Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label rekomendasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rekomendasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2014

Mengisi Ruang Kosong di Rumah Bupati Kebumen – Bagian I

Ilustrasi: saat pengambilan gambar film indi Pelukan Sang Pelangi di akun-alun Kebumen.

Dalam tulisan mengintip ruang kosong di rumah Bupati Kebumen, dari 15 sub sektor ekonomi kreatif baru ada dua yang hadir di sana. Sub sektor TV & Radio yang diwakili Ratih TV dan In FM yang kondisinya disebut merana dan merintih oleh PakBos-nya. Dan kerajinan yang diwakili oleh kegiatan produksi kerajinan bambu dan bedug. Sementara itu, ke 13 sub sektor lain belum ada isinya alias kosong. Ke 13 sub sektor itu adalah musik- seni pertunjukan- desain- arsitektur- pasar barang seni- permainan kreatif- IT- busana- riset dan pengembangan- fotografi,  video dan film- kuliner- periklanan serta percetakan dan penerbitan. Dan dari dua sub sektor yang telah terisi tadi, dunia kerajinan masih terbuka lebar dengan beragam potensi.

Pada bagian ini, ada satu hal yang mungkin dianggap biasa karena telah menjadi rutin. Yaitu car free day yang telah menjadi agenda tetap pemerintah maupun masyarakat di setiap hari Minggu jika alun-alun kota tak dipakai untuk kepentingan lain. Acara rutin yang diagendakan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen melalui kordinasi Kasi Olahraga Disdikpora sementara waktu ini tentu lebih banyak diisi dengan hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan olahraga seperti senam, jogging dan sebagainya. Meski demikian, seperti biasa, di setiap pusat keramaian, selalu muncul pedagang aneka kuliner dan kaki lima lainnya. Sejauh yang diketahui, potensi ekonominya kurang dioptimalkan secara terencana sebagai upaya pengembangan/ pembangungan sistem perekonomian lokal.

Di beberapa kota lain, banyak aktivitas kreatif diikutsertakan dalam mengelola agenda rutin hari bebas kendaraan bermotor ini. Di Jakarta yang selama ini (seolah) menjadi cermin Kebumen, minggu lalu diselenggarakan pesta busana jalanan yang diberi judul Sunday Dress Up (SDU) dengan catwalk terpanjang di dunia dari Bundaran HI sampai Monas pada 16 Pebruari 2014. Di sepanjang jalan yang dilalui, para peraga busana jalanan ini menampilkan aneka busana dan asesori dengan cara dan gaya masing-masing. Yang menarik adalah dominasi kain batik aneka rupa muncul di sana. Acara ini memang disiapkan sebagai pembuka bagi sebuah hajatan besar Pekan Busana Indonesia (Indonesia Fashion Week/ IFW) 2014 yang akan diselenggarkan 20 – 23 Pebruari 2014 di Jakarta Convention Center.

Sunday Dress Up - road to IFW 2014-1
Sunday Dress Up - road to IFW 2014- 2


Melakukan copas (copy-paste) secara keseluruhan untuk event sebesar itu tentu akan sulit dilakukan. Tetapi ada hal yang  bisa diwujudkan dalam skala lokal untuk memberi nilai lebih dalam mengisi aktivitas car free day yang dapat merangsang perkembangan beragam aktivitas ekonomi kreatif di Kabupaten Kebumen dengan pelibatan sejumlah komunitas yang telah ada. Misalnya yang  dilakukan oleh komunitas seni pertunjukan teater yang bisa dikombinasikan dengan pentas musik dan peragaan busana serta bazar produk-produk kerajinan. Untuk sementara waktu, kolaborasi beberapa sub sektor ekonomi kreatif itu dilakukan sebulan sekali atau dua kali. Dan yang terpenting adalah menanggalkan pola pikir lama yang formalistik dan senantiasa mengaitkan dengan kapasitas anggaran pemerintah yang memang selalu dibatasi. Serta menumbuhkan suasana yang  terbarukan yang merangsang tumbuh dan berkembangnya beragam aktivitas kreatif warga masyarakat.

