Jumat, 11 Juli 2014
MENGISI RUANG KOSONG DI RUMAH BUPATI - BAGIAN IV
Jumat, Juli 11, 2014
2014, Agustus, bazar relawan, ekonomi, kewirausahaan sosial, Kreatif, potensi rakyat, STIKes Muhammadiyah Gombong
No comments
Dalam tulisan sebelumnya telah diulas sekilas tentang pentingnya menggali dan mengembangkan potensi kreatif rakyat Kabupaten Kebumen agar dapat memberikan kontribusi nyata dalam menguatkan upaya diseminasi Ekonomi Kreatif seperti terpampang dalam situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen ini. Satu-satunya sub sektor yang senantiasa menghadirkan informasi terbarukan oleh pengelola kegiatan di lapangan adalah tentang sub sektor Radio dan Televisi yang diwakili oleh kehadiran dan acara-acara di Ratih TV maupun Radio In FM. Sektor lain, kalau ada informasi lain, tak pernah ada pembaruan sejak dua tahun terakhir.
Sebagai warga yang peduli, beberapa anggota Komunitas Sosial Media Kampoeng Relawan yang semuanya berlatar belakang sukarelawan Palang Merah, menggagas satu kegiatan terpadu yang bertumpu pada upaya pengembangan ekonomi kreatif bernama KARYA BAKTI untuk NEGERI di Kabupaten Kebumen, 11 - 17 Agustus 2014, beriringan waktu perayaan Idul Fitri 1435H dan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 69. Dua peristiwa yang sangat sayang jika tak diisi hal- hal bermanfaat. Kegiatan komunitas sosial media yang telah berkontribusi dalam beberapa hal bagi kemajuan dan kebaikan organisasi kemanusiaan PMI ini memanfaatkan momentum silaturahmi dengan menggelar Pelatihan Pertolongan Pertama dan Motivasi Pribadi Tangguh yang diampu penyusun buku Pertolongan Pertama terbitan PMI Pusat.
Ada kegiatan yang berkait dengan implementasi misi Komunitas Kampoeng Relawan yakni kewirausahaan sosial yang akan menghadirkan Yayasan Rumah Perubahan Prof. Dr. Rhenald Kasali, Berbagi pengalaman mengelola bisnis online oleg Astri Sulastri dari Satgana Store serta Kewirausahaan Berbasis Komunitas oleh Kampoeng Relawan dan Mutiara Handycraft. Mengawali sarasehan ini diadakan Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat yang akan diikuti oleh beberapa perwakilan provinsi dan peserta dari luar Kabupaten Kebumen. Bazar yang berlangsung di halaman depan Kampus STIKes Muhammadiyah Gombong, 11 - 16 Agustus 2014 ini dirancang dengan memadukan konsep ekonomi kreatit dan kewirausahaan sosial mengingat situasi lingkungan yang berdekatan dengan keberadaan sebuah rumah sakit.
Minggu, 27 April 2014
Konsistensi Ki Esser Karton
Minggu, April 27, 2014
artistik, Industri/ Ekonomi Kreatif, kardus, Ki Slamet Esser, permainan., sentuhan, tradisional
No comments
Selepas mengantar Kang Edie Bonggol Jagung menemui Ibu Ngatini di Desa Grenggeng Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen yang agak gelap sehabis diguyur hujan lebat sore hari menjelang maghrib, saya minta diturunkan di depan Masjid Agung Kebumen. Malam Minggu 26 April 2014 ini kebetulan di alun-alun ada pertunjukan musik oleh satu produsen sepeda motor yang tengah mengenalkan produk barunya. Dari kejauhan, sekilas nampak dua penyanyi perempuan tengah melantunkan lagu dangdut yang digemari. Entah berapa tahun tak pernah merasakan malam Minggu di alun-alun. Kaki beralaskan sendal jepit ini terus melangkah dan sesekali mata melihat suasana. Muda-mudi bercengkerama, Ada yang sambil menikmati hidangan dan... masya Allah. Di depan banyak orang, sepasang remaja berangkulan. Satu realitas malam yang hanya pernah didengar, kini ada di depan mata telanjang, Sangat jelas! Inikah sudut kecil rona wajah kotaku ???
Sambil menarik nafas panjang dan memohon ampun kepada Sang Maha Kuasa, kakiku terus menelusur jalan beton yang dibuat saat Rustriningsih jadi Bupati Kebumen. Hati ini agak bergolak. Akh...sudahlah! Bukan aku tak peduli lagi, tapi badan terasa kian bergetar. Hari ini waktu tidurku memang tak lebih dari tiga jam. Bersiap diri mengemban misi Himpunan Perajin Anyaman Indonesia (Hipando) yang ditinggalkan begitu saja oleh dua pengurus terasnya, Ketua Umum dan Sekretaris Umum.
