang tercakup di dalamnya yaitu kerajinan, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, permainan kreatif, TIK, busana, fotografi-video-film, radio dan televisi, pasar barang seni, percetakan dan penerbitan, riset dan pengembangan serta kuliner.  Volume, sebaran dan kontribusi kegiatan ekonomi kreatif ini cenderung kian meningkat. Apalagi dengan hadirnya pusat-pusat (kota) kreatif dan Sentra Kreatif Rakyat yang memadukan aktivitas pariwisata dan pengembangan aktivitas ekonomi berbasis budaya lokal.
Kawasan Perdagangan Bebas Asean (AFTA) 2015 sudah ada di depan pintu rumah kita, Indonesia. Banyak pihak telah bersiap diri menyambutnya. Pemerintah menyatakan optimis kita akan mampu melalui perjalanan awalnya karena berbagai persiapan telah dilakukan. Sementara itu, dunia usaha melalui Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, justru bersikap sebaliknya. Terlepas dari kontroversi tadi, sebagai warga masyarakat umum, kita boleh bersikap apapun. Dan kondisi apapun yang akan terjadi di dalam rumah Indonesia kelak, kita harus siap dengan risikonya.
AFTA atau ada juga yang menyebut ACFTA (Asean dan China) adalah sebuah momentum yang berpeluang menggerakkan beragam potensi ekonomi kreatif masyarakat. Subsektor industri (ekonomi) kreatif itu merupakan salah satu strategi pembangunan ekonomi dan industri yang bisa diandalkan selain sektor manufaktur dan jasa. Apalagi, industri berbasis ide, teknologi, seni, dan kekayaan intelektual itu memiliki banyak sentra industri kreatif yang potensial. Misalnya, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Bali, dan lainnya.
Dirjen Pengembangan Ekonomi Nasional Kementerian Perdagangan Hesti Indah Kresnarini mengutarakan, industri kreatif akan berkembang pesat setiap tahunnya. Pertumbuhannya dominan dikontribusi fesyen dan kerajinan. Pemerintah memiliki cetak biru pengembangan industri berbasis ide yang terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, periode 2010-2015, disebut tahap penguatan ditargetkan bisa tumbuh sekitar 11%-12% setiap tahunnya. Sementara tahap kedua, periode 2016-2025, disebut tahap akselerasi diharapkan bisa tumbuh sekitar 12%-13%. [1].
Berdasarkan angka statistik, pada 2013 lalu kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian sebesar Rp 641,8 triliun atau mencapai 7% PDB nasional. Ekonomi Kreatif juga mencatat surplus perdagangan selama periode 2010 hingga 2013 dengan nilai surplus sebesar Rp 118 T. Kontribusi devisa dari sektor ekonomi kreatif mencapai 11, 89 Milyar USD, sehingga secara total sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menyumbang devisa sebesar 21,95 Milyar USD atau berkontribusi sebesar 11,04% pada total devisa Indonesia. [2].
Bagaimana dengan perkembangan OVOP di Indonesia? Sampai saat ini masih terdapat kesulitan memperoleh data aktual yang dapat diandalkan baik dari Kementerian Koperasi dan UMKM maupun Badan Pusat Statistik. Sehingga tidak ada data pembanding yang dapat dipakai untuk membuat prediksi maupun analisis, minimal dengan pendekatan SWOT (strenght, weakness, opportunity and threath). Kalaupun ada data yang dapat digunakan, biasanya berasal dari data sekunder atau tersier yang akurasinya tidak memadai.
Meski demikian, ada keyakinan bahwa OVOP adalah satu pendekatan ekonomi yang memiliki banyak kelebihan. Terutama berkaitan dengan potensi mengangkat dan mengembangkan produk-produk lokal berbasis budaya yang mampu bersaing di pasar global. OVOP seperti halnya ekonomi kreatif, saat ini ditangani oleh sedikitnya 3 (tiga) kementerian yaitu Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Patiwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Perindustrian dalam kordinasi kewenangan Kemenkop dan UMKM.

Jumat, 21 Maret 2014

Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian III

Siluet tampilan Teater Ego Kebumen.