Pilihan lokasi catwalk - 1 membujur Barat-Timur di sisi Utara
Pilihan lokasi catwalk - 1 membujur Barat-Timur di sisi Selatan


Jika acara khusus seperti di atas telah menjadi agenda tetap, perlahan dan pasti, dampak ekonominya akan mengikuti. Pada awal waktu, mungkin saja kuantitas dan kualitas kegiatan tak sesuai harapan untuk menjadikannya sebagai pemicu aktivitas pengembangan skala perekonomian daerah. Tetapi, seiring perjalanan waktu, agenda yang sebaiknya diprogram ini akan meningkatkan daya tarik masyarakat dan pihak-pihak tertentu yang selama ini belum nampak sebagai sumber kekuatan baru dalam pola pembangunan ekonomi kewilayahan berbasis kreativitas. Karena, pada hakikatnya, setiap orang punya potensi kreatif dan banyak diantaranya tidak menyadari sebagai potensi ekonomi. Pendekatan ekonomi kreatif membuka peluang munculnya para pelaku wirausaha baru dibanding pendekatan konvensional.

Pengisian agenda khusus pada acara rutin car free day tak harus mengeluarkan dana tambahan jika pemerintah mau menggandeng pihak swasta lokal maupun nasional untuk memfasilitasi beragam aktivitas kreatif tadi.

Di sisi lain, banyak potensi ekonomi yang akan terdorong maju semisal Batik Tanuraksan dan sejumlah perajin konveksi di desa Karangsari yang berada di sekitar kota untuk urusan peragaan dan transaksi busana. Yang diperlukan adalah komitmen dan kerjasama lintas sektor. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan diwajibkan menyediakan tema utama agar selaras dengan program yang tengah dikembangkan pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui program Sentra Kreatif Rakyat-nya. Sementara itu, Dinas Koperasi dan UMKM juga diwajibkan untuk segera mewujudkan hasil lomba Riset Unggulan Daerah 2013. Yaitu OVOP bagi kerajinan anyaman pandan. (bersambung).  

Jumat, 19 April 2013

Menggagas Forum Diskusi Kreatif di Lapak g+


Logo sementara ICEF

Dalam beberapa tulisan, saya telah mencoba menawarkan tema ekonomi kreatif sebagai pilihan mengembangkan ekonomi kewilayahan berbasis kegiatan dan sumber daya manusia kreatif baik secara terpisah maupun dengan OVOP. Tulisan pertama: Antara Ekonomi Kreatif dan OVOP Bagian I memaparkan gambaran umum tentang peluang dan tantangan di Indonesia. Sementara pada Bagian II menggambarkan satu upaya realisasi dalam bentuk sebuah festival multi event. Menyadari bahwa gagasan menerapkan konsep ekonomi kreatif dalam kehidupan masyarakat kita saat ini akan mengalami banyak kendala formal, struktural maupun kultural, saya coba membuat sebuah komunitas di Goggle+ dengan nama Indonesia Creative Economy Forum (ICEF) beberapa hari terakhir.

Alasan utama memilih di lapak mesin penelusuran (search engine) terpopular  di dunia maya saat ini sebenarnya adalah untuk menggiring opini para blogger yang biasanya menyimpan energi lebih soal argumentasi dan daya kreatif. Meski begitu, saya juga memahami faktor kultural  masyarakat kita dapat menjadi kendala mengembangkan gagasan-gagasan kreatif dari mereka. Kedua, di lapak ini masih terbuka peluang yang sangat lebar untuk mengemukakan gagasan karena peminatnya relatif lebih sedikit dibanding jejaring sosial seperti Facebook, twitter dan laman khusus jurnalisme warga semacam kompasiana . Saya tidak ingin membahas lebih panjang tentang g+ karena kapasitas sangat terbatas.

Gagasan membuat forum ekonomi kreatif di Indonesia (ICEF) karena ada keyakinan bahwa di antara jutaan pengguna internet di Indonesia, terdapat lebih banyak orang yang peduli akan nasib dan masa depan bangsanya ketimbang yang acuh atau apatis. Soal orientasi pemikiran dan gaya bahasa yang dipilih  adalah adalah aset raksasa yang acapkali  terbalut pola tertentu. Sehingga bentuk mengungguli isi. Dalam forum ini, pola itu diharapkan dapat berbalik arah menjadi isi mengungguli bentuk.  