Tak terasa hampir empat tahun berjibaku memelihara daya hidup organisasi bagi para perajin dan pengusaha kerajinan anyaman se Indonesia ini. Risiko menerima amanat para peserta Musyawarah Nasional pertama setelah Hipando dinyatakan resmi berdiri pada 11 September 2009 di Hotel Maharani Jakarta Selatan 27-29 Juni 2010. Entah ini sebuah akal bulus sang Ketua Umum yang pernah menjadi anak didikku dan ingin membenturkan dengan Sekretaris Umum karena terbelit masalah pribadi ? Aku bukan pengecut seperti dua orang muda yang telah banyak menikmati kemudahan dan kenikmatan pribadi lewat Hipando.
Kakiku tiba-tiba berhenti tepat di depan sebuah pikulan bambu berhias jajar wayang karton dan aneka permainan anak jaman dulu. Gundahku seketika lenyap dan berganti senyum gembira. Pasti pemiliknya si dalang wayang kardus, Slamet Esser, gumam hatiku nan riang. Tak salah lagi. Dia tengah memegang satu alat/ mainan yang saat kutanyakan namanya adalah Engkrek. Permainan ini mirip sekali dengan ringen, sejenis olahraga atau olah gerak di cabang olehraga senam, Pemain menggelantung di sebuah pipa yang ditopang dua tiang. Pesenam akan melakukan gerak artistik dengan sebagian atau seluruh alat gerak tubuhnya.
Permainan ala pesenam serba alat di arena olimpiade atau invitasi tertentu ini dilakukan dengan menekan kedua sisi serupa tiang yang dibuat dari bahan bambu tali. Ketika kuminya memeragakan semua gerakan secara perlahan agar dapat ditangkap dengan baik oleh kamera digitas mini yang senantiasa menemani perjalananku diberbagai suasana yang bernilai artistik maupun dokumentatif dalam tas selempat kecil pemberian teman kuliah di Jogja waktu itu. Inilah sebagian diantaranya yang bisa ditampilkan.
Semua peragaan dilakukan dengan mantap dan suka cita oleh Ki Dalang Wayang Kardus, Slamet Esser. Dari ekspresi wajah seniman serba bisa ini, Engkrek benar-benar hidup, Sesekali senyum simpulku mengembang seiring kepiawaian penjual mainan anak jadul (jaman dulu) yang mendapat sentuhan artistiknya. (bersambung)
Sambil menarik nafas panjang dan memohon ampun kepada Sang Maha Kuasa, kakiku terus menelusur jalan beton yang dibuat saat Rustriningsih jadi Bupati Kebumen. Hati ini agak bergolak. Akh...sudahlah! Bukan aku tak peduli lagi, tapi badan terasa kian bergetar. Hari ini waktu tidurku memang tak lebih dari tiga jam. Bersiap diri mengemban misi Himpunan Perajin Anyaman Indonesia (Hipando) yang ditinggalkan begitu saja oleh dua pengurus terasnya, Ketua Umum dan Sekretaris Umum.
Tak terasa hampir empat tahun berjibaku memelihara daya hidup organisasi bagi para perajin dan pengusaha kerajinan anyaman se Indonesia ini. Risiko menerima amanat para peserta Musyawarah Nasional pertama setelah Hipando dinyatakan resmi berdiri pada 11 September 2009 di Hotel Maharani Jakarta Selatan 27-29 Juni 2010. Entah ini sebuah akal bulus sang Ketua Umum yang pernah menjadi anak didikku dan ingin membenturkan dengan Sekretaris Umum karena terbelit masalah pribadi ? Aku bukan pengecut seperti dua orang muda yang telah banyak menikmati kemudahan dan kenikmatan pribadi lewat Hipando.
***
Kakiku tiba-tiba berhenti tepat di depan sebuah pikulan bambu berhias jajar wayang karton dan aneka permainan anak jaman dulu. Gundahku seketika lenyap dan berganti senyum gembira. Pasti pemiliknya si dalang wayang kardus, Slamet Esser, gumam hatiku nan riang. Tak salah lagi. Dia tengah memegang satu alat/ mainan yang saat kutanyakan namanya adalah Engkrek. Permainan ini mirip sekali dengan ringen, sejenis olahraga atau olah gerak di cabang olehraga senam, Pemain menggelantung di sebuah pipa yang ditopang dua tiang. Pesenam akan melakukan gerak artistik dengan sebagian atau seluruh alat gerak tubuhnya.