Episode 1 : Gelar Kreatif  Kebumen
Segmen  1 : Gelar Panggung Tetaer II 2010
Bagian   2 : Pertunjukan Hari Kedua

Pentas hari ke dua yang diharapkan sebagai malam puncaknya Gelar Panggung Teater 2010 dibuka dengan penampilan kolosal dan garapan yang cukup rapi dari Teater Spenven. Berikutnya adalah tampilnya tiga dara Tetrasa tanpa menyebut lakon tertentu. Cukup hidup untuk skala pemula. Penampilan ke tiga adalah dari Teater Didik STAIN Purwokerto dalam alur cerita yang mengalir. Diawali perubahan setting lampu, salah satu pemain membawakan sinopsis. Nampaknya, mereka sangat apresiatif atas acara GPT 2010. Dengan membawa pemain dan crew panggung sekitar 40 orang, apresiasi penonton sangat baik. Saya tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk mengikuti seluruh jalannya pentas teater ini karena harus menggantikan posisi tugas kepanitiaan yang sebagian besar anggotanya akan mementaskan lakon Kalijaga karya Kang Kaji Habeb setelah pentas Teater Didik. Ketidak-fokusan itu membuat saya sangat banyak kehilangan referensi untuk melengkapi catatan ini. Meski demikian, dilihat dari apresiasi penonton dan komentar teman-teman yang sempat saya hubungi, tampilan para mahasiswa/i STAIN Purwokerto ini pantas diberi acungan jempol.

Di tengah rasa lelah sebagai anggota panitia, Teater Ego Kebumen menutup pentas GPT 2010 dengan lakon Kalijaga. Putut AS yang berperan sebagai Kalijaga mengawali dengan tarian yang dibawakan secara lentur. Melambangkan kehalusan perilaku sang wali ke 9 dari deretan Walisanga di antara arogansi Abdul Jalil yang diperankan Ucok HaeR. Dialog antara Kalijaga dan Abdul Jalil ini sungguh hidup. Blocking panggung nampak sempurna dan sangat menghidupkan suasana. Vocal Ucok yang nge-bass mendukung intonasi nada-nada lembut yang keluar dari mulut Putut AS. Tak kalah menariknya adalah penampilan aktor dan sekaligus Sutradara Anto Batossae. Dengan penguasaan dialog dan kelincahan gerakan pemeran Gatoloco ini seolah menutup celah seluruh sisi panggung atas maupun bawah yang berbatasan langsung dengan penonton dalam format lesehan. Sementara itu, Raja Brawijaya yang diperankan Theodeka memberi kesan hidup dalam panggung seluas atas 60m2 (6 x 10m). Tata lampu yang berkekuatan 1500 watt sedikit menghambat optimalisasi penampilan mereka. Diakhiri dengan siluet, Teater Ego Kebumen memang pantas mendatangkan decak kagum penonton yang datang dari beragam kalangan. Sekitar 250 penonton seolah tersihir oleh penampilan “anak-anak zaman Kebumen”. Sebutan yang diberikan oleh Anto Batossae kepada teman-teman komunitasnya.

Slamet Esser.


Catatan Khusus

Sebagai wahana ekspresi dan apresiasi budaya kontemporer, GPT 2010 telah memenuhi sasaran utamanya. Sedikit dihantui rasa cemas akan masuknya nuansa politik menjelang Pilkadal Bupati/ Wakil, seluruh mata acara yang direncanakan dapat mengalir cukup lancar. Memang ada sampah yang mengikuti aliran itu, tetapi dapat disingkirkan dengan semangat kebersamaan dan edukatif. Kendala klasikal dana disiasati dengan dedikasi oleh Panitia dengan memaksimalkan potensi yang ada saat itu. Sanggar Ilir Ikatan Mahasiswa Kebumen di Yogyakarta (Imakta) pantas mendapat apresiasi terbesar selain respon positif dari semua Komunitas Teater di Kebumen yang telah berkontribusi dalam persiapan dan pelaksanaan acara. Juga para donatur perorangan yang mendukung acara ini.


Pada sesi evaluasi, saya sengaja mengemukakan wacana untuk menghentikan seri kegiatan GPT agar berganti wajah dan penampilan. Juga memberi kesempatan bagi Komunitas lain untuk menggelar acara yang lebih dalam segala hal dari pada acara GPT yang hanya mampu diselenggarakan setahun sekali. Sayang sekali, sebagaimana telah diprediksi, tidak ada jawaban pasti atas wacana itu. Bahkan muncul beberapa hal yang menggelikan ketika tawaran ini disambut dengan bahasa nostalgis. Apapun respon dan risikonya, wacana ini akan terus dikumandangkan sampai ada jawaban pasti bahwa proses pembelajaran lewat kemasan acara Gelar Panggung Teater sudah saatnya diputuskan efektivitasnya.

