Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian I

Dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen terdapat Ruang Diseminasi yang selama ini dibiarkan kosong. Ruang-ruang itu adalah 15 Sub Sektor dalam Ekonomi Kreatif,

KONSISTENSI KI ESSER KARTON

Slamet Riyanto yang biasa dipanggil Esser adalah satu seniman multi talenta yang konsisten memelihara sikap berkesenian melalui beragam karya kreatif. Satu diantaranya adalah wayang yang semua tokohnya dibuat dari kardus bekas kemasan dan limbah lainnya.

MENGINTIP RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI BAG..

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di sini.

MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI KEBUMEN - BAGIAN III

OVOP Kerajinan Pandan adalah satu sub tema yang jadi Pemenang dalam lomba karya tulis ilmiah Riset Unggulan Daerah (RUD) tahun 2013. Sampai saat ini implementasi hasilnya belum jelas. Akankah nasibnya seperti Hipando yang terbengkelai ?

Tampilkan postingan dengan label indah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Mei 2013

Yang Cantik Dari Indah (Sambungan)


Bagaimanapun, keputusan telah diambil dengan segala risikonya. Dan kedua orangtua Wiwid ternyata mendukung keputusan itu. Dengan sisa tabungan selama ia bekerja di pasar swalayan dan keuntungan yang disisihkan untuk modal mengembangan bisnis produk kemasan di Kebumen, ia terpaksa pulang-pergi Kebumen-Purwokerto dengan kereta api atau bis jarak pendek. Restu dan keterlibatan sang bunda dalam memproduksi kotak-kotak kemasan yang ia tekuni mulai mendapatkan pasar di tanah kelahiran. 

Keuletan dirinya melobi pemilik Jadi Baru Swalayan yang baru dua tahun beroperasi di Kebumen akhirnya membuahkan hasil. Ia mendapat sepetak ruang di lantai atas yang kemudian bertambah seiring dengan volume penjualan produk-produknya. Menurut penuturan Wiwid yang dikuatkan sang bunda, toko swalayan ini menerapkan sistem bagi hasil yang saling menguntungkan. Meski belum semua barang yang dititipkan laku terjual, pihak manajemen toko membayar penuh secara periodik. Kemudahan inilah yang medorong Wiwid berani mengutarakan niatnya untuk segera berumah tangga dan ikut suami hidup di Kota Kembang, Bandung.

Sepeninggal Wiwid, usahanya diteruskan sang bunda bersama suami dan adiknya yang masih siswa kelas 1 SMP. Bu Sapto mengambil alih semua, dari membeli bahan, produksi sampai pemasarannya. Ketika saya tahu hasil produksi mereka unik dan berkualitas, tanpa ragu ikut mendorong Indah untuk mengaplikasikan pelajar matematika yang didapat di  sekolah. Tak sampai sebulan, Indah (Vicky) mampu menghadirkan model baru berupa kemasan segi delapan yang selama ini baru berbentuk kotak atau persegi panjang.

Indah dan kedua orangtuanya telah membuat dan memasarkan 27 jenis (varian), Dengan tambahan satu dari segi delapan, Indah bermaksud membuat model-model baru yang lebih aplikatif. Semisal berbentuk hati atau silindrik (bulat). Kedua model ini memang masih diuji-coba produksi. Bahkan ketika saya sarankan ia membuat berbagai model produk kombinasi dengan limbah batang pisang (gedebog) kering serta pandan, ia sangat antusias. 


Mendorong semangat wirausaha untuk remaja seusia Indah memang memerlukan kiat khusus: 
  1. Harus mampu menyelami dunia remaja kekinian;
  2. Mengajak dengan cara dan gaya bahasa mereka;
  3. Memberi contoh sesuai logika yang ia miliki;
  4. Mendorong kreatifitas tanpa penekanan target volume dan nilai transaksi;
  5. Tetap mengutamakan kegiatan belajar mengajar (sekolah)

Vicky Indah adalah potensi sumber daya manusia masa depan bagi diri, lingkungan dan masyarakatnya. Peran utama orang-orang dewasa di sekitarnya adalah  menyediakan ruang dan suasana kondusif. Jika di lingkungan itu ada beberapa orang seperti Indah, jangan biarkan mereka berkembang tanpa arah dan tujuan yang jelas. Merekalah tunas-tunas muda yang akan menentukan masa depan bangsa Indonesia. Semoga      