Permainan ala pesenam serba alat di arena olimpiade atau invitasi tertentu ini dilakukan dengan menekan kedua sisi serupa tiang yang dibuat dari bahan bambu tali. Ketika kuminya memeragakan semua gerakan secara perlahan agar dapat ditangkap dengan baik oleh kamera digitas mini yang senantiasa menemani perjalananku diberbagai suasana yang bernilai artistik maupun dokumentatif dalam tas selempat kecil pemberian teman kuliah di Jogja waktu itu. Inilah sebagian diantaranya yang bisa ditampilkan.
Jumat, 18 April 2014
Kewirausahaan Sosial Pada Kegiatan Ekonomi Berbasis Komunitas (2)
Jumat, April 18, 2014
Industri/ Ekonomi Kreatif, komunitas, media sosial, OVOP, PMI, rembug relawan, wirausaha sosial
5 comments
Kewirausahaan
Sosial
1. Definisi
Umum :
Kewirausahaan Sosial adalah disipllin ilmu yang
menggabungkan antara kecerdasan berbisnis, inovasi dan tekad untuk maju ke
depan.
2. Paul
C. Light:
Kewirausahaan Sosial adalah individu, kelompok,
organisasi, jejaring atau aliansi yang berupaya secara berkelanjutan dengan
cara berbeda dalam mengatasi masalah sosial signifikan.
Kegiatan Ekonomi Berbasis Budaya/ Komunitas:
1.
OVOP (One Village One Product)
Dicetuskan oleh mantan Gubernur Perfektur Oita Jepang
berdasarkan hasil pengalaman di MITI (Kementerian Industri dan Perdagangan
Jepang) dan kondisi faktual setempat yang tidak memungkinkan dikembangkan
dengan pendekatan industri berteknologi tinggi. Pilihannya, memanfaatkan
potensi lokal yang dapat diangkat sebagai produk/ jasa bernilai tambah tinggi
untuk pasar lokal dan khususnya global.
Langkah pertama adalah mengubah pendekatan pembangunan
ekonomi konvensional yang berbasis GNP (Gross National Product) menjadi GNS (Gross
National Satisfactory) dan menyodorkan
tiga formula tentang OVOP yang harus memenuhi kriteria dasar:
- Local yet global (kekuatan lokal yang berpotensi global) Ã produk/jasa yang mengandung kearifan lokal namun dapat dikembangkan sampai pasar global
- Self Reliance and Creativity (penghargaan tinggi atas kearifan budaya lokal yan mengandung nilai-nilai kreativitas;
- Pengembangan Sumber Daya Manusia
Kunci Sukses OVOP
Ø Local residents’ awareness for
their own potential and their region’s resources
Ø Recognition of treasures in
the area
Ø Continuity is Power
Ø High-value-added Products
Ø Secured sales route
Ø Human Resources Development.
2.
Ekonomi Kreatif
Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan
informasi dan
kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya
Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.
Ekonomi
kreatif sering disebut sebagai revolusi industri gelombang ke 4. Ada 15 jenis
(sub sektor) di dalamnya yaitu:
- Kerajinan
- Kuliner
- Seni pertunjukan
- Musik
- Permainan kreatif
- Busana/ fesyen
- Teknologi Informasi dan Komunikasi
- Periklanan
- Radio dan Televisi
- Fotografi – Video dan Film
- Desain
- Arsitektur
- Penerbitan dan percetakan
- Pasar barang seni
- Riset dan pengembangan.
Pelaku Ekonomi
Kreatif:
1. Artis – Seniman dan perajin
2. Guru – Dosen – Peneliti
3.
Advokat – Akuntan – Penasihat Investasi
4. Teknisi dan para
perekayasa
5. Para profesional
6. Manajer Rumah Tangga
7. Sukarelawan PMI
8. Dan lain lain.
Jumat, 11 April 2014
Kewirausahaan Sosial Pada Kegiatan Ekonomi Berbasis Komunitas (1)
Jumat, April 11, 2014
2014, Agustus, Kampoeng Relawan, Kebumen, kemandirian, komunitas, media sosial, PMI, rembug relawan, seminar, wirausaha sosial
No comments
Selayang
Pandang
Menyambut datangnya sang fajar baru di tengah arena Rembug Relawan PMI ke 2 yang direncanakan akan berlangsung 15-17 Agustus 2014 di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah yang di dalamnya akan ada Seminar atau Sarasehan Kewirausahaan Sosial, saya ingin menyampaikan beberapa pokok pikiran. Tema kewirausahaan diangkat sebagai satu issue besar karena potensi kewirausahaan yang ada di dalam Komunitas SukaRelawan PMI sangat besar dan belum digarap dengan sistematis.
