Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label Sentra Kreatif Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sentra Kreatif Rakyat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Februari 2014

Sentra Kreatif Rakyat : Ekonomi Kreatif vs OVOP?

Batik Tanuraksan di Kabupaten Kebumen: minim pengembangan dan kepedulian pemerintah lokal.

Tidak mudah memahami pola kebijakan pembangunan ekonomi pemerintah saat ini karena terlalu banyaknya kepentingan politik sektarian yang ada di dalamnya. Menurut mantan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di sini, masalah industrialisasi di tanah Air tidak berubah sejak 40 tahun lalu yaitu ketidakmampuan melahirkan industri bahan baku yang tangguh. Akibatnya, Indonesia selalu menghadapi masalah defisit transaksi berjalan akibat melonjaknya impor bahan baku dan bahan antara. Tekanan terhadap akun lancar akan semakin berat mengingat pertumbuhan industri manufaktur hampir selalu lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, peranan industri manufaktur dalam produk domestik bruto melorot secara konsisten, dari titik tertingginya 29 persen pada 2001 menjadi hanya 23,7 persen tahun 2013 di sini.. 

Sentra Kreatif Rakyat adalah sebuah program implementatif dalam pola pembangunan ekonomi kreatif pada sub sektor kerajinan, khususnya batik, yang dikelola oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dari beberapa tulisan yang dapat saya kumpulan di sini,  di portal berita ekonomi ini,  dan di portal Indonesia Kreatif serta hasil diskusi singkat dengan penanggung-jawab program pada tulisan ini , saya berpikir keras untuk menolak prediksi orang kampung yang sok tahu. Tumpang tindih kebijakan atau kegamangan atas target waktu yang akan mengikuti masa akhir pemerintahan saat ini ?

Memang disebutkan bahwa tujuan program Sentra Kreatif Rakyat (SKR) adalah pelaku ekonomi kreatif yang dengan cukup mudah dapat ditafsirkan sebagai individunya sesuai karakter dasar ekonomi kreatif. Tetapi batasan ini jadi mengambang ketika menjadikan kearifan lokal sebagai dasar pijakannya. Sementara itu, kita juga harus menyadari bahwa kearifan lokal adalah produk budaya yang dapat berwujud artefak semacam batik. Per definisi, Sentra Kreatif Rakyat adalah implementasi OVOP (One Village One Product). 

Masih dengan pengandaian orang kampung yang sok tahu, menilik beragam kriteria yang harus dipenuhi oleh Kordinator Wilayah SKR selaku penanggung-jawab program. Sistem yang akan dibangun menjadi semakin kabur jika hanya berdasarkan pemikiran bahwa di setiap wilayah pengembangannya telah ada atau akan diadakan kegiatan ekonomi kreatif berdasar asumsi tentang sebaran wilayah artefak budaya tadi sebagai upaya memperkuat pengakuan dunia bahwa batik tulis Indonesia adalah warisan dunia (world heritage). Bagaimanapun kuatnya idealisme yang melatarbelakangi munculnya program SKR. banyak tantangan yang harus mampu dijawab dengan benar baik. Diantaranya adalah:
  1. Apakah Ekonomi Kreatif merupakan pilihan utama strategi pembangunan ekonomi nasional yang tercantum dalam MP3EI (Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia) 2025? 
  2. Apakah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tetap dipertahankan pada pemerintahan hasil pemilu 2014 ?
  3. Apakah SKR tetap berlangsung dengan rerangka berpikir yang ada saat ini ?
  4. Atau, akankah program SKR  lebih menarik perhatian pemerintah dan para politisi di DPR ketimbang program lain semisal OVOP?
  5. Jika program SKR tetap dipertahankan, bagaimana konsekuensinya bagi pemerintah daerah yang lebih memilih program alternatif ?
  6. Dan lain-lain pertanyaan yang bermuara pada satu kegelisahan publik. Bagaimana situasi politik pasca pemilu 2014 ?
Dalam banyak hal, secara pribadi saya dapat memahami rerangka berpikir Program Sentra Kreatif Rakyat yang ada saat ini. Namun, sejarah politik kita yang masih bernuansa Ken Arok-isme sedikit banyak menumbuhkan sejumlah pertanyaan besar di atas. Kecuali ini dirancang dalam pola gerakan nasional yang mandiri dan berkelanjutan. Karena itu, implementasi Program SKR memang harus ditulang-punggungi oleh para militan yang berpikir cerdas dan nasionalis. Tanpa hal itu, jargon "ganti menteri, ganti kebijakan" akan menjadi sangat nyata.         