Sabtu, 23 Maret 2013

Yang Cantik dari Indah


Bukan hanya stasiun TV saja yang punya jargon " wow keereeeeeeen". Hasil karya kreatif gadis imut ini pantas memilikinya. Secantik dirinya, beragam kotak fungsional untuk kado, pensil, perhiasan dan lain-lain, lebih tampak keren dan ngetrend ada di dalamnya. Itulah kesan yang saya tangkap saat berkunjung ke rumah Vicky Indah yang usianya belum genap 15 tahun. Didampingi kedua orang tuanya, Bapak dan Ibu Sapto yang berada di bibir Sungai Luk Ulo Pasarpari Kebumen, Vicky, sebutan akrab gadis yang belajar di Kelas 9 SMPN 2 Kebumen ini menuangkan ide-ide kreatif di waktu senggangnya.

Dalam gaya khas remaja, Vicky menceritakan kegiatan membuat produk-produk kemasan cantik untuk berbagai keperluan yang telah dijalani lebih dari setahun.  Ia memang bukan orang pertama yang mengawali kegiatan itu. Adalah Dwi Ratrianti Widiastuti yang akrab dipanggil mbak Wiwid ini yang  memulai aktivitas industri kreatif kerajinan tangan. Ia adalah kakak Vicky yang saat ini tinggal di pinggir Kota Kembang, Bandung.

Tiga tahun lalu, saat mbak Wiwid kerja di salah satu toko swalayan di Purwokerto menerima sebuah paket kiriman salah satu pemasok barang buat tempatnya bekerja. Begitu melihat satu kotak segi empat berbalut kertas kado cantik, tiba-tiba muncul ide menirunya. Ia menggali informasi dari orang-orang yang ada di sekitar tempat kerjanya. Tak puas dengan jawaban yang ia dapatkan, mbak Wiwid memberanikan diri minta satu kotak pembungkus sepatu kepada teman yang mengelola pojok sepatu di toko swalayan itu. Sampai di pondokan, ia telah bersiap melakukan duplikasi alias nyontek produk kemasan yang dilihatnya beberapa hari sebelumnya. Entah sudah berapa kali ia mencoba, begitu selesai dibuat ia selalu bilang dalam hati " akh...belum pas dengan angan-angan". 

Sampai akhirnya merasakan sesuatu yang kurang lebih membuat decak kagum teman-teman kerjanya. " Wow....keren Wid. Beli di mana kotak kado yang kamu bawa?", tanya seorang teman. Wiwid menjawab ringan " bikin sendiri !". Kaget atau kagum..itulah yang muncul dari ekspresi wajah sang teman. " Bener Wid... ini bikinan kamu?" . Wiwid hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Atas saran teman lain yang posisinya cukup menentukan di toko swalayan itu, Wiwid meminta bantuan salah satu pemasok untuk memasukkan hasil karya kreatifnya di toko tempat ia kerja. 

Sosok imut Vicky Indah 

Luar biasa sambutan konsumen. Wiwid sempat kewalahan menerima permintaan mereka. Untuk memenuhi permintaan itu, ia sering terlambat tidur dan kurang istirahat. Bayangkan, jam 2 atau 3 pagi baru berangkat tidur, paling lambat jam 8 harus bangun dan berangkat ke tempat kerjanya dengan berjalan kaki sekitar 500 m dari pondokan atau sekitar 10 menit. Sementara itu, waktu masuk kerja giliran pagi adalah  jam 9. Karena itu, jika pesanan sedang tinggi, rasa kantuk dan letih ia alami berkali-kali di tengah waktu kerja. Teguran demi teguran ia terima dari atasan. Akhirnya Wiwid harus menentukan pilihan: jadi karyawan atau pengusaha produk kerajinan kemasan. Ia pilih jadi pengusaha meski dalam bayang gelisah jika pesanan sedang sepi. Keputusan ini dilanjutkan dengan keputusan lain: kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan kedua orang tua kandungnya. Iapun harus siap menghadapi tantangan jarak Kebumen - Purwokerto dengan moda transportasi umum. Bus atau kereta api kelas ekonomi agar ngirit ongkos. Tantangan lain yaitu membuka peluang pasar di Kebumen yang tidak diketahui dan mungkin juga sikap orang tuanya yang bisa saja menyalahkan dirinya telah membuat keputusan drastis itu (bersambung). 

Suasana di ruang kerja