Tujuan utama pembahasan adalah untuk memetakan potensi kekuatan para SukaRelawan PMI yang selama ini telah membuktikan konsistensi memelihara sikap mandiri sesuai Prinsip Dasar Kemandirian dalam Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Perhimpunan Nasional kepalangmerahan (PMI) adalah organisasi kemanusiaan yang berbasis kesukarelaan dan partisipasi masyarakat (volunteersm and community base). Memasuki era baru pasca Musyawarah Nasional 2014, SukaRelawan PMI harus mampu menjadi tulang punggung selain sebagai ujung tombak dan agen perubahan dalam organisasi PMI masa depan. Kewirausahaan sosial merupakan sebuah usulan terpilih karena memenuhi kriteria itu.
Tulisan ini disusun berseri dan akan menjadi satu dari beberapa bahan tulisan yang akan dipaparkan oleh pemrasaran lain dalam seminar atau sarasehan nanti. Semoga bermanfaat.
Kebumen, 11 April 2014
Komunitas Relawan PMI Sosial Media
KampoengRelawan
Tetua Adat
Toto Karyanto
- Pengantar Diskusi
Kewirausahaan
Sosial atau Social-preneurship adalah konsep kewirausahaan umum
(entrepreneurship) yang mendapat muatan sosial di dalamnya. Selama ini, kita
mengenal kewirausaha merupakan pendekatan ekonomi yang digunakan untuk
mengatasi masalah pengangguran dan menggiatkan partisipasi warga masyarakat
secara individual dalam menggali serta menguatkan sumber daya internalnya dalam
suatu kegiatan ekonomi bernilai tambah.
Dalam pendekatan
kewirausahaan sosial, warga masyarakat diharapkan berhimpun dalam
kelompok-kelompok kecil (5 – 25 orang), sedang ( >25 – 50) dan besar >50
orang. Biasanya, ada satu atau beberapa orang yang bertindak sebagai pemimpin
karena memiliki sumber daya memadai di bidang intelektual (gagasan, konsep,
metode, sistem), dana dan akses produksi maupun pasar. Para pemimpin itu
bertindak sebagai pembuka jalan, pembimbing (motivator), pelatih dan
sebagainya.
Sampai saat ini
konsep dasar kewirausahaan sosial masih berkembang sesuai situasi dan kondisi
lingkungannya. Pada umumnya, seorang wirausaha berperan baik
secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan
dalam mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan
kepercayaan diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal,
seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari
kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan
oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.
Pakar ekonomi Dr. Rhenald Kasali,
pernah mengatakan bahwa dampak
globalisasi menjadikan keanggotaan suku/ komunitas manusia tidak lagi ditandai
oleh aspek regional atau kewilayahan. Namun
justru oleh grup atau
kelompok-kelompok di jejaring digital seperti facebook, twitter dan
semacamnya. Hal itu tentu bukan tanpa alasan. Seperti kita bisa saksikan
sehari-hari, generasi masa kini, jauh lebih sering dan intens berhubungan dengan
rekan-rekan di dunia maya-nya dibandingkan dengan lingkungan sosial di
sekitar rumahnya. Sehingga seakan-akan suku atau anggota keluarga mereka
adalah kelompok dalam jejaring sosial tersebut, yang dapat terdiri
dari invididu-individu yang terpisah ratusan kilometer.
Informasi mengalir dan senantiasa terbarukan (update). Potensi semakin redupnya budaya bangsa dan
budaya daerah kita sendiri cenderung menguat. Dengan kata lain, generasi muda
Indonesia terancam menjadi tamu bagi
budayanya sendiri, karena mereka mungkin jauh lebih hafal dan fasih budaya dan
gaya hidup dari negeri seberang.
Ada dua sektor
kegiatan ekonomi yang berbasis budaya. Pertama, OVOP (One Village One Product).
Pendekatan sistem pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan budaya yang
mengesplorasi sumber-sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi
dan berdaya jangkau global. Pendekatan ini digagas dan dikembangkan oleh
Gubernur Perfektur Oita, Dr. Morihiko Hiramatsu. Berbekal pengalaman bekerja di
MITI Jepang, beliau mengubah pendekatan klasikal GNP dengan GNS (Gross National
Satisfaction). Inilah yang menjadi dasar semangat OVOP. Dari maksi menjadi
mini. Kini, hampir semua anggota Asean telah mengaplikasikan pendekatan ini
dengan cara dan metoda yang berbeda. Misalnya, Thailand yang memanfaatkan
internet masuk sampai tingakat desa agar informasi kegiatan ekonomi produktif
warganya senantiasa terbarukan.