Minggu, 09 Februari 2014

Solidaritas Yang Mengubah Jalan Hidup - Bagian I

Iwan Fotokopi di Jalan Pramuka 21 Kebumen

Satu sisi kemanusiaan kita adalah kecenderungan berkumpul dalam sebuah komunitas kecil, sedang maupun besar. Pakar manajemen, David Mc. Clelland, membagi kecenderungan atau dorongan perilaku manusia (need of ) menjadi tiga. Yakni berkumpul, berkuasa dan berprestasi. Seseorang yang suka berkumpul akan menunjukkan kecenderungan kurang (mampu) berkuasa atau berprestasi. Demikian halnya dengan orang yang suka berkuasa akan punya kecenderungan kurang mampu berkumpul atau berprestasi. Sebaliknya, orang yang punya kecenderungan kuat untuk berprestasi akan mengalami kesulitan dalam berkumpul atau memupuk kekuasaan. Wirausaha atau wiraswasta termasuk dalam kelompok terakhir sebagai orang yang punya kecenderungan kuat berprestasi.

Teori motivasi berprestasi Mc. Clelland banyak diadopsi oleh warga masyarakat dunia pada dasawarsa 1980-an. Bahkan, Kementerian Perindustrian RI pernah menjadikannya sebagai satu program percepatan sebaran bibit-bibit kewirausahaan melalui Program Pengembangan Motivasi Berusaha (Achievement Motivation Training - AMT). Sektor kerajinan dan industri rumah tangga adalah sasaran utamanya. Sebagai orang yang pernah merasakan pelatihan itu, saya belum mendapatkan "roh" yang dapat memacu semangat dan daya hidup ke jalan menuju puncak prestasi. Dengan kata lain, dampak dari pelatihan itu kurang mengena. Apalagi mendarah daging.

Seiring perjalanan waktu, teori motivasi David Mc. Clelland mulai ditinggalkan dan berganti dengan pendekatan yang menggali sisi yang paling peka dalam diri manusia yaitu kalbu atau nurani. Muncul teknik manajemen qolbu ala Aa Gym (Abdullah Gymnastiar), metode ESQ-nya Ary Ginanjar Agustian yang (pernah) menjadi trend setting di kalangan manajemen BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan banyak teknik lain oleh praktisi motivasi semisal Mario Teguh, Rheinal Khasali dengan Rumah Perubahan dan sebagainya. Kini muncul trend baru yang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas yakni kewirausahaan sosial (social-preneurship). Intinya, kewirausahaan sosial adalah kegiatan wirausaha yang mengedepankan aspek sosial. Jika Mc. Clelland beranggapan bahwa individu adalah pijakan utama berprestasi. Dalam kewirausahaan sosial, komunitas adalah kekuatan pertama dan utama. Seorang wirausaha sosial, dengan segenap kesadaran akan merasakan kebahagiaan yang sulit diukur dengan takaran apapun ketika ia mampu "berbagi" dengan banyak orang lain.  Singkat kata, kewirausahaan sosial adalah bentuk atau pola kegiatan ekonomi yang dicita-citakan oleh Bung Hatta dalam Siasat Ekonomi yang sangat terkenal itu dan sesuai dengan sifat dasar manusia Indonesia yang sejatinya suka bergotong-royong.

Dalam tulisan berjudul mengintip ruang kosong di rumah Bupati Kebumen pada dasarnya ingin memberi tahu kepada masyarakat Beriman ini bahwa visi pembangunan ekonomi Kabupaten Kebumen bertumpu pada pola pengembangan ekonomi kreatif.  Secara teoritis, kegiatan ekonomi kreatif memang bertumpu pada kekuatan individu pelaku yang bergerak di satu atau beberapa sub sektor. Pada sub sektor percetakan dan penerbitan, secara kebetulan saya menemukan sebuah fenomena unik. Yaitu hadirnya sebuah usaha jasa fotokopi yang dilakukan oleh Wawan Nur Sugiantoro atau yang lebih akrab disebut Iwan Nsca. Sulung dari 8 bersaudara asal Desa Seliling, Kecamatan Alian ini orangnya grapyak. Mudah bersahabat dengan siapapun dari segala usia dan lapis sosial. Dari siswa/i SD, guru, pegawai sampai "orang jalanan". Dengan tipologi pribadi yang familiar tadi, mungkin tak ada yang pernah menyangka ia akan jatuh mental ke titik terendah.