Sekadar mengingatkan kembali, ekonomi kreatif adalah serangkaian kegiatan  produksi dan distribusi barang maupun jasa yang dikembangkan melalui penguasaan informasi, pengetahuan dan kreatifitas. Ekonomi kreatif sangat mengandalkan diri pada proses penciptaan dan transaksi nilai. Artinya, aspek sumber daya manusia (bakat/ talenta), teknologi, keberagaman budaya dan pasar yang kritis (critical mass) adalah ekosistem yang sangat dibutuhkan. Bangsa Indonesia memiliki semua syarat dan ketentuan itu, kecuali ekosistem yang harus dibangun secara perlahan dan kokoh. Dimulai dari pusat-pusat pengembangan kreatifitas: Bandung, Jogja dan Bali yang telah menghadirkan ekosistem ekonomi kreatif dan dapat dijadikan jalur utama pengembangan di kota-kota yang dilalui atau sekitarnya.   

Ada 15 (14 telah diformalkan oleh Pemerintah RI) subsektor ekonomi kreatif: 

  1. Kerajinan, 
  2. Seni pertunjukan, 
  3. Busana (fesyen), 
  4. Musik, 
  5. Desain, 
  6. Arsitektur, 
  7. Pasar barang seni, 
  8. Layanan komputer dan piranti lunak, 
  9. Video-film dan fotografi, 
  10. Periklanan, 
  11. Televisi dan Radio, 
  12. Permainan Kreatif, 
  13. Penerbitan dan Percetakan, 
  14. Riset dan Pengembangan serta 
  15. Kuliner. 

Dari semua subsektor itu, riset dan pengembangan adalah sub sektor integratif. Bisa dilakukan bersama oleh sejumlah subsektor lain atau beberapa kota/wilayah sekaligus. Kendala utama penyelenggaraan sub sektor riset dan pengembangan lebih disebabkan kendala kultural ketimbang material (tenaga, saran dan prasarana). Bagi orang atau masyarakat kreatif berlaku “tiada rotan, akarpun jadi”.

ICEF bisa jadi ruang obrolan sersan (serius tapi santai) mayor (utama, sesuai tema besar tertentu). Dalam ketentaraan, sersan mayor adalah pangkat tertinggi sebelum perwira. Dengan analogi ini, ICEF memang bukan forum pakar yang bisa berpolemik dengan analisis rinci dan pendekatan terdepan. Forum ini adalah jembatan menuju satu titik yang sejenis dengan forum pakar yang belum terpikirkan jenis, nama dan lapaknya. Karena gagasan dasarnya memang terinspirasi dari komunitas BIL (Beginner and Intermediate Lounge) di situs BBO (Bridge Base Online). Dengan kata lain, ICEF adalah komunitas diskusi ekonomi kreatif Indonesia untuk orang-orang yang “merasa” di tingkat pemula dan menengah. Bukan Advaced (lanjutan), expert (ahli) dan apalagi world class (kelas dunia). Atau dapat menjadi media berlatih bagi pendatang baru (novice) yang belum mengenal sama sekali sub-sub sector dalam ekonomi kreatif.

Seperti pada BIL di BBO, ICEF di g+ menghadirkan segmen bimbingan teknis  oleh para kakak kelas di tingkat lanjut dan pakar. Saat ini, sudah ada 2 moderator yang kami tugasi menjadi pembimbing teknis pada sub sektor layanan komputer dan desain. Idealnya, setiap sub sektor diisi oleh 3 moderator. Tugas utama moderator adalah mengawal proses perjalanan diskusi sampai tersusun rekomendasi yang mudah-mudahan bisa dibawa kepada pemangku kepentingan (stakeholder), khususnya para pengambil keputusan formal (Pemerintah dan Dewan) di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Khusus untuk sub sektor kerajinan, rekomendasi yang dihasilkan dari forum diskusi tsb akan diteruskan ke Kemenegkop dan UKM atau Kemenegparkref melalui jalur Himpunan Perajin Anyaman Indonesia (Hipando).

Karena itu, selaku pengelola utama (tertulis di g+ sebagai “pemilik”), saya mengajak seluruh warga bangsa Indonesia agar dapat memanfaatkan forum ini untuk 2 hal penting. Pertama, menggali dan mengembangkan potensi kreatif individu Bangsa Indonesia dalam mewujudkan hak warga negara di bidang ekonomi. Kedua, memanfaatkan momentum “trending era” ekonomi dunia akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi berdasarkan kriteri umum. Kreativitas adalah anugerah tertinggi kepada manusia dari Tuhan Maha Pencipta. Sayang kalau diabaikan, apalagi dimatikan. Selamat bergabung dan kita wujudkan era ekonomi baru di Indonesia tercinta. Semoga.