Kedua,
pengembangan potensi ekonomi berbasis kreativitas yang dikenal dengan nama
ekonomi atau industri kreatif. Ada 15 subsektor yang tercakup di dalamnya yaitu
kerajinan, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, permainan kreatif, TIK,
busana, fotografi-video-film, radio dan televisi, pasar barang seni, percetakan
dan penerbitan, riset dan pengembangan serta kuliner. Volume, sebaran dan kontribusi kegiatan
ekonomi kreatif ini cenderung kian meningkat. Apalagi dengan hadirnya pusat-pusat
(kota) kreatif dan Sentra Kreatif Rakyat yang memadukan aktivitas pariwisata
dan pengembangan aktivitas ekonomi berbasis budaya lokal.
Kawasan
Perdagangan Bebas Asean (AFTA) 2015 sudah ada di depan pintu rumah kita,
Indonesia. Banyak pihak telah bersiap diri menyambutnya. Pemerintah menyatakan
optimis kita akan mampu melalui perjalanan awalnya karena berbagai persiapan
telah dilakukan. Sementara itu, dunia usaha melalui Ketua Umum Asosiasi
Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, justru bersikap sebaliknya. Terlepas
dari kontroversi tadi, sebagai warga masyarakat umum, kita boleh bersikap
apapun. Dan kondisi apapun yang akan terjadi di dalam rumah Indonesia kelak,
kita harus siap dengan risikonya.
AFTA atau ada juga yang menyebut ACFTA (Asean dan China)
adalah sebuah momentum yang berpeluang menggerakkan beragam potensi ekonomi
kreatif masyarakat. Subsektor industri (ekonomi) kreatif itu merupakan salah
satu strategi pembangunan ekonomi dan industri yang
bisa diandalkan selain sektor manufaktur dan jasa. Apalagi, industri berbasis
ide, teknologi, seni, dan kekayaan intelektual itu memiliki banyak sentra
industri kreatif yang potensial. Misalnya, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Pekalongan,
Bali, dan lainnya.
Dirjen Pengembangan Ekonomi Nasional
Kementerian Perdagangan Hesti Indah Kresnarini mengutarakan, industri kreatif
akan berkembang pesat setiap tahunnya. Pertumbuhannya dominan dikontribusi
fesyen dan kerajinan. Pemerintah memiliki cetak biru pengembangan industri
berbasis ide yang terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, periode 2010-2015,
disebut tahap penguatan ditargetkan bisa tumbuh sekitar 11%-12% setiap
tahunnya. Sementara tahap kedua, periode 2016-2025, disebut tahap akselerasi
diharapkan bisa tumbuh sekitar 12%-13%. [1].
Berdasarkan angka statistik, pada 2013 lalu kontribusi
ekonomi kreatif terhadap perekonomian sebesar Rp 641,8 triliun atau mencapai 7%
PDB nasional. Ekonomi Kreatif juga mencatat surplus perdagangan selama periode
2010 hingga 2013 dengan nilai surplus sebesar Rp 118 T. Kontribusi devisa dari
sektor ekonomi kreatif mencapai 11, 89 Milyar USD, sehingga secara total sektor
pariwisata dan ekonomi kreatif menyumbang devisa sebesar 21,95 Milyar USD atau
berkontribusi sebesar 11,04% pada total devisa Indonesia. [2].
Bagaimana dengan perkembangan OVOP di Indonesia? Sampai
saat ini masih terdapat kesulitan memperoleh data aktual yang dapat diandalkan
baik dari Kementerian Koperasi dan UMKM maupun Badan Pusat Statistik. Sehingga
tidak ada data pembanding yang dapat dipakai untuk membuat prediksi maupun
analisis, minimal dengan pendekatan SWOT (strenght, weakness, opportunity and
threath). Kalaupun ada data yang dapat digunakan, biasanya berasal dari data
sekunder atau tersier yang akurasinya tidak memadai.
Meski demikian, ada keyakinan bahwa OVOP adalah satu
pendekatan ekonomi yang memiliki banyak kelebihan. Terutama berkaitan dengan
potensi mengangkat dan mengembangkan produk-produk lokal berbasis budaya yang
mampu bersaing di pasar global. OVOP seperti halnya ekonomi kreatif, saat ini
ditangani oleh sedikitnya 3 (tiga) kementerian yaitu Kementerian Koperasi dan
UMKM, Kementerian Patiwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian
Perindustrian dalam kordinasi kewenangan Kemenkop dan UMKM.