Rabu, 12 Februari 2014

Kunjungan singkat di Basecamp Indonesia Kreatif

Ilustrasi: dialog budaya pada Gelar Panggung Teater Kebumen 2009.

Sejak awal saya sudah memperkirakan bahwa pertemuan singkat sekitar satu jam yang semula bersifat formal akan berubah jadi diskusi dengan sejumlah "masalah besar". Bertemu dan berbicara dengan orang-orang muda hebat di basecamp Indonesia Kreatif jauh lebih menarik perhatian ketimbang "panas"-nya Jakarta.  

Seperti biasa, sebelum memutuskan berangkat ke tempat yang belum dikenal, saya akan berusaha sekuat tenaga agar ada informasi awal sekaligus menguji teman-teman yang dimintai bantuan tentang aplikasi prosedur TMS (tracing and mailing service), sebuah teknik mencari dan menemukan anggota keluarga yang hilang dalam peristiwa bencana alam atau konflik bersenjata. Prosedur standar yang kini disebut RFL (refugee family linkage) . Entah apa penyebabnya, cara ini gagal dilaksanakan. Akhirnya saya putuskan untuk melakukan sendiri dan alhamdulillah berhasil. Termasuk menjejak informasi dari sebuah warung kopi tak jauh dari lokasi pencarian.

Basecamp Indonesia Kreatif menempati sebuah bangunan mini berlantai tiga di sekitar Kalibata Jakarta Selatan. Begitu masuk ruang berukuran sekitar 30m2, saya merasakan suasana yang sangat berbeda. Tata letak ruang di lantai pertama yang berfungsi ganda sebagai ruang tamu, ada satu meja resepsionis tergolong mini dan sederhana. Dua perempuan muda yang menerima kedatangan saya cukup ramah dan cekatan. Yang menarik dari layout kantor manajemen Indonesia Kreatif adalah latar belakang meja resepsionis yang berfungsi ganda sebagai rak perpustakaan mini, interior ruang dan penyekat ruang. Tanpa kesulitan, tamu dapat melihat seorang pria tengah asyik bekerja dari sela-sela buku di rak perpustakaan mini ini.  

Sementara itu, di sebelah kanan ada dua ruang yang juga disekat sederhana tanpa kesan sebagai kantor yang banyak berhubungan dengan birokrasi pemerintah. Persis di depan meja tamu yang juga sederhana, empat orang muda tengah memelototi laptop masing-masing. Dua diantaranya sambil menyantap makan siang mereka, dengan rona tengah berpikir serius. Seolah tak terganggu dengan suara diskusi yang cukup keras dari ruang sebelahnya. 

Setelah disilakan naik ke lantai kedua, sekilas nampak ada suasana lain. Ada satu ruang terbuka yang diisi meja panjang berisi tak kurang dari 8 orang. Semua tengah menatap layar monitor yang disusun mirip ruang pengolahan data di sebuat perusahaan pialang saham. Tentu tanpa layar monitor besar yang biasa dipakai untuk menampilkan pergerakan transaksi. Suasananya familiar dan cukup serius. 

Dari ruang yang ditunjuk resepsionis sebagai tempat tujuan kunjungan utama, saya melihat dua orang tengah berbincang. Satu berperawakan tinggi besar mengenakan baju lengan panjang bergaris dan memakai celana jins biru muda. Satu lagi adalah orang yang kemudian saya tahu sebagai penanggung jawab beragam pekerjaan kreatif yang dilakukan di Indonesia Kreatif. Namanya Agung Pasca Suseno (tahu dari email konfirmasi). Masih muda, sekitar 30-an tahun, cerdas dan berwawasan luas. 




Sekitar sejam kami berbincang banyak hal. Mulai dari lokus Sentra Kreatif Rakyat sampai perubahan lembaga internasional yang menangani masalah ekonomi kreatif. Dari urusan batik sampai keinginannya melibatkan "para militan". Saya sebut perbincangan karena suasana yang terasa memang begitu. Intinya, Indonesia Kreatif adalah sebuah program berbasis kebudayaan (terutama mengangkat kearifan lokal) yang saat ini masih dikelola oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekref) RI yang prospektif dan banyak mengandung nilai idealisme kebangsaan di balik potensi besar ekonominya.

Dari suasana yang dihadirkan dan pengamatan sempit/ sekilas, saya sangat terkesan dengan mereka yang ada tengah bekerja di bidang pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Menyitir istilah akuntansi: "isi mengungguli bentuk", itulah sketsa yang nampak di depan mata kasat dan hati. Semoga suasana semacam ini tetap terpelihara dalam mengupayakan kemajuan bangsa Indonesia lewat beragam kegiatan ekonomi kreatif. Siapapun pemegang otoritas.