Potensi diri Iwan
Layanan prima sang wirausahawan sosial

Jenuh dengan suasana yang dijalani dalam pekerjaan sebelumnya membuat pria 27 tahun, berputra satu yang diberi nama Naufal Putra Syah Irawan (18 bulan) dari pernikahannya dengan Ida Rohyani , memutuskan untuk "beristirahat".  Ada resah dan gelisah yang begitu kuat menggelantung angannya di masa depan. Dalam benak yang berkecamuk antara keinginan berusaha mandiri, menjalani kehidupan sosial selaku kepala rumah tangga dan cermin bagi ke 7 saudara sekandung, ia merasakan kegelisahan itu semakin dalam di hari-hari awal sebagai "pengangguran". Seorang sahabat karibnya, Ari Kuwatno, menangkap kegelisahan ini dan terus memberi motivasi agar segera bangun - bangkit dan lari.  Suara-suara sang sohib akhirnya mampu ditangkap oleh sensor-sensor sel syaraf di otak kanan Iwan. Begitu bangun, Iwan langsung bersujud syukur kepada Sang Maha Pencipta. Bahwa dirinya masih diberi kesempatan menikmati hangatnya sinar mentari pagi bersama para sohib yang selama ini dipandang sebelah mata oleh banyak orang pongah yang duduk di pemerintahan dan DPRD. Mereka yang menyebut diri komunitas  Solidaritas Berbagi Rejeki (KSBR) adalah sebuah komunitas dari beragam profesi yang sekarang dikatuai Yani nDeng, seorang tukang kunci yang mangkal di depan Apotik Pemuda. Dan siapa sangka bahwa komunitas "orang jalanan" ini telah banyak berbagai kebahagiaan kepada para fakir miskin, anak-anak yatim piatu dan terakhir mengulurkan bantuan bagi korban tanah longsor di Desa Kaligending beberapa waktu lalu ?

Foto sampul  Fb.Iwan Nsca 
KSBR berbagi kebahagiaan dengan tukang becak
KSBR berbagi kebahagiaan dengan anak yatim piatu di PA Aisyiyah Hj Alfiatun Kebumen 1
  
KSBR berbagi kebahagiaan dengan anak yatim piatu di PA Aisyiyah Hj Alfiatun Kebumen 2

Anggota KSBR berbagi kebahagiaan dengan anak yatim piatu di PA Aisyiyah Hj Alfiatun Kebumen 3

KSBR berbagi kebahagiaan dengan anak yatim piatu di PA Aisyiyah Hj Alfiatun Kebumen 1


Kiprah  KSBR mengingatkan saya dengan Sky Doors,  sekelompok relawan kemanusiaan dari lingkungan Pasar Kretek Wonosobo  yang sebagian besar anggotanya beraktivitas di sekitar pasar kecamatan itu. Ketika bekerjasama dalam kegiatan kemanusiaan di Tempat Pengungsian Aman (TPA) Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah tahun 2004 bagi penduduk lereng Gunung Merapi dan dilanjutkan dalam fase Operasi Tanggap Darurat Gempa DIY - Jateng 2006 di sekitar Markas PMI Kabupaten Bantul, mereka secara berseloroh sering mengungkapkan jargon kelompoknya "muka gali tapi berhati nabi". Memang, dilihat dari fisik dan penampilan mereka, orang awam akan menilai Sky Doors sebagai gali (gabungan anak liar, istilah popular sekarang adalah kumpulan preman). Tapi soal ketrampilan menolong korban bencana alam dan kecepatan gerak mereka tak diragukan sedikitpun. Seolah tak ada kata lelah dan menyerah.

Iwan dan KSBR seperti dua sisi mata uang. Paling tidak untuk saat ini. Di situ ada Iwan, di sana KSBR berada. Mencari keberadaan pos KSBR cukup mendatangi lapak Fotokopi Iwan di Jalan Pramuka 21. Berdampingan dengan kantor perusahaan plastik Naga Semut. Bermodal semangat terbangkitkan dari anggota KSBR, dorongan keluarga dan tekad diri menjadi "juragan buat diri sendiri" mengantar Iwan menapaki kehidupan baru di dunia usaha mandiri. Ketrampilan pribadinya mengelola jasa fotokopi, penjilidan, laminating dan aneka usaha jasa yang bermodal dasar sekitar Rp 22 juta, rona Iwan berbinar saat ditanya rencana ke depan. 
  
Sepekan lebih ia menjalani kegiatan yang suatu saat akan diarahkan menuju usaha percetakan dan penerbitan sebagai sub sektor ekonomi kreatif yang menjanjikan harapan cerah di masa depan. Jika hari-hari terakhir ini tiras fotokopinya baru mencapai kisaran angka 500 lembar/hari dengan satu unit mesin Canon IR5000 yang memang sudah berteknologi digital dan bertajuk image runner. Sangat boleh jadi, jumlah itu akan terus bertambah seiring dengan semakin luasnya jaringan kewirausahaan sosial yang dibangun bersama KSBR-nya. Apalagi jika ia mampu memaksimalkan potensi diri dan komunitasnya. Mengutip-lekatkan (copy paste) julukan buat Sky Doors, jangan pernah ada kata lelah dan menyerah untuk menjadi diri sendiri dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekeliling kita. Di sanalah kekuatan wirausahawan sosial sejati. Dan sinyal jernih itulah yang akan ditangkap oleh sensor-sensor sosial masyarakat Kebumen di pekan, bulan dan tahun-tahun mendatang.