Sabtu, 22 Maret 2014
OTOP (One Tambon One Product) Movements in Thailand
Sabtu, Maret 22, 2014
2014, Asean, Indonesia, March, Ministery, OTOP, OVOP, Workshop, Yogykarta
7 comments
Presented by: Miss Nisakorn Jungjaroentham
Department of Industrial Promotion
Ministry of Industry Thailand
1. Background
In 2001, Thai government adopted Japan’s
principle, well-known as One Village One product (OVOP) which was started in
Oita prefecture in 1969 by the initiation of Mr.MorihikoHiramatsu, the governor
of Oita. In that time, the Sufficient Economy Philosophy has been
initiative since HisMajesty King Bhumibol Adulyadej had been brought up in the speech throughout 68
years of the thrones.
The OTOP concept isregarded about the
usage ofusing capacity of local communities, producing from local wisdom, and applying
raw materials locally availableat concept will assist to create community business,
to reduce migration of rural people, and to encourage the local communities not
to their communities.OTOP product does not mean only physical product but it
also mean concerning about natural resources and environment conservation, Thai
local wisdom preservative tourism, art and culture, norm, knowledge exchange
for producing OTOP quality product.
As declared to the Thai parliamentin 2001,
the OTOPimplementation has the following objectives:
- To create jobs and increase income to the communities.
- To strengthen communities towards self-reliance;
- To promote local wisdom, use of local materials and local as main resources;
- To promote human resource development and capacity-cultivation of people in communities;
- To promote creative thinking of communities in product development in live with local lifestyle and objectives.
The Sufficiency Economy Philosophy
framework comprisesthree components and two underlying conditions First, Sufficiency
entails three components: Moderation, Reasonableness, and requirement for a Self
immunity system, i.e. the ability to cope with shocks from internal and
external changes.Second, two underlying conditions necessary to achieve.
Sufficiency are Knowledge andMorality.
‘Sufficiency Economy’ requires breadth and thoroughness in planning,carefulness
in applying knowledge, and the implementation of those plans. As for
theMoral/Ethical condition, ‘Sufficiency Economy’ enforces the conditions that
people areto possess -- honesty and integrity -- while conducting their lives
with perseverance,harmlessness and generosity.
2. Organizational Structure
By virtue of the Prime
Minister’s regulation on the National OTOP administrative committee
2001 (NOAC) and amendment in 2002 was established in order to implement the
OTOP project/program in line with the policy. A Deputy Prime Minister was
assigned by the Prime Minister to be the Chairman of the NOAC. The ministers
and representative of all related parties are committees. The Perm anent
Secretary of Prime Minister’s officer is committee and secretary and the
director General of the Community Development Department is committee and
assistant secretary. Main duties of NOAC are establishing policy, setting
strategic, cooperative with all related parties, support local Administrative
Agencies to join OTOP, and supporting Community Enterprise work.
Later on, there are driving mechanisms
including 6 sub-committees and ad hoc working groups to undertake activities in
cooperation of public and private sector, and academia of several fields, such
as:
1. Marketing Promotion Subcommittee
2. Food and Beverage Development Subcommittee
3. Fabric and Apparel Development Subcommittee
4. Decorative items and Souvenirs
Development Subcommittee
5. Herbal Product Development Subcommittee
6. Regional One Tambon One Product Subcommittee (at regional and Province
)
3. Important implementation of OTOP Promotion
The Thai Government has been rearrange,
improve and develop the various program for OTOP production Through NOAC and
Sub committees The office of the permanent Secretary of The Prime Minister’s office
has cooperated with other government agencies in order to integrate all activities and organize as the operational plan
for each fiscal year such as
3.1.
OTOP product Champion
Currently,
NOAC has performed OTOP Product Champion Project, assigned The Minister of Interior
as the chairman of the project,the objectives, of this project consist of
providing opportunity for local product be developed in quality, and
standardization for expanding via selection of best OTOP product from
provincial, regional, and nation level. Furthermore, creation of the local
link-global reach is amast.
The OTOP
product Champion of 2012 was organized with 10,090 products sent to take part
in the contest of which the largest group of 2,762 products or 27.38 % was appraised
at the level of 3 star while 3,448 products or 34.18 % was appraised at the
level of 4 star 1,628 products or 16.14 % was appraised at the level of 5 star.
Community Product Standards
In 2003, Thai Industrial standards Institute, Ministry
of Industry set up Thai Community product Standard (TCPs) and
mark to serve as qualification requirements for the product. In addition,
consultation is provided to support.
3.2.
Ps Development Program
The government of Thailand has been supporting the OTOP
development related with 3Ps (People, Product, and Process) by technical
assistance/experts in quality control, product or package design, education and
training, case study and consultation. This program has been set up by 4 subcommittee (Food and Beverage
Development Subcommittee,Fabric and Apparel Development Subcommittee, decorative
items and Souvenirs Development Subcommittee and Herbal Product Development
Subcommittee)
3.3
Marketing Promotion
1. OTOP midyear and OTOP City Trade Fair this major even of the country
under the theme of Thai wisdom wore Organized to be an exhibition and trade
fair for OTOP products which were selected as excellent OTOP or OTOP Product
Champion (OPC) of 77 provinces sub districts nationwide.
2. Establishing outlets for OTOP products including outlets in
central “OTOP in the City”, regional areas.
3. Setting up OTOP kiosks, shelves, and corners in department
stores shops gas station and airport.
4. Organizing trade fairs consisting of more domestic and
international trade fairs of local and oversea events.
3.4
OTOP Village Champion (OVC)
Implemented in 2006, the project of OTOP
Village Champion contest was based on the concept that OTOP products, as part
of locality’s identity culture, tradition and way of life, they could be linked
with tourism and related services.
The OVC contest was composed of 4 categories with criteria as
follows;
1. Community Excellence (P-people)
2. Product Development Excellence (P-product)
3. Tourist Destination Excellence (P-place)
4. Uniqueness Preservation Excellence (P-preserve)
3.5
Network Building for Communities’ strength
Entrepreneur Network started in 2004,
OTOP producer network was implemented. By promoting and
supporting the establishment of the OTOP NetworkCommittees at the level of
district, province, region, and country. Network of Community Knowledge was promoted to create the
linkages of communities’ body of knowledge.ie, local educational
Institutes, local agencies with special expertise, local intellectuals so that
they could support one another.
4. Result
of Implementation
1. Economic Dimension.
Before commencing OTOP,people earned income from the sale of
community-bases products in year 2001 with the amount of 215,549,534 Baht (us$ 6.74
million approximately,1 us$=32 Baht) after launching of the OTOP program in
September 2001,people earned more income from the community-based product. The
sale of year 2002 reached 16,837,140,742 Baht (us$526.16 million approximately)
and the sale of year 2012 reached 4,112 billion Baht (us$ 131,584 billion
approximately).
Moreover,OTOP
program was a great help in creating jobs and occupations to communities of
more than 22,762 villages nationwide as it created 36,236 OTOP producers and
they were over 1,268260 employees, especially housewives and the OTOP members
elders that enjoyed the increase of their household’s earnings.
2. Social Dimension
People have greater sense of Thai values; cherish identity,
culture, local wisdom, as turning to use more Thai product and consuming more
communities-based products. Besides, people in communities are able to
think/develop local wisdom, and usage of local materials and labor in
developing community-based product. So, they will have a lot more chances to
talk and confer and exchange their ideas such constructive atmosphere brought
along good community relationship with excellent spirit of interdependence leading
to the building of community networks.
3. Environmental Dimension
People are aware of environmental issues and participate more
in natural resources and environmental conservations.
4. Development Dimension
The OTOP program create an integrative working approach, multilateral
cooperation and coordinated effort not only among the government agencies but
also among educational institute, private sector, local public sector and
people to develop community-based products as prescribed in the goals and objectives
of this program.
Key successful Factors
- Effective mechanism system and strong integrative management of budget/work/human resource plans are observed by all government agencies
- Provision for education, skills and quality as well as products development are channeled to communities with the aim of helping them to be able to perform individual thinking and action.
- Network of Communities are very strong and create the linkages of communities’ body of knowledge,i.e. local educational institutes, local agencies with special expertise and local intellectuals.
- Co-working among the public agencies both in central and local, private sector, educational institutes and people in the communities.
Jumat, 21 Maret 2014
Mengisi Ruang Kosong Di Rumah Bupati Kebumen - Bagian III
Jumat, Maret 21, 2014
2010, Aula PGRI, FoPSeT, Gelar Panggung Teater, Kebumen, komunitas, oase budaya kontemporer, politik, seni teater, seri terakhir
No comments
Siluet tampilan Teater Ego Kebumen. |
Segmen 1 : Gelar Panggung Tetaer II 2010
Bagian 2 : Pertunjukan Hari Kedua
Pentas
hari ke dua yang diharapkan sebagai malam puncaknya Gelar Panggung Teater 2010
dibuka dengan penampilan kolosal dan garapan yang cukup rapi dari Teater
Spenven. Berikutnya adalah tampilnya tiga dara Tetrasa tanpa menyebut lakon
tertentu. Cukup hidup untuk skala pemula. Penampilan ke tiga adalah dari Teater
Didik STAIN Purwokerto dalam alur cerita yang mengalir. Diawali perubahan
setting lampu, salah satu pemain membawakan sinopsis. Nampaknya, mereka
sangat apresiatif atas acara GPT 2010. Dengan membawa pemain dan crew panggung
sekitar 40 orang, apresiasi penonton sangat baik. Saya tidak memiliki
kesempatan yang cukup untuk mengikuti seluruh jalannya pentas teater ini karena
harus menggantikan posisi tugas kepanitiaan yang sebagian besar anggotanya akan
mementaskan lakon Kalijaga karya Kang Kaji Habeb setelah pentas Teater Didik.
Ketidak-fokusan itu membuat saya sangat banyak kehilangan referensi untuk
melengkapi catatan ini. Meski demikian, dilihat dari apresiasi penonton
dan komentar teman-teman yang sempat saya hubungi, tampilan para mahasiswa/i
STAIN Purwokerto ini pantas diberi acungan jempol.
Di
tengah rasa lelah sebagai anggota panitia, Teater Ego Kebumen menutup pentas
GPT 2010 dengan lakon Kalijaga. Putut AS yang berperan sebagai Kalijaga
mengawali dengan tarian yang dibawakan secara lentur. Melambangkan kehalusan
perilaku sang wali ke 9 dari deretan Walisanga di antara arogansi Abdul Jalil
yang diperankan Ucok HaeR. Dialog antara Kalijaga dan Abdul Jalil
ini sungguh hidup. Blocking panggung nampak sempurna dan sangat
menghidupkan suasana. Vocal Ucok yang nge-bass mendukung intonasi nada-nada
lembut yang keluar dari mulut Putut AS. Tak kalah menariknya adalah
penampilan aktor dan sekaligus Sutradara Anto Batossae. Dengan penguasaan
dialog dan kelincahan gerakan pemeran Gatoloco ini seolah menutup celah seluruh
sisi panggung atas maupun bawah yang berbatasan langsung dengan penonton dalam
format lesehan. Sementara itu, Raja Brawijaya yang diperankan Theodeka memberi
kesan hidup dalam panggung seluas atas 60m2 (6 x 10m). Tata lampu yang
berkekuatan 1500 watt sedikit menghambat optimalisasi penampilan mereka.
Diakhiri dengan siluet, Teater Ego Kebumen memang pantas mendatangkan decak
kagum penonton yang datang dari beragam kalangan. Sekitar 250 penonton seolah
tersihir oleh penampilan “anak-anak zaman Kebumen”. Sebutan yang diberikan oleh
Anto Batossae kepada teman-teman komunitasnya.
Slamet Esser. |
Catatan
Khusus
Sebagai
wahana ekspresi dan apresiasi budaya kontemporer, GPT 2010 telah memenuhi
sasaran utamanya. Sedikit dihantui rasa cemas akan masuknya nuansa politik
menjelang Pilkadal Bupati/ Wakil, seluruh mata acara yang direncanakan dapat
mengalir cukup lancar. Memang ada sampah yang mengikuti aliran itu, tetapi
dapat disingkirkan dengan semangat kebersamaan dan edukatif. Kendala klasikal
dana disiasati dengan dedikasi oleh Panitia dengan memaksimalkan potensi yang
ada saat itu. Sanggar Ilir Ikatan Mahasiswa Kebumen di Yogyakarta (Imakta)
pantas mendapat apresiasi terbesar selain respon positif dari semua Komunitas
Teater di Kebumen yang telah berkontribusi dalam persiapan dan pelaksanaan
acara. Juga para donatur perorangan yang mendukung acara ini.
Pada
sesi evaluasi, saya sengaja mengemukakan wacana untuk menghentikan seri
kegiatan GPT agar berganti wajah dan penampilan. Juga memberi kesempatan bagi
Komunitas lain untuk menggelar acara yang lebih dalam segala hal dari pada
acara GPT yang hanya mampu diselenggarakan setahun sekali. Sayang sekali,
sebagaimana telah diprediksi, tidak ada jawaban pasti atas wacana itu. Bahkan
muncul beberapa hal yang menggelikan ketika tawaran ini disambut dengan bahasa
nostalgis. Apapun respon dan risikonya, wacana ini akan terus dikumandangkan
sampai ada jawaban pasti bahwa proses pembelajaran lewat kemasan acara Gelar
Panggung Teater sudah saatnya diputuskan efektivitasnya.